Daftar Isi

Wednesday, November 6, 2019

Kisah Nageswara

Purana


Brahma Purana


Kitab suci agama Hindu


Ada sebuah kota bernama Pratishthana. Seorang raja bernama Shurasena berkuasa di kota tersebut. Shurasena tidak memiliki anak laki-laki. Setelah melakukan banyak upaya akhirnya seorang anak laki-laki lahir. Tetapi anak laki-laki tersebut adalah seekor ular. Atas kejadian tersebut sang raja dan ratu menjadi malu. Tetapi mereka merahasiakannya. Tidak seorang pun tahu bahwa putra mereka adalah seekor ular.

Saat anak laki-laki itu sudah mulai tumbuh sedikit besar, dia mulai berbicara seperti manusia, walaupun wujudnya adalah seekor ular. Raja Shurasena mengatur pendidikannya. Setelah sang ular terpelajar dalam ilmu Weda, ular tersebut berbicara kepada ayahnya, "Ayah, ini sudah saatnya saya untuk menikah. jika saya tidak memiliki seorang putra maka saya akan masuk ke neraka".

Raja Shurasena terkejut mendengar hal itu, "Bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan? Wanita Mana yang mau menikahi seekor ular?"

"Saya tidak tahu. Yang saya tahu bahwa saya harus menikah. Jika tidak saya akan bunuh diri. Ada banyak cara pernikahan yang diizinkan. Mungkin seorang wanita dapat diculik secara diam-diam kemudian dinikahkan dengan saya," jawab sang ular.

Shurasena kemudian mengumpulkan menteri-menterinya, "Putra saya, Nageswara, sudah beranjak dewasa. Ia sebentar lagi akan menjadi pewaris dari kerajaan ini. Tidak ada yang sebanding keberadaannya seperti dia baik di surga maupun di dunia bawah. Dan saya sudah tua. Tolong atur pernikahan Nageswara. Saya akan melepas kerajaan saya dan beristirahat di hutan".

Dan sang raja sudah tentu tidak mau memberitahukan bahwa putranya adalah seekor ular. Shurasena memiliki seorang menteri yang sudah tua banyak pengalaman. Nanti ini memberitahu kepada raja bahwa ada seorang raja yang bernama Wijaya yang berkuasa di sebelah timur negara tersebut. Raja Wijaya memiliki 8 putra dan seorang putri. Putri tersebut bernama Bogawati. Dia sangat cantik. Dan dia cocok menjadi pasangan Nageswara.

Menteri yang sudah tua itu kemudian mengirim utusan kepada raja Wijaya dan raja Wijaya setuju dengan hal tersebut. Ada suatu tata cara pernikahan kaum ksatria bahwa pengantin tidak harus selalu melangsungkan pernikahan dengan pasangannya saat upacara berlangsung. Pengantin wanita dapat melangsungkan pernikahan dengan pedang atau senjata lainnya. Sang menteri menjelaskan kepada raja Wijaya kalau ada urusan penting yang membuat Nageswara tidak dapat hadir dalam acara pernikahan tersebut. Jadi Bogawati harus menikah dengan pedang milik Nageswara. Raja Wijaya menyetujui hal itu dan akhirnya pun upacara pernikahan dilangsungkan. Rombongan pun akhirnya kembali ke kerajaan Pratishthana.

Selanjutnya ibu Nageswara mengirimkan seorang pelayan ke Bogawati untuk memberi tahu bahwa suaminya tersebut adalah seekor ular dan mengamati bagaimana reaksi Bogawati selanjutnya setelah mengetahui hal tersebut.

Pelayan itu kemudian berkata kepada Bogawati, "Suami anda adalah seorang dewa. Tetapi dia dalam bentuk seekor ular".

"Hal itu merupakan keberuntungan untuk saya. Biasanya seorang wanita menikah dengan seorang pria. Saya pasti telah melakukan banyak perbuatan baik di kehidupan yang dulu sehingga saya bisa menikah dengan dewa", kata Bogawati.

Bogawati kemudian dibawa ke tempat Nageswara dan ketika pertama kali melihat Bogawati, Nageswara ingatlah dengan kehidupan sebelumnya. Dia dulunya adalah seekor ular naga, yang merupakan penyembah Siwa dan Bogawati adalah istrinya di kehidupan yang dulu.

Pada zaman dahulu pada suatu acara, dewa Siwa tertawa dengan lelucon yang dibuat oleh dewi Parwati. Nageswara juga ikut tertawa. Hal ini membuat dewa Siwa kesal dan beliau mengutuk Nageswara bahwa dia akan dilahirkan sebagai anak manusia namun dalam bentuk seekor ular. Saat dia pergi dan mandi di sungai Goutami Gangga maka saat itulah kutukannya akan berakhir.

Saat Nageswara menceritakan kejadian itu kepada Bogawati, dia pun ikut ingat kehidupannya terdahulu. Mereka berdua kemudian pergi dan mandi di sungai sakral tersebut dan Nageswara memerintah setelah Shurasena wafat. Dan saat Nageswara dan Bogawati wafat mereka kembali ke Kailas, tinggal bersama dewa Siwa.

Di tepi sungai Goutami Gangga, Nageswara dan Bogawati membangun sebuah kuil untuk menyembah dewa Siwa. Tempat suci (tirtha) itu kemudian dikenal dengan nama nagatirtha.



Wednesday, October 23, 2019

Kisah Pippalada

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Pada zaman dahulu ada seorang rsi bernama Dadhichi. Istrinya bernama Lopamudra. Kediaman Dadhichi berada tepat di sebelah sungai Gangga. Saudara perempuan Lopamudra yang bernama Gabhastini juga tinggal di kediaman tersebut. Dengan kekuatan Dadhichi tidak ada satupun ditya dan danawa (salah satu ras iblis) yang berani menginjakkan kaki di kediamannya tersebut.


Suatu hari para dewa bertempur dengan para iblis. Setelah berhasil memenangkan pertempuran, para dewa pergi ke kediaman Dadhichi untuk memberi hormat kepada nya. Dadhichi menyambut tamunya tersebut dengan baik dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu.


"Terima kasih atas berkat anda, kami para dewa baik-baik saja. Kami baru saja memenangkan pertempuran dengan para iblis. Dan selanjutnya kami memiliki beberapa masalah kecil. Kami sudah tidak lagi membutuhkan senjata kami karena para iblis telah pergi. Kami tidak tahu di mana tempat yang aman untuk menyimpan semua senjata ini. Kami mulai berpikir mungkin kami dapat menyimpan senjata kami di kediaman anda. Karena kediaman andalah tempat teraman yang pernah kami temukan", kata para dewa.


Dadhichi menerima permintaan para dewa tersebut. Para dewa akhirnya meninggalkan semua senjata mereka di kediaman Dadhichi dan mereka kemudian kembali ke surga.


Saat Lopamudra mengetahui apa yang Dadhichi lakukan, dia menjadi tidak tenang. "Anda telah melakukan sesuatu yang salah. Anda seharusnya tidak menerima tanggung jawab menjaga barang milik orang lain. Terlebih lagi kita ini adalah pertapa yang tidak mengikatkan diri pada barang maupun harta benda. Anda telah setuju untuk menyimpan senjata para dewa. Apakah ini juga berarti bahwa musuh para dewa akan menganggap Anda juga sebagai musuh? Dan apa yang anda lakukan jika sesuatu terjadi pada senjata para dewa? Akankah para dewa akan menyalahkan anda?", begitu kata Lopamudra.


"Apa yang Anda katakan ada benarnya juga. Saya tidak sempat berpikir sampai ke sana. Dan saya telah mengatakan janji kepada para dewa. Saya tidak dapat menarik kembali kata-kata saya", kata Dadhichi.


Seratus tahun berlalu dan para dewa tidak kunjung datang mengambil senjata mereka. Senjata para dewa mulai kehilangan kilau mereka. Dadhichi tidak tahu bagaimana cara agar energi dari senjata para dewa tersebut dapat diawetkan. Dia mencuci senjata para dewa tersebut dengan air suci dan kemudian energi dari senjata tersebut larut ke dalam air suci tersebut. Dadhichi kemudian meminum air suci tersebut. Dan mengenai senjata para dewa tersebut, mereka menghilang setelah kehilangan energinya.


Akhirnya para dewa datang untuk mengambil senjata mereka. "Apakah kami dapat mengambil senjata kami kembali? Musuh kau datang kembali untuk bertempur dengan kami. Kami membutuhkan senjata kami", kata para dewa.


"Itu tidak mungkin. Senjata itu sudah tidak ada lagi. Saya telah menelan energi dari senjata itu. Biarkan sekarang saya katakan kepada kalian apa yang dapat dilakukan. Saya akan menggunakan kekuatan meditasi saya untuk menyerahkan hidup saya. Senjata yang sangat bagus akan tercipta dari tulang belulang saya", kata Dadhichi.


Para dewa menjadi sangat tidak enak. Tetapi sudah tidak ada solusi lain lagi. Akhirnya Dadhichi meninggal. Para dewa meminta Wiswakarma untuk membuat senjata dari tulang belulang dari Dadhichi. Wiswakarma setuju dan sebuah senjata yang bernama Bajra berhasil diciptakan dan senjata itu benar-benar luar biasa.


Lopamudra sedang bepergian jauh pada saat kejadian itu berlangsung. Dia akhirnya kembali dan menemukan bahwa suaminya sudah meninggal. Dia menderita dalam kesedihan dan ingin mengorbankan dirinya ke dalam api. Tetapi saat itu dia sedang hamil, jadi keinginannya itu tidak dapat langsung dilakukan. Setelah bayi itu dilahirkan kemudian dia menyerahkan bayi itu kepada pippala (pohon ara yang besar), dan kemudian dia bunuh diri. 


Sejak pippala (pohon ara) merawat bayi laki-laki itu, bayi itu kemudian dikenal sebagai Pippalada. Dewa Candra adalah dewa penguasa tumbuh-tumbuhan. Pohon itu meminta Amerta kepada dewa Candra untuk Pippalada dan dewa Candra memenuhinya. Amerta membuat Pippalada menjadi sangat kuat.


Saat Pippalada tumbuh dewasa, dia bertanya siapa orang tuanya dan pohon itu menceritakan kisahnya. Pippalada menyalahkan para dewa dan ingin balas dendam. Pohon itu membawa Pippalada kepada dewa Candra.


"Kamu masih terlalu muda. Kamu harus banyak belajar dengan baik dalam menggunakan berbagai senjata. Pergilah ke hutan Dandakaranya. Sungai Goutami Gangga mengalir melalui hutan tersebut. Berdoalah kepada Siwa di sana, maka keinginanmu akan terpenuhi", begitu kata dewa Candra.


Pippalada melakukan apa yang dewa Candra katakan dan melalui doanya dia telah membuat dewa Siwa senang.


"Anugerah apa yang kamu inginkan?", tanya dewa Siwa.


"Saya menginginkan anugerah dimana saya dapat menghancurkan para dewa", jawab Pippalada.


"Saya memiliki mata ketiga di tengah dahi saya. Hari dimana kamu bisa melihat mata ketiga saya, maka saat itulah kamu akan mendapatkan anugerah", kata dewa Siwa.


Mencoba sebisa mungkin yang bisa dia lakukan, tetap saja Pippalada tidak bisa melihat mata ketiga dewa Siwa. Pippalada kemudian melakukan tapasya yang lebih sulit dari yang pernah dia lakukan selama beberapa tahun. Dan akhirnya pun dia berhasil melihat mata ketiga dewa Siwa. Dari mata ketiga dewa Siwa kemudian lahirlah seorang iblis yang mirip seperti kuda betina.


"Apa yang kamu inginkan?", tanya iblis itu.


"Bunuhlah musuh saya, para dewa", jawab Pippalada.


"Baiklah", kemudian iblis itu mulai membunuh Pippalada.


"Apa yang kamu lakukan? Saya meminta kamu untuk membunuh para dewa", kata Pippalada.


"Tubuhmu dibuat oleh para dewa. Saya akan membunuhmu terlebih dahulu baru kemudian membunuh dewa yang lainnya", jawab iblis itu.


Pippalada kemudian berlari minta pertolongan kepada dewa Siwa. Dewa Siwa menandai sebuah kawasan di dalam hutan untuk Pippalada. Pippalada kemudian tinggal di sana, terlindungi dari amukan sang iblis. Sementara para dewa meminta pertolongan kepada dewa Siwa untuk menyelamatkan mereka dari amukan sang iblis. Dewa Siwa membujuk Pippalada untuk mengendalikan amarahnya. Beliau meyakinkan Pippalada bahwa tidak ada yang bisa didapat dari membunuh para dewa. Membunuh para dewa tidak akan bisa mengembalikan orang tuanya.


Pippalada setuju tapi dia ingin melihat orang tuanya untuk sekali saja. Demikian, akhirnya sebuah Vimana turun dari surga di mana di atas Vimana tersebut duduk rsi Dadhichi dan Lopamudra. Mereka memberkati Pippalada dan menyuruh Pippalada untuk segera menikah dan memiliki keturunan.


Dan untuk iblis yang sedang mengamuk, akhirnya iblis itu berubah menjadi sungai dan bersatu dengan sungai Gangga.




Saturday, October 19, 2019

Kisah Vriddhagoutama

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Rsi Goutama memiliki seorang anak bernama Vriddhagoutama. Vriddhagoutama juga menjadi seorang rsi seperti ayahnya. Tapi penampilan Vriddhagoutama sangatlah buruk. Dia tidak mempunyai hidung (cacat dari lahir). Dia sangat malu dengan keadaannya yang demikian (cacat) yang membuatnya tidak bisa ikut belajar Weda dan sastra bersama teman-temannya di bawah pengajaran seorang guru. Tetapi Vriddhagoutama tahu dan hafal dengan beberapa mantra dimana dia selalu merapalkannya setiap hari. Dia juga menyembah dewa Agni.

Saat dia tumbuh sedikit tua, dia melakukan perjalanan keliling dunia. Dia mengunjungi banyak tempat dan bertemu banyak orang. Karena dia cacat, dia tidak menikah. Siapa yang mau menikah dengan orang yang buruk rupa.

Dalam perjalanannya dia akhirnya sampai di sebuah gunung bernama Shitagiri. Dia menemukan gua yang indah di gunung tersebut. Dia masuk ke dalam gua dan menemukan seorang wanita tua di dalam gua tersebut. Wanita itu terlihat jelas sudah lama tinggal di dalam gua itu. Tubuhnya kurus seperti tidak terurus karena melakukan tapasya yang keras.

Vriddhagoutama kemudian bergerak untuk menyentuh kaki wanita yang terhormat itu, tetapi wanita itu menahannya. "Tolong jangan sentuh kaki saya. Anda adalah guru saya. Apakah guru pernah memberi hormat kepada muridnya?", kata wanita itu.

Vriddhagoutama sangatlah terkejut mendengar kata-kata itu. "Ini adalah pertama kalinya saya bertemu anda. Bagaimana mana mungkin saya bisa menjadi guru anda? Anda lebih tua dari saya. Selain itu saya tidak pernah belajar apapun dan anda adalah jelas seorang pertapa yang terhormat. Kata-kata anda sangat membuat saya bingung", kata Vriddhagoutama.

"Biarkan saya menceritakan sebuah cerita walaupun anda tidak mengerti. Suatu hari ada seorang pangeran yang tampan dan berani yang bernama Ritadwaja. Dia adalah putra dari Arshtishena. Ritadwaja pergi berburu ke hutan dan akhirnya sampai di gua yang dalam. Disanalah dia bertemu dengan seorang Apsara bernama Sushyama. Mereka berdua saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Tetapi akhirnya Ritadwaja harus kembali pulang dan Sushyama melahirkan anak perempuan disana. Sushyama kemudian meninggalkan anak perempuannya sendiri di dalam gua dengan perintahnya siapa pun laki-laki pertama yang masuk ke dalam gua tersebut akan menjadi suaminya. Anak perempuan itulah yang sekarang menjadi wanita tua yang ada di hadapan Vriddhagoutama. Ritadwaja memerintah selama delapan puluh ribu tahun dan putra Ritadwaja memerintah selama sepuluh ribu tahun. Berarti putri Sushyama itu telah tinggal di dalam gua itu selama sembilan puluh ribu tahun. Sekarang lihat, anda adalah suami saya. Apakah seorang suami bukan berarti seorang guru?", kata wanita tua itu.

"Apa yang kamu katakan sangatlah tidak mungkin terjadi. Saya berumur sepuluh ribu tahun. Dan anda berumur sembilan puluh ribu tahun. Bagaimana kita dapat menikah? Saya tampak seperti anakmu nantinya", kata Vriddhagoutama.

"Jika anda tidak menikahi saya, saya akan bunuh diri", kata wanita tua itu.

"Tetapi saya buruk rupa. Jika saya tampan dan terpelajar, saya pasti akan menikahimu", kata Vriddhagoutama.

"Melalui tapasya saya, saya telah disenangi oleh Dewi Saraswati, yang merupakan penguasa ilmu pengetahuan. Beliau akan membuatmu terpelajar. Dan saya juga disenangi oleh Dewa Baruna yang akan membuatmu tampan", kata wanita tua itu.

Vriddhagoutama kemudian menjadi tampan dan terpelajar. Mereka pun akhirnya menikah dan hidup bahagia di dalam gua.

Suatu hari, berbagai pertapa datang mengunjungi pasangan tersebut. Di antara mereka adalah rsi Wasista dan Wamadewa. Ada juga rsi yang masih muda, yang ilmu pengetahuannya masih belum cukup banyak. Para rsi muda tertawa melihat pasangan pria tampan Vriddhagoutama dan wanita tua itu.

"Siapa pria ini? Apakah dia anakmu apa cucumu?", tanya para rsi muda kepada wanita tua itu.

Para rsi muda itu kemudian pergi, meninggalkan rasa malu pada pasangan tersebut. Pasangan itu kemudian bertanya kepada rsi Agastya mengenai rasa malunya tersebut. Rsi Agastya menyarankan agar mereka pergi mandi di sungai Ganga Goutami. Sungai tersebut merupakan sungai yang sangat sakral sehingga dapat mengabulkan segala keinginan. Pasangan tersebut melakukan apa yang rsi Agastya sarankan dan berdoa kepada Wisnu dan Siwa. Dengan ajaib, wanita tua itu mendadak berubah menjadi muda dan cantik. Tempat di pinggir sungai tempat keajaiban itu terjadi sekarang menjadi tirtha (tempat suci) yang diberi nama Vriddhasangama.




Tuesday, October 15, 2019

Kisah Raja Harischandra

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Dalam dinasti Ikshvaku, ada seorang raja bernama Harischandra. Harischandra tidak memiliki putra. Suatu hari dua orang rsi bernama Narada dan Parwata datang mengunjungi Harischandra dan mengatakan kepadanya bahwa dia akan masuk ke neraka jika dia tidak memiliki seorang putra.


"Bagaimana saya bisa mendapatkan seorang putra?" tanya Harischandra.


"Pergilah ke tepi Gangga Goutamai. Berdoa kepada dewa Baruna di sana. Kami yakin bahwa Baruna akan memberi Anda seorang putra", jawab para rsi.


Harischandra mulai memuja Baruna dengan doanya dan meminta seorang putra.


"Anda akan memiliki putra. Tapi ada syaratnya. Anda harus secara teratur menghaturkan yajna untuk menghormati saya dan Anda harus mengorbankan putra Anda dalam yajna tersebut. Sekarang katakan jika syarat ini dapat Anda terima", kata Baruna.


"Ya", jawab Harischandra.


Pada waktunya, Harischandra memiliki seorang putra yang bernama Rohita.


Baruna mendatangi Harischandra dan bertanya, "Bagaimana dengan yajna untuk menghormatiku?"


"Tolong biarkan dia hidup sampai tumbuh giginya. Hewan akan dikorbankan sebagai gantinya", jawab Harischandra.


Baruna menunggu sampai gigi sang putra tumbuh dan kemudian kembali lagi ketika Rohita berusia tujuh tahun. "Bagaimana dengan yajna untuk menghormatiku?"


"Ini yang tumbuh hanya gigi susu. Tidak seperti binatang yang saya korbankan. Harap tunggu sampai gigi yang layak tumbuh", jawab Harischandra.


Baruna kembali lagi ketika anak itu tumbuh gigi yang layak, "Bagaimana dengan yajna untuk menghormatiku?"


"Dia adalah putra seorang ksatria (kasta kedua dari empat kelas golongan masyarakat). Namun pelatihannya dalam seni pertempuran belum dimulai. Dia tidak bisa disebut seorang ksatria apabila dia tidak tahu cara bertarung. Berarti dia adalah pria yang tidak lengkap. Apakah Anda benar-benar menginginkan pria yang tidak lengkap sebagai pengorbanan?", jawab Harischandra.


Setelah beberapa tahun berlalu, Rohita menjadi ahli dalam seni bertarung dan diangkat sebagai pewaris (yuwaraja) di kerajaan. Usianya saat itu enam belas tahun.


Baruna muncul lagi dan bertanya, "Bagaimana dengan yajna untuk menghormatiku?"


Kali ini seluruh percakapan terjadi di depan sang pangeran dan Rohita turun tangan sebelum Harischandra bisa mengatakan apa-apa. "Ayah, aku sudah memutuskan untuk melakukan yajna untuk Wisnu. Berikan saya izin untuk menyelesaikannya terlebih dahulu. Setelah itu, lakukan apa yang Anda mau".


Rohita kemudian pergi ke hutan. Sementara itu, Baruna sudah habis kesabarannya dan dia membuat Harischandra menderita sakit perut yang sangat menyakitkan. Berita tentang penyakit ayahnya ini akhirnya sampai ke Rohita yang sedang berada di hutan. Di hutan, Rohita bertemu seorang rsi bernama Ajigarata. Rsi itu sangat miskin dan bersama dengan istri dan ketiga putranya, mereka kelaparan.


"Apakah Anda akan menjual salah satu dari tiga putra Anda kepada saya? Saya membutuhkan seorang putra untuk pengorbanan", tanya Rohita.


"Anda dapat memilikinya. Namanya adalah Shunahshefa. Harganya adalah seribu sapi, seribu koin emas, seribu potong pakaian", jawab sang rsi.


Rohita pun membayar sesuai jumlah yang diminta dan membawa pulang Shunahshefa kehadapan Harischandra.


"Saya tidak bisa melakukan ini. Adalah tugas raja untuk melindungi para brahmana. Bagaimana kita bisa mengorbankan putra seorang brahmana? Lebih baik mati saja. Pergi dan kembalikan Shunahshefa kepada ayahnya", kata Harischandra.


Saat itu suara ilahi terdengar dari surga. Suara itu berkata, "Tidak perlu ada orang mati. Bawa Shunahshefa ke tepi Gangga Goutami dan lakukan yajna ke Baruna di sana. Goutami Gangga adalah sungai suci sehingga tidak ada pengorbanan manusia diperlukan jika yajna dilakukan di sana".


Akhirnya Harischandra melakukan apa yang suara ilahi itu katakan dan Baruna akhirnya menjadi senang. Sedangkan Shunahshefa, ia akhirnya diangkat anak oleh Wiswamitra sebagai putranya.





Tuesday, October 8, 2019

Kisah Dewa Kubera

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kubera adalah putra tertua dari rsi Wishrawa. Wishrawa memiliki dua istri. Istri pertama melahirkan Kubera. Istri kedua adalah seorang wanita raksasa dan melahirkan Rahwana, Kumbakarna, dan Wibisana. Kubera dulu memerintah di Kerajaan Lanka dan hubungannya dengan sepupunya tersebut sangatlah baik. Tetapi ibu Rahwana tidak menyukai putra-putranya bergaul dengan Kubera.

Dia memanggil putra-putranya dan berkata, "Apa yang kalian pikirkan? Kenapa kalian membuatku sakit hati? Kalian adalah raksasa dan Kubera adalah dewa. Apakah pantas kalian baik dengannya? Hubungan antara dewa dan raksasa adalah permusuhan. Coba kalian lihat kekayaan Kubera yang ia tunjukkan. Apakah kalian punya sesuatu seperti itu untuk ditunjukkan? Lakukanlah sesuatu untuk meningkatkan status kalian sendiri".

Karena itu diperintahkan oleh ibu mereka, Rawana, Kumbhakarna dan wibhishana pergi ke hutan untuk melakukan tapasya. Tapasya mereka membuat Brahma senang. Mereka menginginkan anugerah agar mereka mendapatkan kerajaan Lanka, Rahwana juga memperoleh anugerah bahwa ia akan menjadi sangat kuat.

Melalui berkat dan anugerah dewa Brahma, para raksasa mulai menyerang Kubera dan mengalahkannya. Mereka mengusir Kubera dari Lanka. Kubera memiliki wimana yang indah bernama pushpaka. Wimana itu juga berhasil direbut oleh Rahwana. Rahwana juga mengumumkan bahwa siapa pun yang memberi perlindungan kepada Kubera akan dibunuh. Ini berarti bahwa tidak ada yang berani memberikan perlindungan kepada Kubera.

Kubera meminta saran kepada kakeknya yang bernama Pulastya. Pulastya menyuruhnya pergi ke tepi Gangga Goutami dan berdoa kepada Siwa di sana. Siwa muncul di hadapan Kubera dan memberkatinya. Beliau memberi anugerah bahwa Kubera akan menjadi dewa dari semua kekayaan.

Saturday, September 28, 2019

Kisah Raja Shveta

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Di zaman satya yuga dulu ada seorang raja bernama Shveta. Dia adalah raja yang baik sehingga pada masa pemerintahannya orang-orang hidup selama sepuluh ribu tahun. Tidak ada yang meninggal. Umur panjang tinggi dan tidak ada kematian bayi.

Tapi kemudian ada seorang rsi bernama Kapalagoutama. Sayangnya, putra sang rsi itu meninggal ketika masih bayi. Sang rsi kemudian membawa jenazah putranya ke Shveta dan raja memutuskan bahwa jika dia tidak bisa membawa anak sang rsi tersebut hidup kembali dalam waktu seminggu, dia akan membakar dirinya sendiri dalam api. Dengan demikian dia telah mengambil sumpah. Raja Shveta menyembah Siwa dengan seribu dan seratus bunga teratai biru. Siwa muncul di hadapan raja dan memberikan anugerah bahwa putra bayi itu mungkin dihidupkan kembali.

Raja Shveta memerintah selama seribu tahun. Dia juga membangun sebuah kuil untuk Wisnu di Purushottama kshetra. Kuil yang dibangun oleh Indradyumna dikenal sebagai kuil Jagannatha. Kuil Shveta tidak jauh dari kuil Jagannatha ini dan dikenal sebagai kuil Shvetamadhava. Gambaran tentang seperti apa di kuil ini adalah seputih bulan.


Friday, September 27, 2019

Kisah Rsi Markandeya

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Bertahun-tahun yang lalu, kehancuran besar (pralaya) terjadi. Bumi diselimuti kegelapan dan tidak ada yang bisa dilihat. Tidak ada matahari ataupun bulan. Petir dan guntur menghancurkan gunung dan pohon. Terdapat hujan meteor. Danau dan sungai mengering. Seluruh bumi terbakar dengan api dan nyala api tersebut mencapai ke dunia bawah. Semua makhluk hidup binasa dalam api ini, termasuk para dewa dan iblis.

Ada seorang rsi bernama Markandeya. Sementara semua pralaya ini terjadi, Markandeya sibuk bermeditasi. Karena kekuatan tapasya Markandeya, api tidak berani menyentuhnya. Tetapi sebenarnya bahwa Markandeya takut dengan api yang mengamuk di sekelilingnya. Dia menderita kelaparan dan kehausan dan melupakan semua tentang tapasya-nya. Bibir dan tenggorokannya mengering karena takut. Markandeya akhirnya pergi dan menemukan bahwa ada pohon beringin yang tidak tersentuh oleh semua kerusakan (pralaya) ini. Dia akhirnya berlindung di bawah pohon beringin ini dan mulai berdoa kepada Wisnu.

Awan berkumpul di langit. Awan tebal dan gelap menyebar ke seluruh bumi. Dan mulai turun hujan. Air ada di mana-mana dan bumi banjir. Air memadamkan api. Hujan terus menerus selama dua belas tahun. Lautan naik membanjiri pantai dan gunung-gunung. Wisnu tidur di atas air.

Markandeya tidak tahu harus berbuat apa. Ada air di mana-mana dan dia terapung di atas air. Namun dia terus berdoa kepada Wisnu.

Wisnu akhirnya berbicara kepada Markandeya," Jangan takut, Markandeya. Anda berbakti kepada saya dan saya akan melindungi Anda".

Markandeya tidak menyadari bahwa Wisnu yang berbicara, "Siapa yang berani memanggilku demikian? Akulah Markandeya yang agung, yang diberkati oleh Brahma sendiri".

Tapi Markandeya tetap tidak bisa melihat siapa pun di mana pun. Dari mana suara itu berasal? Apakah semua itu hanya ilusi? Tidak tahu harus berbuat apa, ia mulai berdoa lagi kepada Wisnu. Tiba-tiba dia melihat pohon beringin mengapung di atas air. Tempat tidur emas terdapat di cabang-cabang pohon dan di tempat tidur itu ada seorang anak lelaki kecil. Markandeya sangat terkejut melihat bocah kecil itu mengambang di tengah banjir ini. Dia sangat bingung dengan ilusinya sehingga dia tidak menyadari bahwa bocah lelaki ini tidak lain adalah Wisnu.

Bocah itu berbicara kepada Markandeya, "Kamu lelah? Anda mencari perlindungan? Masuklah ke dalam tubuhku dan istirahatlah".

Markandeya sangat bingung sehingga, sebelum dia bisa menjawab, dia memasuki tubuh bocah itu melalui mulut. Di dalam perut bocah itu Markandeya menemukan seluruh dunia tujuh wilayah dan tujuh samudera. Gunung-gunung dan kerajaan-kerajaan semuanya ada di sana. Begitu juga semua makhluk hidup.

Markandeya tidak tahu harus membuat apa dari semua ini. Dia mulai berdoa kepada Wisnu. Tidak lama setelah dia mulai, dia keluar dari mulut bocah itu. Wisnu sekarang muncul di hadapannya dan memberkatinya. Rsi itu telah menghabiskan waktu seribu tahun dengan berdoa kepada Wisnu. Wisnu kemudian bertanya, "Saya ingin memberi Anda sebuah anugerah. Apa keinginanmu?"

Saya ingin membangun sebuah kuil untuk Siwa di Purushottama kshetra, jawab Markandeya. Ini akan membuktikan kepada semua orang bahwa Wisnu dan Siwa benar-benar satu dan sama.

Wisnu memberikan anugerah dan Markandeya membangun sebuah kuil untuk Siwa yang dikenal sebagai Bhuvaneshvara (Penguasa Dunia).


Friday, September 20, 2019

Indradyumna dan Purushottama Kshetra

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Di zaman satya yuga ada seorang raja bernama Indradyumna. Dia adalah raja yang sangat kuat, sekuat Indra sendiri. Dia tampan, jujur, terpelajar dalam sastra dan Weda, dan terampil dalam penggunaan senjata. Ibarat kecemerlangannya sampai-sampai membuat matahari malu. Indradyumna adalah seorang penyembah  Wisnu. Suatu hari dia pernah memutuskan untuk mencari tempat untuk memuja Wisnu. Tirtha adalah tempat ziarah suci. Indradyumna mencari setiap tirtha dan kota yang ada. Tapi tak satu pun dari mereka yang memuaskannya. Tak satu pun dari mereka, yang menurutnya, pantas sebagai tempat untuk menyembah Wisnu.

Ibu kota kerajaan Indradyumna sendiri adalah kota Avanti, di kerajaan Malawa. Avanti adalah kota yang indah dan kaya, dikelilingi oleh parit-parit dan benteng-benteng. Pedagang dari banyak negara datang ke sana dengan segala macam komoditas untuk diperdagangkan. Jalan-jalan kota dipenuhi deretan toko. Rumah-rumah dicat putih. Istal raja penuh dengan kuda dan gajah. Semua warga Avanti menyenangkan dan bahagia. Yajna diadakan cukup sering di kota ini. Banyak terdapat kuil, hutan kecil, dan kolam di Avanti. Pohon apa pun yang tumbuh di bumi dapat ditemukan di sana.

Ada sebuah kuil untuk Siwa di kota ini. Kuil ini dikenal sebagai kuil Mahakala. Kuil itu digambarkan dengan sangat sakral sekali ibarat menyembah Siwa di kuil tersebut sama saja dengan melakukan seribu ashwamedha yajna.

Sungai Shipra mengalir melewati Avanti. Di tepi sungai ada kuil untuk Wisnu yang dikenal sebagai Govindaswami. Kuil lain untuk Wisnu bernama Wikramaswami.
Tetapi Indradyumna tidak puas dengan kuil-kuil ini. Dia ingin membangun kuil lain untuk Wisnu. Dia meninggalkan Avanti untuk mencari tempat yang tepat. Para prajurit dan rakyatnya menemani raja mereka, sehingga seolah-olah seluruh kota Avanti sedang bergerak. Setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari, mereka tiba di tepi laut selatan, samudra yang dikenal sebagai lavana samudra.

Ada begitu banyak ombak di lautan sehingga samudra itu sendiri tampak seperti menari. Hewan laut hidup di lautan dan air juga menjadi sumber segala macam permata. Indradyumna mulai hidup di tepi lautan. Dia menemukan tempat di dekat laut yang penuh dengan pohon bunga dan buah. Banyak jenis burung berkumpul di sana untuk memakan buahnya. Ini adalah tempat yang dikenal sebagai Purushottama kshetra, di India sekarang daerah tersebut bernama Puri 

Purushottama kshetra adalah tirtha yang sangat penting. Tetapi semua pengetahuan tentang tirtha ini telah disembunyikan sampai Indradyumna tiba di tempat kejadian. Ada alasan pengetahuan tentang tirtha ini disembunyikan. Bertahun-tahun yang lalu, dulu ada suatu wujud Wisnu di sana, di mana orang biasa berdoa. Begitu sakralnya sehingga semua dosa para penyembah segera diampuni. Hasilnya adalah dewa Yama tidak bisa menghukum orang berdosa yang pernah kesana. Mereka hanya berdoa untuk Wisnu demi melarikan diri dari dosanya. Karena itu Yama berdoa kepada Wisnu untuk meminta sebuah solusi. Wisnu akhirnya menyembunyikan suatu bentuk wujud Wisnu tersebut di bawah pasir sehingga tidak ada yang tahu lagi mengenai hal itu.

Indradyumna menyukai Purushottama kshetra. Sungai Mahanadi atau Chitroplala mengalir tidak terlalu jauh dari tempat itu. Orang-orang yang tinggal di sekitar tempat semuanya beragama. Akhirnya Indradyumna memutuskan bahwa Purushottama kshetra adalah tempat yang tepat untuk membangun kuil untuk Wisnu. Pada hari baik yang sudah ditentukan, batu fondasi pertama diletakkan di tempat itu.

Indradyumna kemudian menghubungi raja-raja Kalinga, Utkala dan Koshala. Dia meminta bantuan mereka dalam mengambil batu untuk pembangunan kuil. Para raja mengirim arsitek mereka ke pegunungan Vindhya. Batu-batu dikumpulkan dari pegunungan ini dan dibawa ke Purushottama Kshetra dengan perahu dan kereta. Utusan juga dikirim ke beberapa raja lain untuk mencari bantuan. Mereka datang dengan pasukan mereka dan dengan banyak harta kekayaan.

Indradyumna mengatakan kepada raja-raja yang berkumpul, saya ingin menyelesaikan dua tugas sulit. Yang pertama adalah melakukan ashvamedha yajna di sini. Dan yang kedua adalah membangun kuil untuk Wisnu. Kedua pekerjaan sulit ini, terutama yang kedua. Tetapi jika Anda membantu saya, saya yakin kedua pekerjaan itu dapat dilakukan.

Para raja setuju untuk membantu. Mereka menawarkan perhiasan, kekayaan, emas, pakaian, bahan makanan, dan benda-benda lainnya. Tempat dimana yajna akan dilaksanakan semuanya dibuat dari emas. Brahmana dari seluruh Jambudvipa datang untuk menyaksikan Hanna tersebut. Mereka menyumbangkan gajah, kuda, dan sapi sebagai sedekah. Belum pernah ada pengorbanan lain yang pernah dilakukan seperti Indradyumna.

Setelah yajna selesai dan kuil dibangun, masih ada pertanyaan yang lebih penting, yaitu, bagaimana suatu bentuk wujud Wisnu akan dibuat? Indradyumna mulai berdoa kepada Wisnu untuk bimbingan.

Wisnu muncul di hadapan Indradyumna dalam mimpi dan berkata, Mengapa kamu begitu sedih? Ketika matahari terbit, pergilah ke pantai. Di sana Anda akan menemukan pohon kayu. Setengah dari pohon ada di air dan sisanya di pasir. Tebang pohon ini. Kayunya akan menjadi bahan yang anda butuhkan.

Di pagi hari, Indradyumna pergi ke pantai dan menemukan pohon itu. Sama seperti yang Wisnu telah gambarkan. Dengan kapak, dia menebang pohon itu. Ketika dia akan memotong batang pohon menjadi dua, dua brahmana muncul di depannya. Indradyumna tidak mengetahuinya, kedua brahmana ini adalah Wisnu dan Wishwakarma yang menyamar.

Raja, apa yang sudah kamu lakukan? seru para brahmana. Anda telah menebang satu-satunya pohon yang ada di tepi lautan.

Maafkan aku, jawab Indradyumna. Saya ingin membuat wujud Wisnu. Wisnu telah menginstruksikan saya dalam mimpi bahwa pohon ini akan menjadi bahan untuk membuat suatu bentuk wujud Wisnu.

Itu adalah ide yang bagus, kata brahmana yang adalah Wisnu yang menyamar. Tidak ada hal apapun yang sesuci berdoa kepada Wisnu. Temuilah teman saya. Dia memiliki keterampilan sama terampilnya dengan Wishwakarma yang agung itu sendiri. Jika Anda mau, dia akan membuat yang anda inginkan itu untuk Anda.

Raja Indradyumna setuju. Dan setelah diinstruksikan oleh Wisnu, Wishwakarma mulai melakukan proses pembuatan. Ada tiga wujud berbeda yang dibuat. Yang pertama adalah Baladewa atau Balarama. Ini benar-benar berwarna, kecuali mata, yang berwarna merah. Wujud itu mengenakan warna biru dan ular dengan tudungnya di atas kepala Balarama. Sebuah gada dan tongkat sihir ada di tangan Balarama. Wujud/bentuk yang kedua adalah Krishna. Berwarna biru, dengan mata seperti bunga teratai. Wujud/bentuk itu berpakaian kuning dan memiliki chakra. Wujud/bentuk ketiga adalah saudara perempuan Krishna, Subhadra. Gambar ini berwarna emas dan mengenakan pakaian indah.

Ketika Indradyumna menemukan bahwa semua itu dibuat dalam hitungan menit, ia terkejut. Dia menyadari bahwa kedua brahmana itu tidak mungkin manusia biasa. Dia jatuh di kaki mereka dan berkata, Tolong beritahu saya siapa Anda. Anda tidak mungkin manusia.

Wisnu dan Wishwakarma kemudian mengungkapkan diri mereka yang sebenarnya dan Indradyumna sangat gembira. Wisnu memberkati raja dan memberitahunya bahwa ia akan memerintah selama sepuluh ribu sembilan ratus tahun. Dan bahkan setelah Indradyumna meninggal, sebuah tempat akan disediakan baginya di surga.

Pada hari baik yang sudah ditentukan, ketiga wujud bentuk itu dipasang di kuil.


Wednesday, September 11, 2019

Konaraka

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Di lautan selatan Bharatawarsha, ada sebuah tanah bernama Ondra atau Utkala (sekarang bernama Odisha). Utkala dihuni oleh orang-orang beragama dan para brahmana yang tinggal di sana mempelajari  weda. Mereka adalah pendeta yang sangat baik, terpelajar dalam Purana dan shastra dan terampil dalam yajna. Di negeri Utkala, ada gambaran bentuk matahari (Surya) yang dikenal sebagai Konaditya. Kata aditya berarti matahari, seperti halnya kata arka yang sama juga berarti matahari. Jadi, Konaditya sama dengan Konarka, adopsi masyarakat sekitar adalah dari kata yang terakhir yaitu Konaraka. Gambar Konaditya begitu indah sehingga bahkan jika seseorang memandangi hal itu, semua dosa seseorang diampuni.

Di sekeliling kuil terdapat pasir. Namun demikian, banyak pohon tumbuh di sekitar kuil. Waktu terbaik untuk menyembah matahari adalah pada saat matahari terbit. Seseorang harus menghadap ke timur dan menggambar bunga teratai di tanah dengan cendana merah. Bunga teratai harus memiliki tepat delapan kelopak. Sebuah nampan tembaga harus ditempatkan di tengah bunga dan diisi dengan padi, sesamuan, air, cendana, bunga merah dan rumput suci. Seseorang berdoa kepada Surya untuk turun di bunga teratai yang telah ditarik. Jika seseorang memuja Konaditya sesuai dengan ritual yang ditentukan ini, dosa-dosa tujuh generasi sebelumnya diampuni.

Kedua belas aditya tidak lain adalah bentuk Surya yang berbeda. Nama mereka adalah Indra, Dhata, Parjanya, Twashta, Pusha, Aryama, Bhaga, wiwaswana, Wisnu, Amashumana, waruna dan Mitra, Sebagai Indra, Surya menghancurkan musuh para dewa. Sebagai Dhata, ia menciptakan makhluk hidup. Sebagai Parjanya, ia menurunkan hujan. Sebagai Twashta, ia tinggal di pepohonan dan tumbuhan. Sebagai Pusha, ia membuat biji-bijian tumbuh. Sebagai Aryama, dia ada di angin. Sebagai Bhaga, ia berada dalam tubuh semua makhluk hidup. Sebagai wiwaswana, ia terbakar dan membantu memasak makanan. Sebagai Wisnu, ia menghancurkan musuh para dewa. Sebagai Amshumana, ia kembali tertiup angin. Sebagai waruna, Surya berada di perairan dan sebagai Mitra, ia berada di bulan dan di lautan.

Di setiap bulan dalam setahun, aditya berbeda yang bersinar, Indra bersinar di bulan Ashwina, Dhata di Kartika, Parjanya di Shrawana, Twashta di Falguna, Pusha di Pousha, Aryama di waishakha, Bhaga di Magha, wiwaswana di Jyaishtha , Wisnu di Chaitra, Amshumana di Ashada, waruna di Bhadra, dan Mitra di Agrahayana. Wisnu memiliki seribu dua ratus sinar, Aryama seribu tiga ratus, wiwaswana tujuh puluh dua, Amshumana lima belas, Parjanya tujuh puluh dua, waruna seribu tiga ratus, Twashta seribu seratus, Indra dua ribu dua ratus, Dhata seribu seratus , Mitra seribu dan Pusha sembilan ratus. Terlepas dari nama kedua belas adityas, Surya memiliki dua nama lain juga. Ini adalah Aditya, Sawita, Surya, Mihira, Arka, Prabhakara, Martanda, Bhaskara, Bhanu, Chitrabhanu, Diwakara dan Rawi.

Brahma pernah menceritakan kepada orang bijak seratus delapan nama suci Surya. Brahma Purana mendaftar nama-nama ini dan disusun dalam sembilan kelompok yang masing-masing terdiri dari dua belas nama.
(1) Surya, Archana, Bhagawana, Twashta, Pusha, Arka, Sawita, Rawi, Gabhastimana, Aja, Kala, Mrityu.
(2) Dhata, Prabhakara, Prithiwi, Jala, Teja, Akasha, wayu, Parayana, Soma, Brihaspati, Shukra, Budha.
(3) Angaraka, Indra, wiwaswana, Diptamshu, Shuchi, Shouri, Shanaishwara, Brahma, wishu, Rudra, Skanda, waishrawana.
(4) Yama, waidyuta, Jathara, Agni, Aindhana, Tejohapti, Dharmadhwaja, wedakarta, wedanga, wedawahana, Krita, Treta.
(5) Dwapara, Kali, Sarwasurashraya, Kala, Kashtha, Muhurta, Kshapa, Yama, Kshana, Samwatsara, Ashwattha, Kalachakra.
(6) wibhawasu, Shashwata, Purusha, Yogi, wyaktawyakta, Sanatana, Kaladhyaksha, Prajadhyaksha, wishwakarma, Tamonuda, waruna, Sagara.
(7) Amsha, Jimuta, Jiwana, Ariha, Bhutashraya, Bhutapati, Sarwalokanamaskrita, Shrashta, Samwartaka, wahni, Sarwadi, Alolupa.
(8) Anata, Kapila, Bhanu, Kamada, Sarwotamukha, Jaya, wishala, warada, Sarwabhutasewita, Mana, Suparna, Bhutadi.
(9) Shighraga, Pranadharana, Dhanwantari, Dhumaketu, Adidewa, Aditinandana, Dwadashatma, Rawi, Daksha, Pita, Mata, Pitamaha.

Monday, September 2, 2019

Keadaan Geografi menurut Brahma Purana

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Setelah mendengar cerita tentang dinasti Surya dan Chandra, para rsi kembali meminta Romaharsana untuk menceritakan tentang geografi dunia. Seperti apa dunia terlihat? 

Romaharsana menjelaskan.

Bumi terbagi menjadi tujuh wilayah (dwipa). Nama-nama wilayah tersebut adalah Jambudwipa, Plakshawipa, Shalmaladwipa, Kushadwipa, Krouchadwipa, Shakadwipa dan Pushkaradwipa. Wilayah-wilayah ini dikelilingi oleh tujuh samudera dan nama-nama tujuh samudera tersebut antara lain Lawana, Ikshu, Sura, Sarpi, Dadhi, Dugha dan Jala.

Jambudwipa berada di tengah dan tepat di tengah Jambudwipa adalah Gunung Sumeru. Di sebelah selatan Sumeru adalah pegunungan Himawana, Hemakuta dan Nishadha dan di sebelah utara Sumeru adalah pegunungan Nila, Shweta, dan Shringi. Jambudwipa sendiri terbagi menjadi beberapa wilayah (atau dikenal dengan sebutan warsha). Sebagai contoh, Sumeru berada di tengah Ilawritawarsha. Bharatawarsha berada di selatan Sumeru. Di sebelah timur Sumeru adalah Bhadrashwawarsha dan di sebelah barat adalah Ketumalawarsha. Hariwarsha terletak di selatan dan Ramyakawarsha di utara. Lebih jauh ke utara adalah Hiranmayawarsha dan lebih dari itu, Uttarakuruwarsha.

Kota Brahma berada di puncak Sumeru. Di sanalah sungai Gangga turun dari surga dan dibagi menjadi empat anak sungai. Sita mengalir ke timur, Chakshu ke barat, Bhadra ke utara dan Alakananda ke selatan Bharatawarsha.

Ada tujuh jajaran gunung utama di Bharatawarsha dan namanya adalah Mahendra, Malya, Sahya, Shuktimana, Riksha, Windhya, dan Pariyatra. Bharatawarsha sendiri dibagi menjadi sembilan wilayah (dwipa). Nama delapan wilayah ini adalah Indradwipa, Kaserumana, Tamraparna, Gabhastimana, Nagadwipa, Soumya, Gandharwa dan Waruna. Wilayah kesembilan benar-benar dikelilingi oleh lautan ke segala arah. Di sebelah timur Bharatawarsha hiduplah para Kirata dan di sebelah barat para Yawana.

Di bawah bumi terletak tujuh wilayah dunia bawah (patala). Nama mereka adalah Atala, Witala, Nitala, Sutala, Talatala, Rasatala dan Patala. Para daitya, danawa dan ular (sarpa) tinggal di sana. Dunia bawah adalah tempat yang indah, lebih indah dari surga itu sendiri. Orang bijak Narada suatu kali melakukan perjalanan ke dunia bawah dan terpesona oleh keindahannya. Itu penuh dengan istana dan permata. Matahari terbit di sana, tetapi tidak memancarkan panas terlalu banyak. Bulan juga naik, tetapi sinarnya sama sekali tidak dingin. Hutan dihuni oleh pohon-pohon yang indah dan kolam yang penuh dengan bunga teratai, nyanyian burung Cuckoo terdengar di mana-mana. Di bawah neraka tidur seekor ular besar, yang dikenal sebagai Shesha atau Ananta. Beliau memiliki seribu kerudung, semua kerudungnya dihiasi dengan perhiasan. Ular ini merupakan Wisnu dalam salah satu dari berbagai wujudnya.

Bagian dari dunia adalah neraka (naraka), dipimpin oleh Yama, dewa kematian. Neraka itu penuh dengan senjata, api, dan racun, dan orang-orang yang berdosa akan dikirim ke sana untuk dihukum. Dosa yang membuat seseorang dikirim ke neraka adalah berbohong, membunuh, membunuh sapi, menghancurkan milik orang, minum-minuman keras, membunuh brahmana, pencurian, menjual anggur atau minuman keras, mengkritik weda, menghina orang tua, membuat senjata, menjual daging, berbuat iseng dalam astronomi, menjual garam, menghancurkan hutan dengan sia-sia, membunuh domba atau rusa, menipu dan belajar dengan putranya sendiri. Setiap orang berdosa menerima hukuman yang sesuai dengan tingkat keparahan dosanya. Tentu saja, jika seseorang melakukan penebusan dosa (prayashchitta) untuk dosa seseorang, ia tidak perlu pergi ke naraka. Bentuk penebusan dosa yang terbaik adalah berdoa kepada Krishna.

Bumi (prithiwi atau bhuloka) seluas bagian-bagian langit yang dapat diterangi oleh sinar matahari dan bulan. Hamparan dari batas bumi ke lingkaran matahari dikenal sebagai bhuwarloka dan orang suci suci tinggal di sana. Di atas lingkaran matahari adalah lingkaran bulan dan di atasnya, berturut-turut, datanglah wilayah Merkurius (Budha), Venus (Shukra), Mars (Mangala), Jupiter (Brihaspati), Saturnus (Shani), konstelasi Beruang Besar (Saptarshi) ) dan Bintang Kutub (Dhruwa). Wilayah dari lingkaran matahari ke Dhruwaloka dikenal sebagai surga (swarloka atau swarga). Di luar Dhruwaloka adalah Maharloka dan lebih jauh lagi adalah, Janaloka, putra-putra Brahma tinggal di Janaloka. Di luar Janaloka adalah Tapaloka dan Satyaloka. Pada akhir sebuah kalpa, ketiga loka (alam) bhuloka, bhuwarloka dan swarloka dihancurkan. Tetapi empat loka dari Maharloka, Janaloka, Tapaloka dan Satyaloka tidak hancur.



Thursday, August 15, 2019

Kisah Yayati Dinasti Chandra


Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Di dalam dinasti bulan (dinasti Chandra), lahirlah raja yang kuat bernama Nahusha. Dia menikahi Wiraja dan mereka memiliki enam putra bernama Yati, Yayati, Samyati, Ayati, Yati dan Suyati. Yati menjadi seorang pertapa. Jadi, meskipun Yayati bukan yang tertua, ia dimahkotai raja setelah Nahusha turun tahta.

Yayati memiliki dua istri. Yang pertama adalah Dewayani, putri Shukracharaya. Dan yang kedua adalah Sharmishtha, putri Wrishaparwa, raja danawa. Dewayani memiliki dua putra bernama Yadu dan Turwasu dan Sharmishtha memiliki tiga putra bernama Druhya, Anu dan Puru. Yayati menaklukkan seluruh bumi dan memerintah atasnya. Ketika dia menjadi tua, dia membagi bumi di antara kelima putranya. Yadu diberi tanah di timur, Puru tanah di tengah, Turwasu tanah di selatan dan tenggara, Druhya di utara dan Anu di barat.

Yayati menyerahkan senjatanya dan memutuskan untuk melakukan perjalanan ke seluruh dunia. Dia memanggil Yadu dan berkata, "aku ingin menjelajahi dunia dan usia tuaku adalah halangan. Terimalah usia tua saya dan berikan masa muda Anda kepada saya.

Yadu menolak, "Aku tidak akan memberikan masa mudaku. Seseorang tidak bisa makan dengan baik ketika dia tua, juga tidak bisa menikmati kenyamanan dunia. Usia tua tidak menyenangkan. Sebaliknya, mintalah kepada salah satu saudara saya".

Penolakan Yadu membuat Yayati marah. Dia mengutuk Yadu bahwa dia atau keturunannya tidak akan menjadi raja. Yayati selanjutnya meminta Druhya, Turwasu dan Anu, tetapi mereka juga menolak dan juga akhirnya dikutuk oleh ayah mereka. Tetapi hanya Puru menyetujui permintaan ayahnya dan dengan senang hati menerima hari tua itu. Dia kemudian diberkati oleh ayahnya kelak akan menjadi raja.

Setelah bertahun-tahun berlalu, Yayati bosan dengan dunia dan mengembalikan masa muda Puru kepadanya. Dia menerima kembali masa tuanya dan menjalani masa ke hutan untuk bermeditasi.

Dari Puru lahirlah keturunan Raja Bharata yang kelak kemudian tanah itu dikenal sebagai Bharatawarsha. Juga di garis keturunan ini adalah Raja Kuru, yang setelahnya semua keturunan kemudian dikenal sebagai Korawa. Tempat suci bernama Kurukshetra terkait dengan nama Raja Kuru.

Dari Turwasu diturunkan raja-raja Pandya, Kerala, Kola dan Chola.

Dari Druhya diturunkan ke raja-raja Gandhara. Kuda-kuda dari kerajaan Gandhara sangat terkenal.

Yadu memiliki lima putra, Sahasrada, Payoda, Kroshtu, Nila dan Anjika. Keturunan Sahasrada adalah suku Haihaya, di antara yang paling terkenal adalah Kartyawirya Arjuna. Arjuna menjadi senang setelah sang rsi Dattatreya membuatnya menjadi tak terkalahkan. Dia juga memiliki seribu tangan. Perbuatan agung Arjuna adalah mengalahkan dan memenjarakan Rahwana, raja Alengka. Keturunan Kroshtu adalah Wrishni dan Andhaka. Di garis keturunan Wrishni lahirlah Krishna.



Wednesday, August 14, 2019

Chandra Dinasti

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Suatu hari ada seorang resi yang bernama Atri. Atri melakukan tapasya yang sangat sulit. Begitu sulitnya tapasya yang dia lakukan sehingga energi Atri memancar ke langit. Langit tidak tahan dengan energi ini dan melemparkanya kembali ke bumi. Energi ini kemudian melahirkan Soma atau Chandra (dewa bulan). Brahma kemudian membawa Chandra dengan kereta dan mengemudikan kereta itu ke seluruh bumi sebanyak 21 kali. Dari energi yang masih  tersisa dari hasil terciptanya Chandra, tanaman obat tercipta.

Setelah Chandra melakukan tapasya yang sangat sulit selama 100 tahun padma. 1 tahun padma sama dengan 10.000.000.000.000 tahun normal. Setelah meditasi selesai, Brahma menunjuk Chandra sebagai raja atas segala biji-bijian, tumbuhan, brahmana, dan lautan. Chandra juga melakukan rajasuya yajna sebagai perayaan atas kepemimpinannya. Hal ini memberinya kemuliaan, kekayaan, kehormatan.

Tetapi semua itu (kemuliaan, kekayaan, kehormatan) ternyata mengubah isi kepala Chandra. Guru para dewa adalah rsi Brihaspati. Brihaspati memiliki seorang istri bernama Tara dan Chandra menculik Tara. Meskipun para dewa dan orang bijak meminta Chandra untuk mengembalikan Tara, tetapi Dewa bulan tersebut tidak mau mendengarkan. Perang yang mengerikan kemudian terjadi atas nama dewi Tara, para dewa bertarung untuk Brihaspati dan para iblis yang berperang untuk Chandra. Shukracharya, guru para iblis, bertempur di pihak Chandra dan Siwa bertempur di pihak Brihaspati. Perang ini (samgrama) kemudian dikenal sebagai tarakamaya samgrama, karena dimulai dari Tara.

Akhirnya Brahma turun tangan dan gencatan senjata ditetapkan. Tetapi Chandra dan Tara pada saat itu memiliki seorang putra, dan Brihaspati menolak untuk menerima putra ini sebagai miliknya. Anak ini kemudian diberi nama Budha. Seperti yang sudah Anda ketahui, Budha menikahi Ila dan mereka memiliki seorang putra bernama Pururawa.

Brahma Purana sekarang akan menceritakan beberapa raja dari dinasti bulan.

Tuesday, May 14, 2019

Sagara

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Putra Trishanku adalah Harishchandra dan dari Harishchandra lahirlah seorang raja bernama Bahu. Bahu terlalu banyak bersenang-senang dalam hidupnya. Hasilnya adalah bahwa segala masalah kerajaan tidak ditangani dengan baik. Musuh-musuh mengambil kesempatan ini untuk menyerang kerajaan Bahu. Mereka mengusir Bahu dan Bahu pergi ke hutan bersama istrinya Yadavi.

Kerajaan Bahu kemudian dipimpin oleh raja Haihaya dan Talajangha. Mereka dibantu oleh para keturunan Shaka, Yawana, Parada, Kamboja dan Pahlawa.

Raja Bahu akhirnya meninggal di hutan. Istrinya, Yadawi, ingin ikut mati di atas pembakaran mayat suaminya. Tetapi karena Yadawi sedang hamil pada saat itu, rsi Ourva membujuknya bahwa tindakan seperti itu akan menjadi dosa. Dia membawa Yadavi ke pertapaannya sendiri dan mulai merawatnya.

Bahu juga memiliki istri kedua dan dia pernah mencoba meracuni Yadavi. Namun racun (dalam bahasa Sansekerta = gara) tidak membahayakan dan muncul ketika bayi itu lahir. Karena bayi itu lahir bersama dengan racun, ia kemudian dikenal sebagai Sagara.

Rsi Ourva memberikan pendidikan kepada Sagara. Dia memberi Sagara pengetahuan tentang semua shastra dan juga penggunaan senjata. Antara lain, Sagara memperoleh keterampilan menggunakan senjata ilahi yang dikenal sebagai agneyastra.

Ketika dia tumbuh dewasa, Sagara menyerang raja-raja Haihaya dan mengalahkan mereka melalui penggunaan senjata agneyastra. Dia kemudian mengalahkan para Shaka, Yawana, Parada, Kamboja dan Pahlava dan akan membunuh mereka semua. Tetapi para musuh ini melarikan diri ke Washishtha bijak untuk berlindung dan Washishtha membujuk Sagara untuk tidak membunuh musuhnya. Sebagai ganjaran atas kekalahannya, kepala para keturunan Shaka dicukur setengah. Para Yavana dan Kamboja benar-benar dicukur habis. Para Pahlawa diperintahkan agar harus memelihara janggut. Raja-raja musuh ini juga kehilangan hak untuk mengikuti agama yang ditetapkan dalam Veda. Kerajaan-kerajaan yang berhasil dikalahkan Sagara antara lain, Konasarpa Mahishaka, Darva, Chola dan Kerala.

Raja Sagara memiliki dua istri. Yang pertama bernama Keshini dan dia adalah putri raja Vidarbha. Brahma Purana tidak memberi tahu kita nama istri kedua, tetapi dari epos cerita  Mahabharatakita tahu bahwa nama istri keduanya adalah Sumati. Keshini dan Sumati tidak memiliki putra. Karena itu mereka mulai berdoa kepada Ourva agar mereka dapat memiliki putra.

Ourva senang mendengar doa-doa ini dan berkata, kalian berdua akan memiliki putra. Tetapi salah satu dari Anda akan memiliki satu putra dan satu lainnya akan memiliki enam puluh ribu putra. Katakan padaku, siapa yang mau apa.

Keshini meminta seorang putra tunggal dan Sumati meminta enam puluh ribu putra. Pada waktunya, Keshini melahirkan seorang putra bernama Panchajana. Sumati melahirkan labu. Di dalam labu ada benjolan daging. Labu ditempatkan di dalam panci penuh mentega (ghrita). Dan dari benjolan daging itu lahir enam puluh ribu putra.

Raja Sagara melanjutkan untuk menaklukkan seluruh bumi. Sebagai pengakuan atas penaklukan ini, ia memprakarsai ashvamedha yajna (pengorbanan kuda). Dalam upacara ini, kuda korban dibiarkan bebas berkeliaran di seluruh bumi. Enam puluh ribu putra menemani kuda sebagai gardanya. Kuda itu akhirnya mencapai tepi lautan yang terletak di arah tenggara. Sementara putra-putra Sagara sedang beristirahat, kudanya dicuri. Para putra mulai mencari kuda dan mulai menggali pasir. Dalam proses ini, mereka menemukan Kapila yang bijaksana. Kapila telah bermeditasi dan meditasinya terganggu oleh hiruk-pikuk mengerikan yang dilakukan putra-putra Sagara. Dia menatap mereka dengan marah dan semua kecuali empat putra dibakar menjadi abu. Keempat putra yang diselamatkan bernama Varhiketu, Suketu, Dharmaketu dan Panchajana.

Brahma Purana menceritakan bahwa kuda kurban tersebut akhirnya diperoleh oleh Sagara dari laut. Itulah alasan mengapa samudera disebut sebagai sagara.

Brahma Purana menceritakan, putra Panchajana adalah Amshumana dan putra Amshumana adalah Dilipa. Dilipa memiliki seorang putra bernama Bhagiratha. Bhagiratha membawa sungai Gangga dari surga ke bumi dan dengan demikian menebus dosa leluhurnya yang telah dibakar menjadi abu oleh Kapila. Karena inilah sungai Gangga kemudian dikenal sebagai Bhagirathi.

Dari Bhagiratha diturunkan Raghu. Putra Raghu adalah Aja. Putra Aja adalah Dasharatha dan putra Dasharatha adalah Rama (yang terkenal dalam epos cerita Ramayana). 



Tuesday, May 7, 2019

Trishanku

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Dari Dridashwa lahirlah seorang raja yang bernama Trayaruni. Trayaruni adalah seorang raja yang baik dan mengikuti semua ajaran-ajaran dalam kitab suci. Tetapi putra Trayaruni yang bernama Satyawrata memiliki sifat yang bertolak belakang dengan ayahnya dan dia menolak mengikuti jalan kebenaran. Pemimpin agama raja Trayaruni adalah seorang rsi agung yang bernama Washishtha. Washishtha menyarankan raja agar anaknya yang memiliki sifat iblis itu diusir dari kerajaan. Trayaruni mengikuti saran rsi. Sebagai akibatnya Satyawrata mulai tinggal bersama orang-orang buangan (chandala) lainnya di luar kerajaan.

Setelah beberapa waktu berlalu, Trayaruni melepaskan kerajaannya dan pergi ke hutan. Kerajaan tidak memiliki raja dan mulai kea rah anarki. Ketiadaan raja juga menjadi perhatian para dewata dan selama 12 tahun terjadi kemarau yang mengerikan.

Wishwamitra merupakan salah satu rsi agung selain Washishtha. Pada saat kejadian itu terjadi, Wishwamitra sedang tidak berada di kerajaan tersebut. Dia sedang bertapa di tepi pantai, meninggalkan istri dan anaknya yang tinggal di kediaman (ashrama) yang berada di kerajaan tersebut. Karena kemarau yang panjang, penduduk kerajaan mulai kelaparan. Istri Wishwamitra memutuskan untuk menjual putranya untuk mendapatkan makanan. Dia mengikatkan tali ke leher anaknya dan membawanya ke pasar. Disana dia menjualnya dengan menukarkanya dengan 1.000 sapi. Karena tali terikat di lehernya (dalam bahasa Sansekerta disebut "gala"), kemudia dia dikenal sebagai Galawa. 

Satyawrata menemukan apa yang menimpa keluarga Wishwamitra tersebut. Dia kemudian membebaskan Galawa dan merawat istri Wishwamitra beserta anak-anaknya. Satyawrata sangat tidak menyukai Washishtha. Dia menyalahkan Washishtha atas pembuangan dirinya. Pada saat terjadi kelaparan dimana-mana, dia mencuri sapi milik Washishtha. Dia membunuh sapi dan menghidangkannya kepada putra-putra Wishwamitra dan sebagianya untuk dirinya sendiri.

Wishwamitra sangat marah mengetahui kejadian ini. Dia mengutuk Satyawrata.

"Kamu telah melakukan tiga dosa (dosa bahasa Sansekertanya adalah "shanku"). Pertama kamu telah membuat ayahmu marah. Kedua kamu telah mencuri dan membunuh sapi. Ketiga kamu telah makan daging sapi (daging terlarang). Karena itu, kamu akan dikenal sebagai Trishanku dan terkutuk selamanya", kata Washishtha. 

Bagaimanapun juga Satyawrata telah merawat keluarga Wishwamitra dan pada saat sang rsi pulang, Wishwamitra senang dengan dengan apa yang telah Trishanku lakukan dan menawarkannya sebuah anugerah. Trishanku berkeinginan untuk bisa pergi ke surga dengan tubuh fisiknya tersebut. Berkat kekuatan tapasya Wishwamitra, tugas yang kelihatannya tidak mungkin itu menjadi selesai. Trishanku akhirnya menjadi raja di kerajaan milik Trayaruni dan Wishwamitra menjadi kepala rsi agung disana.


Wednesday, April 10, 2019

Kubalashwa

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kubalashwa adalah keturunan dari Kakutstha. Ayah Kubalashwa bernama Wrihadashwa.

Setelah Wrihadashwa memerintah selama beberapa tahun, dia berniat untuk pensiun di hutan. Oleh karena itu dia mempersiapkan untuk menyerahkan kerajaannya kepada Kubalashwa. Melihat ketetapan hati raja Wrihadashwa, seorang rsi bernama Utanka dating menemui raja.

Utanka berkata, “Jangan pergi ke hutan. Kediaman (ashrama) saya di pinggir pantai di kelilingi pasir dari semua arah. Raksasa yang kuat yang bernama Dhundhu tinggal di bawah pasir. Dia sangat kuat, bahkan para dewa pun tidak mampu membunuhnya. Setiap tahun, dia menghembuskan nafas yang menimbulkan badai debu dan pasir yang luar biasa. Dalam seminggu penuh, matahari akan tertutup debu dan aka nada gempa bumi akibat dari pernapasan Dhundhu tersebut. Hal ini mengganggu meditasi (tapasya) saya. Anda jangan pergi ke hutan dulu sebelum melakukan sesuatu terhadap Dhundhu. Hanya anda yang dapat membunuhnya. Saya telah mengumpulkan kekuatan dari tapasya saya dan saya akan memberikannya kepada anda agar anda bisa membunuh Dhundhu.”

Wrihadashwa mengatakan kepada Utanka bahwa tidak perlu Wrihadashwa sendiri yang harus membunuh Dhundhu. Wrihadashwa tetap akan pergi ke hutan seperti yang sudah dia tetapkan. Putranyalah yang bernama Kubalashwa yang akan membantu Utanka untuk membunuh Dhundhu.

Kubalashwa beserta seratus putranya pergi ke pantai dan mulai menggali, berharap dapat menemukan Dhundhu. Dhundhu menyerang putra-putra Kubalashwa tetapi 3 berhasil kabur. Mereka adalah Dridashwa, Chandrashwa, dan Kapilashwa. Tetapi Dhundhu sendiri berhasil membunuh Dhundhu. Karena Kubalashwa berhasil membunuh Dhundhu maka ia juga dikenal dengan nama Dhundhumara. Rsi Utanka memberikan berkat kepada Kubalashwa dan melalui berkat dari rsi, putra-putra Kubalashwa yang telah mati naik ke surga.


Hasil gambar untuk raksasa penguasa pasir

Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci)

Purana Agni Purana Kitab Suci Agama Hindu Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci) Prahlada memiliki cucu yang sangat kuat bernama Vali. Sa...