Daftar Isi

Friday, November 6, 2020

Penutup

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Penutup


Romaharshana berkata kepada para resi yang telah berkumpul di hutan Naimisharanya, "Beberapa tahun yang lalu, Vedavyasa yang agung, telah menceritakan Adi Purana kepada para resi. Para rsi telah tercerahkan mempelajari kebijaksanaan yang terkandung dalam Brahma Purana yang agung. Apapun yang Vedavyasa ceritakan kepada para rsi itu, telah saya ceritakan kepada anda sekalian. Semua orang harus mendengarkan cerita Purana ini, termasuk bagi seorang yang sedang menjalani rumah tangga maupun seorang pertapa".


Jika dia, seorang brahmana yang mendengarkan yang mendengarkan cerita Brahma Purana ini akan menjadi brahmana yang terpelajar. Jika dia seorang ksatria akan menjadi ksatria yang akan membawa kejayaan. Jika dia waisya maka dia akan memperoleh kaya. Jika dia sudra dia akan memperoleh kebahagiaan. Seseorang yang mendengarkan cerita Purana ini dengan setia akan memperoleh apa yang dia inginkan. Pahala dari mendengarkan cerita Purana ini adalah lebih besar dari pada mengunjungi tempat suci (tirtha) yang paling suci atau melakukan yajna yang paling sulit. 


Romaharshana memberkati para rsi dan kembali ke kediamannya, dengan memberikan pesan singkat bahwa rahasia Purana ini tidak boleh dibocorkan kepada seorang atheis yang tidak percaya Tuhan.



Saturday, October 17, 2020

Yoga

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Yoga


Kata yoga berarti bersatu. Bersatu yang dimaksud disini adalah suatu bentuk meditasi yang menyatukan atman (jiwa mahluk hidup) dengan paramatman (jiwa ilahi atau sering disamakan juga dengan brahman/intisari atau esensi ilahi).


Seorang praktisi yoga harus mempelajari Purana (cerita-cerita dalam Weda). Dia harus berlatih mengendalikan hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dia makan. Makanan terbaik yang bisa ia makan contohnya yogurt, buah-buahan, sayur-sayuran, dan susu. Yoga harus dilatih di tempat yang tenang. Tempat itu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Seharusnya juga di tempat itu tidak ada suara-suara yang dapat mengganggu praktisi tersebut.


Yoga juga harus dilakukan dengan sikap tubuh yang baik (asana). Praktisi harus mengkonsentrasikan seluruh pikirannya pada ujung hidung. Dia membayangkan suatu bentuk brahman. Yoga ini akan berhasil jika seseorang mampu melepas (tidak terpengaruh apapun) dan mengendalikan indra-indranya dengan lengkap.


Jika yoga dilakukan dengan tepat, maka akan muncul pengetahuan yang mana paramatman itu sama berada di semua bentuk kehidupan (mahluk hidup). Berpikir bahwa mahluk hidup itu berbeda satu dengan lainnya adalah suatu ciri bahwa seseorang itu telah jatuh dalam ilusi. Semua elemen memiliki paramatman yang sama.





Tuesday, August 25, 2020

Chandala dan Brahmaraksasa

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Chandala dan Brahmaraksasa


Chandala adalah kasta orang buangan.  Di pinggiran kota bernama Avanti, tinggallah seorang chandala. Di Avanti ada sebuah kuil Wisnu dan chandala tersebut adalah pemuja dewa Wisnu. Chandala itu adalah juga seorang penyanyi yang bagus. Ekadashi tithi adalah hari kesebelas dalam perhitungan hari berdasarkan Bulan. Setiap bulan, pada ekadashi tithi, Chandala akan berpuasa di siang hari. Pada malam hari dia akan pergi ke kuil Wisnu dan menyanyikan pujian untuk dewa Wisnu. Dia tidak pernah gagal untuk menjalankan ritual ini.


Sungai Kshipra (Shipra) mengalir melalui kota Avanti. Pada suatu malam tertentu, pada ekadashi tithi, Chandala itu pergi ke tepi sungai untuk mengumpulkan bunga untuk menyembah dewa Wisnu. Di tepi itu, sungai ada sebuah pohon dan di pohon itu hiduplah seorang brahmarakshasa (setan). Begitu setan itu melihat Chandala, ia langsung ingin melahapnya.


"Tolong jangan malam ini. Saya harus menyembah dewa Wisnu sepanjang malam. Biarkan saya pergi sekarang", kata Chandala itu.


"Tidak. Saya belum makan selama sepuluh hari dan saya sangat kelaparan, saya tidak bisa membiarkan kamu pergi", kata setan itu.


"Kumohon, biarkan aku pergi. Saya berjanji bahwa saya akan kembali setelah doa saya selesai. Anda kemudian akan bebas melakukan apa saja dengan saya", kata Chandala.


Setan itu akhirnya melepaskan Chandala itu. Chandala itu kemudian pergi ke kuil Wisnu. Dia memuja dewa Wisnu dan menghabiskan malam dengan menyanyikan pujian Wisnu. Keesokan harinya, dia kembali ke iblis itu.


"Saya terkejut. Kamu sangat jujur. Anda tidak seharusnya menjadi Chandala.  Anda harus menjadi seorang brahmana.  Jawab pertanyaanku. Apa yang kamu lakukan sepanjang malam?", kata iblis itu.


"Aku berdiri di luar kuil Wisnu dan menyanyikan pujian kepada-Nya", jawab Chandala.


"Sudah berapa lama kamu melakukan ini?", tanya iblis itu.


"Selama dua puluh tahun", jawab Chandala.


"Anda telah memperoleh banyak Punia (simpanan jasa kebaikan) melalui ini, kata iblis itu. Tolong beri aku satu malam punia. Saya adalah orang berdosa", kata setan itu.


"Tidak, saya tidak akan membagikan Punia saya kepada siapapun. Saya telah memberikan Anda tubuh saya, makanlah saya jika Anda mau. Tapi Punia tetap milik saya sendiri", kata chandala.


"Baiklah kalau begitu beri aku dua jam Punia saja. Saya adalah orang berdosa", kata setan itu.


"Saya telah memberitahumu bahwa aku tidak akan memberimu Punia milik saya. Tapi sebenarnya dosa apa yang sudah anda lakukan?", kata Chandala.


Brahmaraksasa kemudian mulai menceritakan kisahnya.


Nama asli Brahmaraksasa itu adalah Somasharma dan dia merupakan putra dari Devasharma. Devasharma merupakan seorang brahmana yang baik. Sedangkan Somasharma berjalan di jalan kejahatan. Seorang brahmana tidak diizinkan untuk bertindak sebagai pemimpin upacara pengorbanan apabila dia belum melakukan serangkaian upacara sakral (upanayana). Tetapi Somasharma bertindak sebagai pemimpin upacara walaupun dia belum melakukan upanayana. Sebagai akibatnya, saat dia sudah mati, dia menjadi setan. Chandala itu pun tergugah hatinya mendengar kisah sedih itu dan akhirnya dia pun memberikan sebagian punianya kepada setan itu. Setan itu pun menjadi senang dan mengungkapkan rasa terima kasihnya. Setan itu pun kemudian pergi ke suatu tempat suci (tirtha) dan melakukan penebusan dosa. Dengan demikian setan itu mencapai pembebasan.


Setelah itu, chandala kembali pulang ke rumahnya. Dia kemudian melakukan perjalanan mengunjungi semua tempat tempat-tempat yang suci (berziarah). Di suatu tirtha (tempat suci), dia tiba-tiba ingat kisah hidupnya dikehidupan yang lalu.


Dia dulunya adalah seorang pertapa yang berpengalaman dalam Weda dan banyak sastra. Dia dulunya hidup dari meminta-minta sedekah. Saat dia sudah mendapatkan sedekah, saat itu di dekatnya ada pencuri yang akan mencuri sapi. Sapi itu pun mengamuk dan mulai menggosok-gosok kuku kakinya sehingga muncul debu disekitarnya. Debu itu jatuh ke makanan dan pertapa itu membuang sedekahnya karena merasa jijik. Karena dia telah membuang sedekah, dia dilahirkan sebagai Chandala. Setelah melakukan penebusan dosa, akhirnya dosa-dosanya pun diampuni.


Sunday, August 23, 2020

Empat Warna Ashrama dalam Brahma Purana

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Empat Warna Ashrama dalam Brahma Purana


Ada empat warna (kelas) manusia. Keempat warna tersebut adalah brahmana, ksatria, waisya dan sudra.


Tugas seorang brahmana adalah memberikan berkat, melakukan tapasya, menyembah dewa, melakukan yajna dan mempelajari Weda. Untuk mencari nafkah, brahmana diberi wewenang untuk mengajarkan dan memimpin upacara pengorbanan (yajna). 


Tugas seorang ksatria adalah mengangkat senjata untuk melindungi dunia ini dari segala bentuk kejahatan, memberi sedekah dan melakukan pengorbanan (yajna). Seorang ksatria juga diizinkan untuk mempelajari sastra. 


Tugas seorang waisya adalah bertani, beternak, dan berdagang. Selain itu, waisya harus memberikan sedekah, melakukan pengorbanan (yajna) dan mempelajari sastra. 


Tugas sudra adalah melayani brahmana. Sudra juga bisa menjadi pemilik toko dan pengrajin.


Pada saat-saat darurat, seorang brahmana diperbolehkan menjalani mata pencaharian para ksatria atau waisya untuk mencari nafkah. Begitu juga sama halnya dengan seorang ksatria, dia diijinkan untuk mengambil mata pencaharian dari waisya atau sudra dan seorang waisya diijinkan untuk mengambil mata pencaharian dari sudra.


Selain empat warna, ada juga empat ashrama (empat jenjang kehidupan). Yang pertama dikenal sebagai brahmachari (jenjang kehidupan menjadi mahasiswa). Selama periode ini, individu tersebut menghabiskan hari-harinya dengan gurunya dan mempelajari weda dengan baik. Dia harus melayani gurunya dengan cara yang tepat dan hidup dari sedekah. 


Asrama berikutnya adalah garhasta (jenjang hidup berumah tangga). Individu tersebut akhirnya memasuki masa menikah dan memiliki anak. Dia melayani para dewa, para orang bijak (guru/rsi/pertapa), para leluhur dan para tamu. Seseorang yang berumah tangga memberikan sedekah untuk orang bijak (rsi/guru/pertapa). Itulah alasan mengapa jenjang berumah tangga itu sangat penting. 


Asrama ketiga dikenal sebagai wanaprasta (tahap tinggal di hutan). Individu tersebut memasuki masa pensiun dan pergi ke hutan dan mulai menarik pikirannya dari kehidupan maupun hal-hal duniawi. Ia dapat meninggalkan istrinya dalam perawatan putra-putranya atau membawanya bersamanya. Dia hidup dari akar, buah dan daun dan membuat tempat tidur untuk dirinya sendiri di bawah pohon. Ia tidak diizinkan mencukur atau memotong rambutnya dan pakaiannya harus dibuat dari kulit kayu atau kulit lainnya. 


Asrama terakhir adalah sanyasa (pertapaan). Seorang pertapa melepaskan semua hubungan dengan dunia dan hidup sendiri. Dia hidup sepenuhnya terlepas dari ikatan apapun. Dia tinggal sendiri. Dia mendapatkan makanannya dari sedekah. Ia tidak diizinkan untuk menghabiskan lebih dari satu malam di suatu desa, atau lebih dari lima malam di suatu kota.


Kisah Kandu dan Pramlocha

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kisah Kandu dan Pramlocha


Ada seorang brahmana yang bernama Kandu. Dia memiliki tempat tinggal/ashrama di tepi sungai Gangga Goutami. Ashrama tersebut sangat indah dan dia melakukan tapasya yang berat disana. Di saat musim panas, dia bermeditasi di bawah terik matahari, di saat musim hujan dia bermeditasi di tanah yang becek, dan di musim dingin dia bermeditasi dengan mengenakan baju yang basah.


Dewa Indra menjadi takut kelak tapasyanya ini akan berhasil. Dewa Indra berpikir rsi Kandu ini ingin menjadi dewa Indra selanjutnya menggantikan dirinya sebagai raja para dewa. Dia kemudian memanggil seorang apsara yang bernama Pramlocha dan memerintahkan untuk mengganggu tapasya Kandu.


Pramlocha kemudian pergi ke pertapaan Kandu dan mulai bernyanyi dengan suaranya yang indah. Nyanyian tersebut mengganggu Kandu dan akhirnya dia menemukan ada seorang wanita cantik di dekat ashramanya.


"Siapa kamu?", tanya Kandu wanita yang cantik itu.


"Saya kesini untuk memetik beberapa bunga. Saya adalah pelayan anda. Saya akan melakukan apa pun yang anda minta", jawab Pramlocha.


Kandu jatuh cinta pada Pramlocha dan Kandu pun akhirnya menikah dengan Pramlocha. Dia melupakan tapasyanya dan dewa Indra menjadi lega. Beberapa tahun berlalu, Pramlocha ingin kembali ke kahyangan tetapi Kandu tidak membiarkannya pergi.


Setelah beberapa tahun-tahun kemudian, Kandu pergi keluar dari kediamannya, merasa agak terganggu. Saat itu sudah mulai malam dan Kandu terlihat ingin pergi ke suatu tempat.


"Kemana anda mau pergi?", tanya Pramlocha.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu! Tidakkah kau lihat sekarang sudah akan gelap? Saya harus melakukan ritual. Hari telah berlalu", jawab Kandu.


"Hari apa maksud anda? Banyak hari telah berlalu", tanya Pramlocha.


"Tidak, kamu baru saja datang di pagi hari. Saya membawamu ke kediaman saya dan sekarang sudah akan malam", jawab Kandu.


"Itu benar bahwa saya datang di pagi hari ke tempat ini. Tetapi itu adalah pagi hari beberapa tahun yang lalu. 100 tahun telah berlalu sejak pagi itu", jawab Pramlocha.


"Berapa tahun? Kapan kamu datang kesini?", tanya Kandu.


"1600 tahun, 6 bulan, dan 3 hari yang lalu", jawab Pramlocha.


"Apakah kau yakin? Itu seperti 1 hari bagi saya", kata Kandu.


"Saya yakin. Saya tidak pernah berbohong kepada anda", jawab Pramlocha.


"Kamu telah menggagalkan tapasya saya. Tetapi saya tidak akan mengutukmu, karena kamu telah menjadi istri saya. Kembalilah ke surga, saya harus menebus dosa-dosa saya", jawab Kandu.


Rsi Kandu kemudian pergi ke Purushottama khsetra dan melakukan penebusan dosa. Dia kemudian diberkati oleh dewa Wisnu.


Kandu dan Pramlocha memiliki anak perempuan bernama Marisa. Yang nantinya akan dinikahkan dengan para Praceta. Dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Daksa, yang merupakan reinkarnasi dari prajapati Daksa putra dewa Brahma.



Wednesday, August 12, 2020

Kisah Goutama dan Manikundala

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kisah Goutama dan Manikundala


Ada sebuah kota yang bernama Bhouwana. Di kota tersebut tinggalah seorang brahmana yang bernama Goutama. Brahmana itu memiliki seorang teman yang berkasta (warna) waisya yang bernama Manikundala. (Kasta waisya adalah kasta ketiga dalam catur warna (sistem perkastaan/kelas dalam Weda) yang tugas utamanya adalah berdagang dan bertani).


Suatu hari ibu Goutama memberikan kata-kata pedas (nasehat yang menyakitkan hati) Goutama. Dan sebagai akibatnya Goutama pun pergi meninggalkan kota. Goutama pergi mengajak temannya, Manikundala. "Ayo kita pergi ke kota lain untuk berdagang dan menghasilkan banyak uang", kata Goutama.


"Ayah saya adalah orang yang kaya. Jadi untuk apa saya mencari uang lagi?", jawab Manikundala.


"Rupanya kamu tidak memiliki pemikiran orang sukses. Orang yang sukses adalah orang yang tidak mengharapkan warisan dari ayahnya. Orang sukses mencari rejeki nya sendiri", kata Goutama.


Manikundala memikirkan kata-kata Goutama tersebut. Dia berpikir bahwa kata-kata gautama tersebut ada benarnya juga. Dia tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti seseorang yang dipanggilnya teman itu akan menipu dirinya.


Akhirnya kedua sahabat itu pergi mengembara. Manikundala sudah menyiapkan semua tujuan kota yang akan dikunjungi. Di tengah perjalanan Goutama berkata, " apakah kamu pernah mendengar bahwa seseorang yang mengikuti jalan dharma ( jalan kebenaran) selalu mengalami penderitaan? Mereka tidak kayak dan tidak juga bahagia. Jadi bisa disimpulkan kita tidak perlu berbuat di jalan kebenaran."


"Tolong jangan berkata demikian. Kebahagiaan itu bisa menipu di jalan dharma. Kemiskinan dan kesengsaraan tidak dapat dihindari, mereka tidak dapat diprediksi", jawab Manikundala protes.


Kedua sahabat itu akhirnya berdebat, tetapi tidak ada yang tahu siapa yang benar. Akhirnya mereka pun bertaruh. Mereka akan menanyakan nya kepada orang-orang, kata-kata siapa yang benar. Barang siapa yang kalah harus menyerahkan semua kekayaannya kepada yang menang.


Akhirnya mereka pun menanyakan pendapat mereka masing-masing kepada beberapa orang. Secara alami kebanyakan orang setuju dengan pendapat bahwa orang yang jahat selalu bahagia dan makmur. Dan orang yang jujur ( atau berjalan di jalan dharma) selalu menderita. Dan akhirnya pun Manikundala mengaku kalah dan menyerahkan semua kekayaannya kepada Goutama. Tetapi Manikundala tetap kukuh untuk melanjutkan berjalan di jalan dharma.


"Kamu benar-benar keras kepala. Apakah kamu belum jera kehilangan semua kekayaan mu? Silahkan lanjutkan berjalan di jalan dharma", kata Goutama.


"Kekayaan itu tidak dapat diprediksi. Saya berjalan di jalan dharma dan apa yang nampaknya sekarang adalah suatu kemenangan adalah hanya sebuah ilusi. Dar malah yang akan menang pada akhirnya", jawab Manikundala.


Kedua sahabat itu akhirnya memutuskan untuk bertaruh lagi. Kali ini mereka sepakat bahwa siapa yang kalah harus dipotong kedua tangannya. Kali ini mereka menanyakan hal yang sama kepada semua orang, dan lebih banyak orang setuju bahwa adharma (kejahatan) lah yang menang (bahagia dan kaya). Akhirnya Manikundala pun kehilangan kedua tangannya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?", tanya Goutama.


"Masih sama. Dharma adalah sesuatu yang penting dan saya masih berjalan di jalan dharma", jawab Manikundala.


Goutama menjadi marah dan mengancam akan memotong kepala Manikundala apabila Manikundala masih kukuh untuk berjalan di jalan dharma. Tetapi Manikundala tidak gentar. Kedua sahabat tersebut kembali bertaruh. Kali ini siapa yang kalah akan kehilangan nyawanya. Dan Manikundala pun akhirnya kalah. Goutama kemudian mencongkel kedua mata Manikundala dan meninggalkannya begitu saja agar dia mati dengan sendirinya.


Manikundala terbaring di tepi sungai Gangga Goutama dan dia mulai merenungkan takdir apa yang sudah menimpa dirinya. Hari saat itu sudah mulai malam. 


Di dekat sana ada sebuah arca dewa Wisnu dan ada seorang raksasa yang bernama Wibhishana yang selalu datang setiap malam kesana untuk berdoa kepada dewa Wisnu. Putra Wibhishana menyelimuti Manikundala yang tengah terbaring di dekat sana. Manikundala kemudian menceritakan semua kisahnya kepada putra Wibhishana dan putra Wibhishana kemudia menceritakan kisah Manikundala kepada ayahnya. 


"Beberapa tahun telah berlalu. Saya bergabung dengan Rama (Awatara Wisnu) di dalam pertempuran nya melawan Rahhwana. Putra rahwana yang bernama Meghanada, menembakkan panah beracun kepada Lakshmana. Lakshmana tidak sadarkan diri. Hanuman kemudian pergi ke Himalaya dan membawa sebuah gunung yang bernama Gandhamadana ke Lanka. Pada gunung itu ada sebuah tanaman ajaib yang bernama Wishalyakarani yang dapat menyembuhkan segala penyakit. Saat Hanuman mengembalikan gunung tersebut ke Himalaya, beberapa tanaman tersebut jatuh di tempat ini, di dekat arca Wisnu ini. Mari kita mencarinya. Mungkin tanaman itu akan dapat menyembuhkan Manikundala", begitulah kata Wibhishana kepada putranya.


Ayah dan anak tersebut kemudian mencari tanaman ajaib tersebut. Tanaman ajaib itu ternyata sudah menjadi sebuah pohon raksasa. Mereka kemudian memotong satu cabang dan menaruh nya di dada Manikundala. Secara ajaib Manikundala kembali mendapatkan matanya dan tangannya. Setelah menyembuhkan Manikundala, Wibhishana dan putranya kembali ke kerajaan.


Manikundala melanjutkan pengembaraannya. Dia bahkan akhirnya sampai di sebuah kota yang bernama Mahaputra, dimana raja yang memerintah disana bernama Maharaja. Maharaja hanya memiliki seorang putri (tidak memiliki putra). Putrinya tersebut buta. Maharaja pun berjanji barang siapa yang dapat menyembuhkan putrinya tersebut akan diangkat sebagai anak dan akan menjadi pewaris tahta kerajaan selanjutnya. Manikundala kemudian menyembuhkan putri Maharaja dengan tanaman Wishalyakarani berdasarkan ilmu pengetahuan yang telah didapatnya. Dia kemudian menikahi putri Maharaja dan menjadi raja Mahapura selanjutnya setelah Maharaja.


Beberapa tahun telah berlalu. Goutama sedang dibawa oleh para prajurit kehadapan Manikundala. Dia ditahan karena telah melakukan kejahatan. Sejak kejadian Goutama mencongkel kedua mata Manikundala, Goutama akhirnya kehilangan semua kekayaannya dan menjadi seorang pengemis. Manikundala mengampuni apa yang telah dilakukan Goutama kepadanya. Dan dia pun juga membagikan kekayaan yang dia punya kepada Goutama. 


Seperti itulah kebajikan mengikuti jalan dharma. Ada banyak tirtha (tempat suci) di tepi sungai Gangga Goutama dimana berbagai keajaiban telah terjadi di tempat ini.



Tuesday, August 4, 2020

Kisah Pemburu

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kisah Pemburu


Ada seorang pertapa yang bernama Veda. Dia sangat rajin berdoa kepada dewa Siwa setiap hari. Dia berdoa kepada dewa Siwa dari pagi sampai siang (tengah hari). Setelah selesai berdoa, dia kemudian pergi ke desa-desa terdekat untuk meminta sedekah.


Ada seorang pemburu yang bernama Bhilla. Dia pergi ke hutan di siang (tengah hari). Setelah selesai berburu, dia pergi ke tempat lingga Siwa untuk mempersembahkan apa pun hasil buruannya saat itu. Dalam proses persembahannya kepada dewa Siwa, dia memindahkan persembahan milik Veda yang sebelumnya sudah ada disana lebih dulu. Ada suatu keanehan, justru dewa Siwa senang dengan persembahan dari Bhilla, bahkan beliau selalu menunggunya setiap hari.


Bhilla dan Veda tidak pernah bertemu. Veda memperhatikan setiap hari bahwa persembahannya selalu berserakan sementara, dia memperhatikan akan ada selalu beberapa daging di sampingnya. Tentu saja Veda tidak mengetahui siapa yang sebenarnya telah membuang persembahannya, karena ketika itu terjadi Veda sedang pergi meminta sedekah di desa terdekat. Suatu hari dia memutuskan untuk bersembunyi dan menunggu untuk menangkap pelakunya. 


Akhirnya Bhilla pun datang untuk memberi persembahan kepada dewa Siwa. Veda sangat kaget bahwa dewa Siwa muncul dihadapan Bhilla dan berkata, "Kenapa kamu terlambat datang hari ini? Saya telah menunggumu. Apakah kamu merasa lelah?"


Bhilla kemudian pergi setelah menawarkan persembahan. Kemudian Veda bergegas menemui dewa Siwa dan berkata, "Ada apa sebenarnya ini? Persembahan ini kotor dan merupakan hasil dari pemburu yang berdosa, dan kemudian, engkau muncul dihadapannya. Saya telah melakukan tapasya beberapa tahun dan engkau tidak pernah muncul dihadapan saya. Saya jijik dengan kejadian ini. Saya akan menghancurkan lingga Anda dengan batu ini."


"Lakukanlah jika itu memang harus dilakukan. Tapi tolong, tunggulah sampai besok", jawab dewa Siwa.


Keesokan harinya, saat Veda datang akan melakukan persembahan, dia menemukan jejak darah pada lingga Siwa. Dia secara hati-hati membersihkan jejak darah tersebut dan melanjutkan doanya. 


Setelah beberapa saat, Bhilla juga datang untuk melakukan persembahan, dan dia menemukan ada jejak darah di bagian atas lingga Siwa. Dia berpikir bahwa dialah yang bertanggungjawab atas kejadian ini dan dia menyalahkan dirinya atas suatu kesalahan yang aneh ini. Dia mengambil anak panah yang tajam dan kemudian menusuh tubuhnya berulang-ulang dengan anak panahnya sebagai hukuman. 


Dewa Siwa kemudian muncul dihadapan mereka berdua dan berkata, "Sekarang Anda bisa lihat perbedaan antara Veda dan Bhilla. Veda telah memberikan persembahannya kepada saya, tetapi Bhilla telah memberikan seluruh jiwanya kepada saya. Itulah perbedaan antara ritual dan pengabdian sesungguhnya".


Tempat dimana Bhilla berdoa kepada dewa Siwa tersebut kemudian dikenal dengan nama bhillatirtha.



Sunday, August 2, 2020

Kisah Burung Hantu dan Burung Merpati

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kisah Burung Hantu dan Burung Merpati


Ada seekor burung merpati yang tinggal di pinggir sungai Gangga Goutami. Burung merpati itu bernama Anuhrada. Ia memiliki istri bernama Heri. Anuhrada merupakan keturunan dari dewa Yama.


Tidak jauh dari sana, hiduplah seekor burung hantu bernama Uluka. Istri dari Uluka bernama Uluki. Dan mereka adalah keturunan dari dewa Agni.


Burung merpati adalah musuh burung hantu. Mereka sering sekali berkelahi. Burung merpati menerima banyak sekali senjata dari dewa Yama, begitu pun burung hantu juga banyak menerima senjata dari dewa Agni. Senjata ilahi mereka ini sangat berbahaya sekali karena dapat membakar segalanya. Akhirnya dewa Yama dan dewa Agni turun tangan. Mereka membujuk burung merpati dan burung hantu untuk melupakan permusuhan mereka dan hidup berdampingan sebagai sahabat.


Tempat dimana burung merpati itu tinggal dikenal sebagai tirtha (tempat suci) yang bernama yamatirtha. Dan tempat dimana burung hantu tinggal dikenal sebagai agnitirtha.


Saturday, February 29, 2020

Kisah Kepala Dewa Brahma

Purana

Brahma Purana

Kitab Suci Agama Hindu

Pada zaman dahulu, terdapat perang antara para dewa dan para iblis. Para dewa kemudian datang ke tempat Brahma untuk meminta bantuan. Brahma menyuruh mereka untuk berdoa kepada Siwa.

Siwa muncul di hadapan para dewa. Para dewa berkata, ” Para iblis telah mengalahkan kita. Tolong bunuhlah mereka dan selamatkanlah kami”.

Siwa kemudian pergi untuk bertarung dengan para iblis. Beliau berhasil mengusir para iblis keluar dari surga. Beliau bahkan mengejar mereka sampai ke ujung bumi. Pengejaran tersebut membuat Siwa berkeringat. Dan di mana pun tetesan keringat Siwa jatuh ke tanah, terciptalah sesosok mahluk yang mengerikan yang bernama matri. Para Matri juga ikut membunuh para iblis dan mereka juga mengejar para iblis sampai ke dunia bawah.

Sementara para matri membunuh iblis-iblis di dunia bawah, Brahma dan dewa-dewa lain menunggu di tepi sungai Gangga. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai Pratishthana.

Ketika para matri telah membunuh semua iblis, mereka kembali ke bumi dan mulai hidup di tepi sungai Gangga Goutami. Tirtha (tempat suci) tersebut kemudian dikenal sebagai matritirtha.

Dulu Brahma memiliki lima kepala. Kepala yang kelima berbentuk seperti kepala keledai. Ketika para iblis melarikan diri ke alam baka, kepala keledai ini berbicara kepada iblis-iblis itu, "Mengapa kamu melarikan diri? Kembali dan bertarunglah dengan para dewa. Saya akan membantu kalian dalam pertarungan tersebut."

Para dewa sangat terkejut melihat situasi yang berkebalikan ini. Brahma membantu para dewa dalam pertarungan melawan iblis dan kepala kelima Brahma berusaha membantu iblis melawan para dewa. Para dewa pun akhirnya pergi ke Wisnu dan berkata, "Tolong potonglah kepala kelima Brahma. Kepala itu menyebabkan banyak kebingungan."

"Saya bisa melakukan apa yang Anda inginkan, tetapi ada masalah. Ketika potongan kepala itu jatuh di bumi, potongan kepala itu akan menghancurkan bumi. Saya pikir Anda harus berdoa kepada Siwa untuk menemukan jalan keluar", jawab Wisnu.

Para dewa akhirnya kembali berdoa kepada Siwa dan Siwa akhirnya setuju untuk memotong kepala kelima Brahma. Tapi apa yang harus dilakukan dengan kepala yang terputus? Bumi menolak untuk menanggungnya. Akhirnya diputuskan bahwa Siwa sendiri yang akan menanggung kepala Brahma yang terputus tersebut.

Tempat Siwa memotong kepala kelima Brahma dikenal sebagai rudratirtha. Sejak hari itu, Brahma memiliki empat kepala dan dikenal sebagai Caturmuka (catur berkonotasi empat dan muka berkonotasi wajah). Ada kuil untuk Brahma di tepi Gangga Goutami. Ini adalah tempat suci yang dikenal sebagai brahmatirtha. Seorang pembunuh brahmana akan diampuni dosanya jika ia mengunjungi kuil ini.

Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci)

Purana Agni Purana Kitab Suci Agama Hindu Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci) Prahlada memiliki cucu yang sangat kuat bernama Vali. Sa...