Daftar Isi

Thursday, August 30, 2018

Sang Upamanyu

SIWA PURANA


Upamanyu


Rsi Wyaghrapada memiliki seorang putra bernama Upamanyu. Ketika Upamanyu kecil, dia meminta susu dari ibunya. Tetapi dia sama sekali tidak senang dengan susu yang diberikan ibunya. Dia mengeluh bahwa susu itu tidak terasa seperti susu sama sekali.

"Tentu. Itu bukan susu. Bagaimana kita bisa membeli susu? Kita ini miskin. Itu adalah bubuk beras yang dicampur dengan air. Itulah yang bisa ibu berikan kepadamu sebagai susu. Sayangnya, kamu telah lebih dulu mencicipi susu di rumah pamanmu sehingga kamu bisa tahu perbedaannya", kata ibunya.

Ibu Upamanyu mulai menangis. Tapi Upamanyu menghibur ibunya. "Jangan menangis, ibu. Saya akan berdoa kepada Siwa dan mendapatkan susu untuk diri saya sendiri", katanya.

Ibunya mengajarinya mantra yang akan digunakan untuk berdoa kepada Siwa. Dia juga mengajarinya mantra lain yang akan memanggil senjata ilahi yang mengerikan bernama aghorastra. Ini hanya untuk berjaga-jaga jika ada bahaya.

Upamanyu pergi ke Himalaya dan mulai bermeditasi. Dia hanya hidup di udara dan melantunkan mantra yang ibunya ajarkan padanya. Dia berdoa di depan lingga yang terbuat dari tanah. Setan datang untuk mengganggu meditasinya, tetapi Upamanyu tidak memperhatikan mereka. Siwa sendiri terkesan dengan tapasya yang sulit dari Upamanyu. Namun beliau berpikir bahwa akan menguji Upamanyu terlebih dahulu.

Dia tiba di depan Upamanyu dengan penyamaran sebagai Indra dan bertanya, "Upamanyu, apa yang kamu lakukan?"

"Oh, saya hari ini sudah diberkati karena raja para dewa telah tiba di hadapan saya", jawab Upamanyu. "Saya sedang berdoa kepada Siwa".

"Siwa? Mengapa berdoa kepada dewa yang tidak berguna itu?", tanya Siwa yang sedang menyamar sebagai Indra.

Upamanyu tidak tahan dengan penghinaan terhadap Siwa ini. Dia memanggil aghorastra dengan menggunakan mantra dan membiarkannya menyerang pada orang yang dia pikir adalah Indra. Siwa kemudian memanifestasikan dirinya dalam wujudnya sendiri dan aghorastra ditangkis oleh Nandi, yang juga muncul saat itu juga. Siwa sendiri mengajarkan Upamanyu segala macam pengetahuan suci, dan pengaturan dibuat agar Upamanyu tidak perlu menderita karena kekurangan susu.

Krishna pernah datang untuk menemui sang bijak Upamanyu, bertahun-tahun setelah peristiwa susunya. Upamanyu mengajarkan Krishna kata-kata kebijaksanaan yang dia pelajari dari Siwa; dia juga mengajarkan Krishna untuk berdoa kepada Siwa. Itulah sebabnya dengan berdoa kepada Siwa, Krishna memperoleh putranya (Samba). Selama enam belas bulan Krishna harus berdoa sebelum Siwa muncul, untuk memberikan anugerah berkenaan dengan putranya. Parwati juga memberi Krishna beberapa pujian dan anugerah.


Parwati Menjadi Gouri

SIWA PURANA


Parwati Menjadi Gouri


Ada dua asura bernama Shumbha dan Nishumbha. Mereka banyak bermeditasi dan Brahma senang. Brahma kemudian memberi mereka anugerah bahwa mereka tidak dapat dibunuh oleh laki-laki. Setelah memperoleh anugerah, kedua asura itu mulai menindas dunia. Mereka mengusir para dewa dari surga dan para dewa pergi ke
Brahma sehingga solusi dapat ditemukan untuk masalah ini.


Brahma pergi ke Siwa, “Anda harus membantu para Dewa. Saya telah memberikan Shumbha dan Nishumbha anugerah bahwa mereka tidak dapat dibunuh oleh laki-laki. Temukan cara agar seorang wanita lahir dari tubuh Parwati. Dia akan membunuh Shumbha dan Nishumbha”.

“Saya akan mencoba”, jawab Shiva.

Ketika Siwa bertemu Parwati, beliau memanggil Parwati sebagai Kali. Ini membuat Parwati marah, karena Kali berarti hitam atau gelap.

“Mengapa kamu menikahiku jika kamu pikir aku sangat gelap? Kenapa kamu pura-pura mencintaiku? Terkutuklah wanita yang tidak dicintai oleh suaminya. Saya akan melakukan tapasya sehingga saya bisa menjadi putih. Saya akan berdoa kepada Brahma”, kata Parwati.


Parwati pergi untuk bermeditasi. Dia bermeditasi selama bertahun-tahun.
Ada harimau yang melihat Parwati bermeditasi. Harimau itu adalah harimau yang jahat. Ia berpikir bahwa Parwati akan adalah makanan yang enak. Harimau itu duduk di depan Parwati untuk menunggu Parwati selesai bermeditasi barulah ia akan memakannya. Parwati tidak menyadari bahwa harimau itu berencana untuk memakannya. Dia berpikir bahwa harimau itu duduk di depannya karena ingin melindunginya dari binatang buas lainnya. Dia berpikir bahwa harimau itu adalah salah satu pengikutnya dan karena itu Parwati memasuki jiwa harimau.

Segera setelah dia melakukannya, semua pikiran jahat lenyap dari pikiran harimau. Sekarang harimau itu menjadi salah satu dari pemujanya.

Sementara itu, Brahma datang untuk mencari tahu untuk apa Parwati bermeditasi. Parwati mengatakan bahwa dia ingin menjadi Gouri, yaitu seseorang yang putih. Dia sakit hati karena telah dipanggil sebagai Kali. Brahma akhirnya mengabulkannya.
Parwati melepaskan semua sel-sel gelap (kosha) dari tubuhnya dan menjadi Gouri. Dari sel-sel gelap itu muncul dewi berwarna gelap bernama Koushiki. Parwati kemudian menyerahkan Koushiki ke Brahma.

Diberkahi dengan senjata oleh Brahma, Koushiki membunuh Shumbha dan Nishumbha.


Parwati kembali ke suaminya sebagai Gouri.

Apa yang terjadi pada harimau itu? Siwa mengubahnya menjadi seorang pria dan dia ditugaskan oleh Nandi sebagai salah satu penjaga Siwa. Dia bernama Somanandi.






Tuesday, August 28, 2018

Hirarki Waktu

SIWA PURANA



Waktu


Satuan unit terkecil dari waktu adalah nimesha. Ini sama dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk berkedip. 

15 nimesha sama dengan 1 kashtha dan 30 kashtha sama dengan 1 kala. 

30 kala sama dengan 1 muhurta dan 30 muhurta sama dengan 1 hari. 

30 hari sama dengan 1 bulan. 1 bulan dibagi menjadi 2 malam yang indah, shukapaksha (waktu 15 hari sejak bulan mati) dan krishnapaksha (waktu 15 hari sejak bulan penuh). 
6 bulan disebut ayana. Ada 2 ayana dalam 1 tahun. 

360 tahun manusia setara dengan 1 tahun untuk para dewa.

Panjang dari 4 yuga (zaman) itu didefinisikan dalam tahunnya para dewa, bukan dalam tahun manusia. Ada 4 yuga dan nama-nama dari setiap yuga yaitu kritayuga atau satyayuga, tretayuga, dwaparayuga dan kaliyuga. 

Satyayuga berlangsung selama 4.000 tahun ilahi, tretayuga selama 3.000 tahun ilahi, dwaparayuga selama 2.000 tahun ilahi dan kaliyuga untuk 1.000 tahun ilahi. Jika dijumlahkan akan menjadi 10.000 tahun ilahi. 

Sandhya dan sandhyamsha adalah periode peralihan antar yuga dan periode peralihan ini jika dijumlahkan berlangsung selama 2.000 tahun ilahi. Dengan demikian, 4 yuga jika diambil bersama-sama berlangsung selama 12.000 tahun ilahi.

Dalam setiap kalpa (siklus), masing-masing dari empat yuga terjadi sebanyak 1.000 kali. Setiap kalpa memiliki 14 manwantara (era). Dalam manwantara, masing-masing dari empat yuga terjadi 71 kali.

1 kalpa adalah satu hari untuk Brahma. 

1.000 kalpa adalah 1 tahun Brahma dan 8.000 tahun Brahma merupakan salah 1 yuga Brahma. 

1.000 yuga Brahma tersebut membentuk 1 sawana dan Brahma hidup untuk 3.000 sawana. Periode ini dikenal sebagai triwrita.

Pada setiap 1 hari Wisnu, satu Brahma lahir dan meninggal. Dan setiap 1 hari Siwa, satu Wisnu lahir dan meninggal.




Daksa Yadnya

SIWA PURANA


Daksa Yadnya


Para resi bijak berkata, “Romaharshana, Anda belum menceritakan kisah pertengkaran antara Daksa dan Siwa yang menyebabkan kematian Sati. Anda hanya menyebutkannya secara sepintas. Ceritakan kisahnya sekarang”.
Romaharshana menceritakan kisah berikut sebagai berikut:

Putri Daksa, Sati, menikah dengan Siwa. Suatu hari, para dewa, iblis dan para rsi bijak datang mengunjungi Siwa dan Sati di Himalaya. Daksa menemani dewa-dewa lain pada kunjungan ini. Ketika para dewa tiba, Siwa duduk dan tidak bangun. Dia menunjukkan tidak ada hormat sama sekali khusus untuk Daksa walaupun Daksa adalah ayah mertua Siwa. Daksa menafsirkan ini sebagai tanda tidak hormat dan dia merasa terhina.

Selanjutnya, Daksa mengatur sebuah yadnya dan mengirim undangan untuk semua menantu laki-lakinya yang lain dan istri mereka. Tetapi dia tidak mengundang Siwa atau Sati. Sati mendengar tentang upacara yadnya itu dan memutuskan bahwa dia akan menghadiri upacara itu, baik ada undangan atau tidak ada undangan. Dalam wimana yang indah, Sati pergi ke rumah ayahnya.

Daksa sama sekali tidak senang melihat Sati. Bahkan, dia mengabaikannya sepenuhnya dan mencurahkan seluruh perhatiannya pada putri-putrinya yang lain. Ketika Sati ingin mengetahui alasannya, Daksa memberi tahu dia bahwa ini adalah karena suaminya, yang kebetulan menjadi menantu yang tidak berharga dan tidak pantas dihormati. Mendengar ini, Sati mengakhiri hidupnya.

Gunung Himalaya telah berdoa agar Sati dilahirkan sebagai putrinya. Dan Sati akhirnya lahir sebagai putrinya yang kemudian diberi nama Parwati dan menikahi Siwa lagi. Kisah ini sudah Anda ketahui.

Beberapa tahun kemudian, Daksa memutuskan untuk mengadakan yadnya ashwamedha (pengorbanan kuda) di Himalaya. Para dewa dan para resi semua diundang untuk pengorbanan ini, meskipun Siwa tidak berada di antara undangan. Rsi Dadhichi tidak suka hal ini dan dia berdoa kepada Siwa untuk menggagalkan yadnya ini sebagai rasa protes.

Parwati mendengar tentang pengorbanan ini dan dia mulai menghasut Siwa untuk melakukan sesuatu. Siwa menciptakan seorang bernama Wirabhadhra. Wirabhadhra bersinar dengan energinya dan dia memiliki ribuan mulut dan mata. Rambutnya berkilau seperti cahaya dan tangannya penuh dengan segala macam senjata. Ketika dia berbicara, suaranya seperti guntur. Dari tubuhnya, Wirabhadra menciptakan iblis perempuan bernama Bhadrakali.

“Apa tugas kami?”, tanya Virabhadra dan Bhadrakali dari Siwa.

“Pergi dan hancurkan Yadnya Daksa”, perintah Siwa.

Untuk membantu dalam upaya mereka, Wirabhadra menciptakan beberapa iblis lain dari bagian tubuhnya. Mereka semua memiliki seribu senjata. Wirabhadra, Bhadrakali, dan iblis-iblis lainnya menuju upacara yadnya Daksa.

Ketika mereka sampai di sana, mereka menemukan bahwa upacara sudah dimulai dan api suci terbakar. Para rsi sedang membaca nyanyian pujian dan para dewa sedang memperhatikan. Alat musik sedang dimainkan. Wirabhadra meraung dan suara raungannya begitu mengerikan sehingga beberapa dewa mulai melarikan diri. Bumi berguncang dengan suara raungan Wirabhadra. Ada gelombang pasang di lautan.

Daksa ketakutan. Tapi dia mengumpulkan keberanian dan bertanya, “Siapa kamu dan mengapa kamu datang ke sini?”

“Kami adalah pegikut Siwa dan kami ikut ambil bagian dalam yadnya”, jawab Wirabhadra.

Wirabhadra dan para iblis lainnya kemudian mulai membakar struktur tempat upacara yadnya itu diadakan. Mereka mengikat para rsi dan membuang semua persembahan. Dengan senjata mereka, mereka menyerang para dewa. Apa pun perlawanan yang diarahkan oleh para dewa dapat ditangkis oleh tombak Wirabhadra dan tombak Bhadrakali. Dewi Saraswati kehilangan hidungnya dan dewa Agni kehilangan lengannya. Sang Bhaga yang bijak telah dicungkil matanya dan sang bijak Pusha kehilangan semua giginya. Wirabhadra memotong kepala Daksa dan memberikannya kepada Bhadrakali, yang selanjutnya ditendang seperti seseorang menendang bola. Ribuan dewa mati dan upacara yadnya menjadi medan perang.

Wisnu mencoba melawannya. Wisnu dan Wirabhadra saling menembakan panah. Tetapi salah satu anak panah Wirabhadra mengenai Wisnu di dada dan beliau jatuh pingsan.

Brahma, para dewa mulai berdoa kepada Siwa. Doa-doa ini menenangkan Siwa dan Siwa meminta Wirabhadra dan Bhadrakali untuk menahan diri.

Brahma bertanya, “Bagaimana dengan para dewa yang telah terbunuh? Tolong buat mereka hidup kembali”.

Karena kemarahan Siwa telah diredakan, beliau memulihkan kehidupan para dewa yang mati. Mereka yang kehilangan bagian-bagian dari anatomi mereka mendapatkanya lagi. Tapi apa yang harus dilakukan tentang Daksa? Kepalanya tidak bisa ditemukan. Oleh karena itu kepala Daksa diganti dengan kepala kambing. Setelah kembali hidup, Daksa memohon pengampunan Siwa.



Monday, August 27, 2018

Nandi

SIWA PURANA


Nandi


Ada seorang rsi bernama Shilada. Dia pernah melihat bahwa leluhurnya disiksa di neraka. Ketika dia mencoba mencari tahu mengapa demikian, dia diberi tahu bahwa itu disebabkan karena Shilada belum memiliki seorang putra.

Untuk mendapatkan seorang putra, Shilada mulai berdoa kepada Siwa. Dia berdoa selama seribu tahun. Pada akhir tapasya, Siwa muncul dan menawarkan untuk memberi Shilada anugerah. Shilada menginginkan anugerah bahwa ia memiliki putra yang berbudi luhur.

Beberapa hari kemudian, ketika Shilada sedang membajak tanah, dia menemukan bayi laki-laki di pisau bajaknya. Anak lelaki itu secerah matahari dan api. Shilada ketakutan dan mulai melarikan diri. Tapi anak itu memanggilnya, “Ayah, berhenti. Ayah, berhenti”. Suara itu seperti terdengar dari langit. Suara ini memberitahu Shilada bahwa ia adalah putra yang Shilada inginkan. Karena putra ini kelak akan membuat semua orang senang, putra ini diberi nama Nandi.

Shilada membawa pulang nandi ke rumahnya. Dia mengajarkan putranya Weda, seni obat dan seni bela diri, menari dan menyanyi dan beberapa teks suci lainnya. Semua ini Nandi kuasai dalam waktu lima belas hari.

Ketika nandi berusia tujuh tahun, dua orang rsi yang hebat tiba di pertapaan Shilada. Nama mereka adalah Mitra dan Waruna. Shilada memuja mereka dan menitipkan Nandi kepada mereka. Orang-orang suci itu memberkati Nandi dengan kata-kata, “Belajarlah, setia kepada gurumu.

Shilada berkata, ”Rsi, mengapa Anda tidak memberkati anak saya dengan umur panjang?”

“Kami tidak bisa. Putramu akan mati ketika dia berumur delapan tahun. Itu tertulis di perbintangnya”, kata rsi itu.

Shilada sangat sedih mendengar hal ini, tetapi Nandi menghibur ayahnya. Dia berjanji pada ayahnya bahwa dia akan melakukan sesuatu sehingga nasibnya harus ditulis ulang. Dia akan berdoa kepada Siwa. Dan ketika dia bertemu dengan Siwa, dia akan meminta anugerah kepadanya.

“Bertemu Siwa. Saya harus bermeditasi selama seribu tahun sebelum saya bisa bertemu dengan Siwa. Bagaimana kamu berharap untuk bertemu dengan Siwa dalam satu tahun yang tersisa untukmu?”, kata Shilada.

“Tunggu dan lihat, ayah. Siwa sulit untuk ditemui jika kita hanya melakukan tapasya atau hanya mencari pengetahuan. Rahasianya terletak pada iman dan pengabdian. Saya akan mengaturnya”, jawab Nandi.

Ada sungai bernama Bhuwana. Nandi memasuki sungai ini dan memulai bertapa di bawah air untuk Siwa. Usahanya tersebut membuat Siwa senang dan Siwa akhirnya muncul di hadapannya.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Siwa.

“Tolong beri saya anugerah sehingga saya bisa berbakti kepada Anda. Saya tidak ingin dilahirkan menjadi tua dan mati”, jawab Nandi.

Siwa memberi Nandi anugerah itu dan ayahnya akan tinggal di kediaman Siwa di Siwaloka. Pengikut Siwa dikenal sebagai gana. Siwa membuat Nandi menjadi  ganapati, kepala para gana dan membuatnya menjadi abadi. Siwa juga memberi Nandi kalung yang indah untuk dipakai Nandi.

Begitu Nandi memakai kalung ini, Nandi menjadi gemilang dengan tiga mata dan sepuluh tangan.


Abu di Tubuh Siwa

SIWA PURANA


Abu di Tubuh Siwa


Parwati berkata, “Saya mengerti tentang mengapa bulan ada di kepala Anda sekarang. Tapi kenapa Anda selalu mengoleskan abu ke tubuh Anda sendiri? Apa alasan untuk itu?”

Siwa menceritakan kisahnya.

Dulu ada seorang brahmana yang merupakan keturunan dari Bhrigu, sang rsi agung. Brahmana ini memulai tapasya yang sangat sulit. Panas musim panas yang luar biasa tidak ada bedanya baginya. Ia juga tidak terganggu musim hujan. Dia hanya tertarik untuk bermeditasi. Ketika dia merasa lapar, dia biasa bertanya pada beruang, rusa, singa dan serigala untuk mengantarkannya beberapa buah. Binatang buas itu telah jinak, mereka malah melayani brahmana ini. Kemudian, brahmana tersebut mulai berhenti makan buah-buahan. Dia kemudian hanya makan daun hijau. Dan karena daun bahasa Sansekertanya disebut parna, maka brahmana ini kemudian dikenal sebagai Parnada. Dia melakukan tapasya selama bertahun-tahun.

Suatu hari, Parnada memotong rumput dengan sabit dan sabitnya tergelincir sehingga memotong jari tengahnya. Parnada takjub menemukan bahwa tidak ada darah yang keluar jari yang putus. Namun, justru getah yang keluar (seperti halnya tanaman yang putus). Kesombongan Parnada mulai muncul.

Dia menyadari bahwa hal itu karena dia telah hidup hanya dengan makan daun hijau untuk waktu yang lama. Parnada mulai melompat gembira.

Siwa memutuskan bahwa Parnada perlu diberi pelajaran. Beliau menyamar sebagai brahmana dan tiba di kediaman Parnada.

“Kenapa kamu sangat bahagia?” tanya Siwa.

“Tidak bisakah kamu lihat? Tapasya saya telah begitu sukses sehingga darah saya menjadi seperti getah tumbuhan”, jawab Parnada.

“Kebanggaan ini akan menghancurkan hasil dari semua tapasya. Apa yang membuat Anda begitu bangga tentang hal itu? Darahmu hanya berubah menjadi getah tanaman. Apa yang terjadi ketika

Anda membakar tanaman? Mereka menjadi abu. Saya sendiri telah melakukan begitu banyak tapasya sehingga darah saya menjadi abu”, kata Siwa.

Siwa memotong jari tengahnya dan abu mulai keluar dari jarinya. Parnada terkagum-kagum. Dia menyadari bahwa tidak ada yang bisa dia banggakan. Sekarang disini sudah ada pertapa yang jauh lebih hebat dari dia. Dia bertanya kepada Siwa siapa dia sebenarnya dan Siwa kemudian menampilkan wujud aslinya untuk Parnada.

Sejak hari itu, selalu ada abu di tubuh Siwa.


Chandrashekhara

SIWA PURANA


Chandrashekhara


Parwati pernah bertanya kepada Siwa, “Tuhan, beri tahu saya, mengapa Anda memakai bulan sabit di kepala Anda? Apa cerita apa dibalik itu?”

Siwa menceritakan kisahnya.

Sebelumnya, Parwati dilahirkan sebagai Sati, putri Daksha. Sati telah menikah dengan Siwa. Karena Daksha menghina suaminya (Siwa), Sati menyerahkan hidupnya.

Ketika Sati meninggal, Siwa tidak lagi menemukan kebahagiaan dalam segala hal. Beliau mulai tinggal di hutan dan mulai melakukan tapasya. Kekuatan tapasya Siwa membuat setiap pohon atau gunung yang berada di dekat tempat di mana Siwa bermeditasi terbakar menjadi abu. Ketika Siwa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bumi mulai terbakar dan kering. Para dewa sangat cemas terhadap hal ini. Mereka pergi ke Brahma untuk mencari solusi tentang bagaimana bumi bisa diselamatkan.

Brahma berkata, “Mari kita mengambil dewa bulan (Chandra) dan memberikannya sebagai hadiah kepada Siwa. Wajah Chandra sangat menyenangkan mungkin Siwa merasa bahagia dan tenang”.

Para dewa menempatkan Chandra dalam pot amerta (minuman yang memberi hidup abadi). Mereka juga memiliki pot lain yang penuh racun. Dengan dua pot ini mereka pergi ke Siwa dan menawarinya pot.

Brahma berkata, “Para dewa telah membawakan Anda dua pot. Tolong terimalah kedua pot itu”.

Siwa pertama menerima pot yang berisi amerta. Segera setelah beliau membuka pot itu, bulan sabit keluar dan menghiasi kepala Siwa. Berikutnya Siwa menerima pot racun dan menyentuhnya dengan jari tengahnya. Beliau kemudian menyentuh tenggorokannya dengan jari dan tenggorokannya segera menjadi biru. Itulah alasan mengapa Siwa dikenal sebagai Nilakantha. Dan karena bulan seperti mahkota di kepala Siwa, Siwa disebut Chandrashekhara.

Saat melihat bulan, Siwa merasa tenang.


Sunday, August 26, 2018

Brata Siwaratri 2

SIWA PURANA


Brata Siwaratri 2


Dulu di kota Avanti, ada seorang brahmana yang baik. Dia memiliki dua orang putra yang bernama Sunidhi dan Wedanidhi. Wedanidhi adalah orang jahat.

Raja Avanti sangat senang dengan brahmana itu sehingga dia memberikan gelang emas sebagai hadiah. Brahmana itu membawa gelang emas itu pulang dan memberikannya kepada istrinya untuk disimpan dengan aman. Tetapi kemudian gelang emas itu ditemukan oleh Wedanidhi. Wedanidhi mencuri gelang emas itu dan memberikannya kepada seorang gadis penari.

Suatu hari secara kebetulan raja sedang menonton tarian yang dilakukan oleh gadis penari itu dan dia memperhatikan gelang di tangan gadis itu. Dia menemukan bahwa gelang emas yang dipakai gadis itu adalah gelang emas yang telah diberikan kepada brahmana. Raja mengambil gelas emas itu dan memanggil brahmana. "Apakah kamu ingat gelang emas yang aku berikan padamu? Bisakah kamu mengembalikannya padaku? Saya membutuhkannya", kata raja.

Brahmana itu bergegas pulang dan meminta istrinya mencari gelang emas itu. Tetapi gelang emas itu tidak dapat ditemukan dan mereka menyadari bahwa Wedanidhilah yang telah mencurinya. Wedanidhi diusir dari rumah orang tuanya.

Wedanidhi berkeliaran ke sana-sini dan meminta-minta makanan agar bisa makan. Suatu hari, dia tidak mendapatkan makanan sama sekali. Hari itu adalah hari Siwaratri. Tetapi Wedanidhi tidak mengetahui hal ini. Dia melihat beberapa orang pergi ke kuil Siwa dengan segala macam persembahan, termasuk makanan, di tangan mereka. Brahmana yang jahat berpikir bahwa dia mungkin bisa mencuri dan memakan makanan itu. Dia mengikuti para penyembah ke kuil dan menunggu sampai mereka tertidur.

Ketika malam hari saat mereka tertidur, Wedanidhi naik ke tempat di mana persembahan telah ditempatkan. Tempat persembahan itu tepat di depan lingga Siwa. Di sana sangat gelap dan Wedanidhi tidak bisa melihat dengan baik. Sebuah lampu menyala dan bayangan lampu jatuh pada lingga. Wedanidhi merobek sepotong kain dari pakaiannya dan memasukkannya ke dalam pelita sehingga bisa membakarnya lebih baik. Api menyala dan bayangan pada lingga dihilangkan.

Tetapi ketika Vedanidhi hendak mencuri makanan, para bakta terbangun. Mereka mengejar pencuri dan menembaknya dengan panah. Panah-panah ini mengenai Wedanidhi dan dia mati.

Para utusan Yama tiba dan ingin membawa brahmana yang jahat itu (Wedanidhi) ke neraka. Tetapi pengikut Siwa juga tiba disana dan mereka tidak mengizinkan Wedanidhi dibawa ke neraka. Brahmana itu telah berpuasa pada hari Siwaratri, dia tetap terjaga di malam hari dan dia telah menyingkirkan bayangan dari lingga Siwa. Ini adalah tindakan orang beriman, bahkan jika hal itu telah dilakukan tanpa disadari. Semua dosa Wedanidhi semuanya diampuni.



Saturday, August 25, 2018

Brata Siwaratri

SIWA PURANA


Brata Siwaratri


Siwaratri adalah tithi (hari suci berdasarkan perhitungan bulan/Lunar Day) di mana Brahma dan Wisnu telah menyembah Siwa. Brata adalah ritual keagamaan khusus yang dilakukan. Brata yang dilakukan pada Siwaratri (malam yang didedikasikan untuk Siwa) sangat penting. Brata ini akan membawa Punia yang abadi. Seseorang harus tetap terjaga di malam hari dan berdoa kepada lingga Siwa. Seseorang juga harus menjalankan puasa.

Dulu ada seorang pemburu bernama Rurudruha. Dia sama sekali tidak pernah melakukan sesuatu yang baik. Dia sangat jahat dan kejam. Dia membunuh banyak rusa dan dia juga seorang perampok dan pencuri. Tentu saja, Rurudruha tidak tahu apa-apa tentang Siwaratri Brata.

Tapi kebetulan hari itu adalah Siwaratri. Mereka meminta Rurudruha pergi dan mencari daging agar mereka bisa makan. Pemburu itu pergi ke hutan untuk membunuh rusa, tetapi tidak dapat menemukannya. Saat itu sudah malam dan tidak ada apapun yang bisa dilihat. Rurudruha menemukan sebuah kolam air dan memutuskan bahwa dia akan berjaga-jaga di sana. Cepat atau lambat, beberapa hewan pasti muncul. Dia memanjat ke pohon bilwa yang berada di sisi kolam. Jika dia merasa haus, dia sudah menyiapkan tempat air di sebelahnya. Di sana dia menunggu.

Segera seekor rusa muncul untuk minum air. Pemburu mengambil busur dan anak panahnya. Ketika dia akan menembakkan anak panahnya, pohon itu bergoyang dan beberapa daun bilwa jatuh pada lingga yang berada tepat di bawah pohon. Daun Bilwa suci bagi Siwa. Beberapa air tumpah juga tumpah dari tempat air yang ada di sebelahnya dan jatuh pada lingga Siwa. Rurudruha tentu saja tidak tahu ini.

Tapi rusa itu lebih dulu melihat ada pemburu dan berkata, “Jangan bunuh aku sekarang. Anak-anak dan suami saya ada di rumah. Biarkan saya pergi dan biarkan aku mengucapkan salam perpisahan. Saya akan kembali lagi kesini dan anda dipersilakan untuk membunuh saya.

Pemburu tidak berminat untuk membiarkan rusa betina itu pergi. Apakah seekor hewan akan kembali lagi untuk dibunuh? Namun, rusa itu mengambil sumpah dan Rurudruha melepaskannya.

Setelah beberapa saat, rusa betina lainnya muncul untuk minum air. Ternyata rusa itu adalah saudara rusa betina yang sebelumnya dan ternyata mereka menikah dengan rusa jantan yang sama. Seperti sebelumnya, pohon bergetar dan daun bilwa dan beberapa air jatuh pada lingga.

Si rusa melihat pemburu dan berkata, “Tunggu beberapa saat sebelum kamu membunuhku. Biarkan saya mengucapkan selamat tinggal kepada suami dan anak-anak saya”.

Pemburu itu enggan membiarkan si rusa pergi. Tetapi rusa kedua juga mengambil sumpah bahwa dia akan kembali. Jadi, Rurudruha memutuskan untuk menunggu.

Setelah rusa betina itu pergi, rusa yang lain muncul untuk minum air. Dan ketika pemburu mengambil busur dan anak panahnya, daun bilwa dan air kembali jatuh ke lingga.

Rusa itu berkata, “Pemburu, biarkan aku pergi sekarang. Saya akan kembali dan Anda bisa membunuh itu. Saya ingin mengucapkan kata perpisahan kepada dua istri dan anak-anak saya”.

Rusa juga mengambil sumpah bahwa dia akan kembali dan Rurudruha membiarkannya pergi.

Setelah beberapa waktu berlalu, dua rusa betina berdua dan seekor rusa jantan itu datang kembali ke tempat Rurdruha berada. Mereka masing-masing berkata, “Bunuh saja aku dan ampuni yang lain. Mereka harus tetap hidup untuk menjaga anak-anak”. Anak-anak rusa itu juga saat itu berada di sana untuk menemani orang tua mereka. Anak-anak rusa itu berkata, “Bunuh saja kami. Kami tidak ingin tetap hidup jika orang tua kami mati”. Pemburu begitu terkejut dengan hal ini sehingga pohon itu bergetar lagi. Bilwa menjatuhkan daunnya dan juga air jatuh di lingga.

Siwa sekarang merasa kasihan pada Rurudruha dan menyingkirkan semua pikiran jahat dari pikirannya. Pemburu itu mengampuni rusa-rusa itu. Siwa sendiri muncul di hadapan Rurudruha dan berkata, “Mulai sekarang namamu akan menjadi Guha. Anda akan sangat diberkati sehingga Rama (Awatara Wisnu) akan berkunjung menjadi tamu Anda”.

Kisah ini menunjukkan bahwa bahkan jika Brata Siwaratri tetap dilakukan walaupun tanpa disadari, seseorang akan tetap mendapatkan berkah yang sangat besar.


Friday, August 24, 2018

Seribu Nama Siwa SIWA PURANA

SIWA PURANA


Seribu Nama Siwa


Ketika orang-orang bijak mendengar cerita ini, mereka berkata, "Romaharshana, apa saja seribu nama Siwa ini yang telah Anda ceritakan? Beritahu kami".

Romaharshana menjawab: 

 Shiva, Hara, Mrida, Rudra, Pushkara, Pushpalochana, Arthigamya, Sadachara, Sharva, Shambhu.

 Maheshvara, Chandrapida, Chandramouli, Vishva, Vishvamareshvara, Vedantasara-sandoha, Kapali, Nilalohita, Dhyanadhara, Aparicchedya.

 Gouribharta, Ganeshvara, Ashtamurti, Vishvamurti, Trivargasvargasadhana, Jnanagamya, Dridaprajna, Devadeva, Trilochana, Vamadeva

 Madadeva, Patu, Parivrida, Drida, Vishvarupa, Virupaksha, Vagisha, Shuchisattama, Sarvapramanasamvadi, Vrishanka.

 Vrishavahana, Isha, Pinaki, Khatvanga, Chitravesha, Chirantana, Tamohara, Mahayogi, Gopta, Brahma.

 Dhurjati, Kalakala, Krittivasah, Subhaga, Pranavatmaka, Unnadhra, Purusha, Jushya, Durvasa, Purashasana.

 Divyayudha, Skandaguru, Parameshthi, Paratpara, Anadimadhyanidhana, Girisha, Girijadhava, Kuberabandhu, Shrikanatha, Lokavarnottama.

 Mridu, Samadhivedya, Kodandi, Nilakantha, Parashvadhi, Vishalaksha, Mrigavyadha, Suresha, Suryatapana, Dharmadhama.

 Kshamakshetra, Bhagavana, Bhaganetrabhida, Ugra, Pashupati, Tarkshya, Priyabhakta, Parantapa, Data, Dayakara.

 Daksha, Karmandi, Kamashasana, Shmashananilaya, Suksha, Shmashanastha, Maheshvara, Lokakarta, Mrigapati, Mahakarta.

 Mahoushadhi, Uttara, Gopati, Gopta, Jnanagamya, Puratana, Niti, Suniti, Shuddhatma, Soma.

 Somarata, Sukhi, Sompapa, Amritapa, Soumya, Mahatejah, Mahadyuti, Tejomaya, Amritamaya, Annamaya.

 Suhapati, Ajatashatru, Aloka, Sambhavya, Havyavahana, Lokakara, Vedakara, Sutrakara, Sanatana, Maharshi.

 Kapilacharya, Vishvadipti, Vilochana, Pinakapani, Bhudeva, Svastida, Svastikrita, Sudhi, Dhatridhama, Dhamakara.

 Sarvaga, Sarvagochara, Brahmasrika, Vishvasrika, Sarga, Karnikara, Priya, Kavi, Shakha, Vishakha.

 Goshakha, Shiva, Bhishaka, Anuttama, Gangaplavodaka, Bhaya, Pushkala, Sthapati, Sthira, Vijitatma.

 Vishayatma, Bhutavahana, Sarathi, Sagana, Ganakaya, Sukirti, Chinnasamshaya, Kamadeva, Kamapala, Bhasmoddhulita-vigraha.

 Bhasmapriya, Bhasmashyai, Kami, Kanta, Kritagama, Samavarta, Nivritatma, Dharmapunja, Sadashiva, Akalmasha.

 Chaturvahu, Durvasa, Durasada, Durlabha, Durgama, Durga, Sarvayudhavisharada, Adhyatmayoganilaya, Sutantu, Tantuvardhana.

 Shubhanga, Lokasaranga, Jagadisha, Janardana, Bhasmashuddhikara, Meru, Ojasvi, Shuddhavigraha, Asadhya, Sadhusadhya.

 Bhrityamarkatarupadhrika, Hiranyareta, Pourana, Ripujivahara, Bala, Mahahrada, Mahagarta, Vyali, Siddhavrindaravandita, Vyaghracharmambara.

 Mahabhuta, Mahanidhi, Amritasha, Amritavapu, Panchajanya, Prabhanjana, Panchavimshatitattvastha, Parijata, Para-vara, Sulabha.

 Suvrata, Shura, Brahmavedanidhi, Nidhi, Varnashramaguru, Varni, Shatrujita, Shatrutapana, Ashrama, Kshapana.

 Kshama, Jnanavana, Achaleshvara,Pramanabhuta, Durjneya, Suparna, Vayuvahana, Dhanurdhara, Dhanurveda, Gunarashi.

 Gunakara, Satyasatyapara, Dina, Dharmaga, Ananda, Dharmasadhana, Anantadrishti, Danda, Damayita, Dama.

 Abhivadya, Mahamaya, Vishvakarma, Visharada, Vitaraga, Vinitatma, Tapasvi, Bhutabhavana, Unmattavesha, Pracchanna .

 Jitakama, Ajitapriya, Kalyanaprakriti, Kalpa, Sarvalokaprajapati, Tarasvi, Tavaka, Dhimana, Pradhanaprabhu, Avyaya.

 Lokapala, Antarhitatma, Kalpadi, Kamalekshana, Vedashastrarthatattvajna, Aniyama, Niyatashraya, Chandra, Surya, Shani.

 Ketu, Varanga, Vidrumacchavi, Bhaktivashya, Anagha, Parabrahm-amrigavanarpana, Adri, Adryalaya, Kanta, Paramatma.

 Jagadguru, Sarvakarmalaya, Tushta, Mangalya, Mangalavrita, Mahatapa, Dirghatapa, Sthavishtha, Sthavira Dhruva.

 Aha, Samvatsara, Vyapti, Pramana, Parmatapa, Samvatsarakara, Mantra-pratyaya, Sarvadarshana, Aja, Sarveshvara.

 Siddha, Mahareta, Mahabala, Yogi, Yogya, Siddhi, Mahateja, Sarvadi, Agraha, Vasu.
 Vasumana, Satya, Sarvapaphara, Sukirti, Shobhana, Shrimana, Avanmanasagochara, Amritashashvata, Shanta, Vanahasta.

 Pratapavana, Kamandalundhara, Dhanvi, Vedanga, Vedavita, Muni, Bhrajishnu, Bhojana, Bhokta, Lokanantha.

 Duradhara, Atindriya, Mahamaya, Sarvavasa, Chatushpatha, Kalayogi, Mahanada, Mahotsaha, Mahabala, Mahabuddhi.

 Mahavirya, Bhutachari, Purandara, Nishachara, Pretachari, Mahashakti, Mahadyuti, Ahirdeshyavapu, Shrimana, Sarvacharyamanogati.

 Vahushruta, Niyatatma, Dhruva, Adhruva, Sarvashaska, Ojastejodyutidara, Nartaka, Nrityapriya, Nrityanitya, Prakashatma.

 Prakashaka, Spashtakshara, Budha, Mantra, Samana, Sarasamplava, Yugadikrida, Yugavarta, Gambhira, Vrishavahana.

 Ishta, Vishishta, Shishteshta, Shalabha, Sharabha, Dhanu, Tirtharupa, Tirthanama, Tirthadrishya, Stuta.

 Arthada, Apamnidhi, Adhishthana, Vijaya, Jayakalavita, Pratishthita, Pramanajna, Hiranyakavacha, Hari, Vimochana.

 Suragana, Vidyesha, Vindusamshraya, Balarupa, Vikarta, Balonmatta, Gahana, Guha, Karana, Karta.

 Sarvabandhavimochana, Vyavasaya, Vyavasthana, Sthanada, Jagadadija, Guruda, Lalita, Abheda, Bhavatmatmasamsthita, Vireshvara.

 Virabhadra, Virasanavidhi, Virata, Virachudamani, Vetta, Tivrananda, Nadidhara, Ajnadhara, Tridhuli, Shipivishta.

 Shivalaya, Balakhilya, Mahachapa, Tigmamshu, Badhira, Khaga, Adhirma, Susharana, Subrahmanya, Sudhapati.

 Maghavana, Koushika, Gomana, Virama, Sarvasadhana, Lalataksha, Vishvadeha, Sara, Samsarachakrabhrita, Amoghadanda.

 Madhyastha, Hiranya, Brahmavarchasi, Paramartha, Para, Mayi, Shambara, Vyaghralochana, Ruchi, Virinchi.
 Svarbandhu, Vachaspati, Aharpati, Ravi, Virochana, Skanda, Shasta, Vaivasvata, Yama, Yukti.

 Unnatakirti, Sanuraga, Paranjaya, Kailashadhipati, Kanta, Savita, Ravilochana, Vidvattama, Vitabhaya, Vishvabharta.

 Anivarita, Nitya, Niyatakalyana, Punyashravanakirtana, Durashrava, Vishvasaha, Dhyeya, Duhsvapnanashana, Uttarana, Dushkritiha.

 Vijneya, Duhsaha, Bhava, Anadi Bhurbhuvakshi, Kiriti, Ruchirangada, Janana, Janajanmadi, Pritimana.

 Nitimana, Dhava, Vasishtha, Kashyapa, Bhanu, Bhima, Bhimaparakrama, Pranava, Satpatchachara, Mahakasha.

 Mahaghana, Janmadhipa, Mahadeva, Sakalagamaparaga, Tattva, Tattavit, Ekatma, Vibhu, Vishvavibhushana, Rishi.

 Brahmana, Aishvaryajanmamrityujaratiga, Panchayajnasamutpatti, Vishvesha, Vimalodaya, Atmayoni, Anadyanta, Vatsala, Bhaktalokadhrika, Gayatrivallabha.

 Pramshu, Vishvavasa, Prabhakara,, Shishu, Giriraha, Samrata, Sushena, Surashatruha, Amogha, Arishtanemi.

 Kumuda, Vigatajvara, Svayamjyoti, Tanujyoti, Achanchala, Atmajyoti, Pingala, Kapilashmashru, Bhalanetra, Trayitanu.

 Jnanaskandamahaniti, Vishvotipatti, Upaplava, Bhaga, Vivasvana, Aditya, Yogapara, Divaspati, Kalyanagunanama, Papaha.

 Punyadarshana, Udarakirti, Udyogi, Sadyogi, Sadasanmaya, Nakshatramali, Nakesha, Svadhishthanapadashraya, Pavitra, Paphari.

 Manipura, Nabhogati, Hrit, Pundarikasina, Shatru, Shranta, Vrishakapi, Ushna, Grihapati, Krishna.

 Paramartha, Anarthanashana, Adharmashatru, Ajneya, Puruhuta, Purushruta, Brahmagarbha, Vrihadgarbha, Dharmadhenu,Dhanagama.

 Jagaddhitaishi, Sugata, Kumara, Kushalagama, Hiranyavarna, Jyotishmana, Nanbhutarata, Dhvani, Araga, Nayandyaksha.

 Vishvamitra, Dhaneshvara, Brahmajyoti, Vasudhama, Mahajyotianuttama, Matamaha, Matarishva, Nabhasvana, Nagaharadhrika, Pulastya.

 Pulaha, Agastya, Jatukarnya, Parashara, Niravarananirvara, Vairanchya, Vishtarashrava, Atmabhu, Aniruddha, Atri.

 Jnanamurti, Mahayasha, Lokaviragranti, Vira, Chanda, Satyaparakrama, Vyalakapa, Mahakalpa, Kalpaviriksha, Kaladhara.

 Alankarishnu, Achala, Rochishnu, Vikramonnata. Ayuhshabdapati, Vegi, Plavana, Shikhisarathi, Asamsrishta, Atithi.

 Shatrupreamathi, Padapasana, Vasushrava, Pratapa, Havyavaha, Vishvabhojana, Japaya, Jaradishamana, Lohitatma, Tanunapata.

 Vrihadashva, Nabhoyoni, Supratika, Tamisraha, Nidagha, Tapana, Megha, Svaksha, Parapuranjaya, Sukhanila.

 Sunishpanna, Surabhi, Shishiratmaka, Vasanta, Madhava, Grishma, Nabhasya, Vijavahana, Angira, Guru.

 Atreya, Vimala, Vishvavahana, Pavana, Sumati, Vidvana, Travidya, Naravahana, Manobuddhi, Ahamkara.

 Kshetrajna, Kshetrapalaka, Jamadagni, Balanidhi, Vigala, Vishvagalava, Aghora, Anuttara, Yajna, Shreye.

 Nishshreyahpatha, Shaila, Gaganakundabha, Danavari, Arindama, Rajanijanaka, Charuvishalya, Lokakalpadhrika, Chaturveda, Chatrubhava.

 Chatura, Chaturapriya, Amlaya, Samamlaya, Tirthavedashivalaya, Vahurupa, Maharupa, Sarvarupa, Charachara, Nyayanirmayaka.

 Nyayi, Nyayagamya, Nirantara, Sahasramurddha, Devendra, Sarvashastraprabhanjana, Munda, Virupa, Vikranta, Dandi.

 Danta, Gunottama, Pingalaksha, Janadhyaksha, Nilagriva, Niramaya, Sahasravahu, Sarvesha, Sharanya, Sarvalokadhrika.

 Padmasana, Paramjyoti, Parampara, Paramfala, Padmagarbha, Mahagarbha, Vishvagarbha, Vichakshana, Characharajna, Varada.

 Varesha, Mahabala, Devasuraguru, Deva, Devasuramahashraya, Devadideva, Devagni, Devagnisukhada, Prabhu, Devasureshvara.

 Divya, Devasuramaheshvara, Devadevamaya, Achintya, Devadevatmasambhava, Sadyoni, Asuravyaghra, Devasimha, Divakara, Vibudhagravara.

 Shreshtha, Sarvadevottamottama, Shivajnanarata, Shrimana, Shikhi-shriparvatapriya, Vajrahasta, Siddhakhadgi, Narasimhanipatana, Brahmachari, Lokachari.

 Dharmachari, Dhanadhipa, Nandi, Nandishvara, Ananta, Nagnavratadhara Shuchi, Lingadhyaksha, Suradhyaksha, Yogadhyaksha.

 Yugavaha, Svadharma, Svargata, Svargakhara, Svaramayasvana, Vanadhyaksha, Vijakarta, Dharmakrit, Dharmasambhava, Dambha.

 Alobha, Arthavit, Shambhu, Sarvahbutamaheshvara, Shmashananilaya, Tryksha, Setu, Apratimakriti, Lokottaras-futaloka, Trymbaka.

 Nagabhushana, Andhakari, Makhaveshi, Vishnukandharapatana, Hinadosha, Akshayaguna, Dakshari, Pushadantabhit, Dhurjati, Khandaparashu.

 Sakala, Nishkala, Anagha, Akala, Sakaladhara, Pandurabha, Mrida, Nata, Purna, Purayita.

 Punya, Sukumara, Sulochana, Samageyapriya, Akrura, Punyakirti, Anaymaya, Manojava, Tirthakara, Jatila.

 Jiviteshvara, Jivitantakara, Nitya, Vasureta, Vasuprada, Sadgati, Satkriti, Siddhi, Sajjati, Kalakantaka.

 Kaladhara, Mahakala, Bhuasatyapraryana, Lokalavanyakarta, Lokottarasukhalaya, Chandrasanjivana, Shasta, Lokaguda, Mahadhipa, Lokabandhu.

 Lokanatha, Kritajna, Krittibhushana, Anapaya, Akshara, Kanta, Sarvashastrahadvara, Tejomaya, Dyutidhara, Lokagranti.

 Anu, Shuchismita, Prasannatma, Durjjeya, Duratikrama, Jyotirmaya, Jagannatha, Nirakra, Jaleshvara, Tumbavina.

 Mahakopa, Vishoka, Shokanashana, Trllokapa, Trilokesha, Sarvashuddhi, Adhokshaja, Avyaktalakshana, Deva, Vyaktavyakta.

 Vishampati, Varashila, Varaguna, Saramandhana, Maya, Brahma, Vishnu, Prajapala, Hamsa, Hamsagati.

 Vaya, Vedha, Vidhata, Dhata, Srashta, Harta, Chaturmukha, Kailasashikharavasi, Sarvavasi, Sadagati.

 Hiranyagarbha, Druhina, Bhutapa, Bhupati, Sadyogi, Yogavit, Yogi, Varada, Brahmanapriya, Devapriya.

 Devanatha, Devajna, Devachintaka, Vishamaksha, Vishalaksha, Vrishada, Vrishavardhana, Nirmama, Nirahamkara, Nirmoha.

 Nirupadrava, Darpha, Darpada, Dripta, Sarvabhutaparivartaka, Sahasrajit, Sahasrarchi, Prabhava, Snigddhaprakriti, Sahasrarchi, Prabhava, Snigddhaprakritidakshina, Bhutabhavyabhavannatha.

 Bhutinashana, Artha, Anartha, Mahakosha, Parakaryaikapandita, Nishkantaka, Kritananda, Nirvyaja, Vyajamardana, Sattvavana.

 Sattvika, Satyakirti, Snehakritagama, Akampita, Gunagrahi, Naikatma, Naikakarmakrit, Suprita, Sumukha, Suksha.

 Sukara, Dakshinaila, Nandiskandhadhara, Dhurya, Prakata, Pritivardhana, Aparajita, Sarvasattva, Govinda, Adhrita.

 Sattvavahana, Svadhrita, Siddha, Putamurti, Yashodhana, Varahabhringadhrika, Bhringi, Balavana, Ekanayaka, Shrutiprakasha.

 Shrutimana, Ekabandhu, Anekakrit, Shrivatsalashivarambha, Shantabhadra, Sama, Yasha, Bhushaya,Bhushana, Bhuti.

 Bhutakrit, Bhutabhavana, Akampa, Bhaktikaya, Kalaha, Nilalohita, Satyavrata, Mahatyagi, Nityashantiparayana, Pararthavritti.

 Vivikshu, Visharada, Shubhada, Shubhakarta, Shubhanama, Shubha, Anarthita, Aguna, Sakshi, Akarta.




Cakra Sudarsana SIWA PURANA

SIWA PURANA


Cakra Sudarsana


Chakra Sudarshana adalah senjata Wisnu. Wisnu menerima senjata yang luar biasa ini sebagai hasil dari berkat Siwa.

Bertahun-tahun yang lalu, iblis menindas para dewa dan para dewa pergi kepada Wisnu untuk meminta pertolongan. Wisnu mengatakan bahwa iblis itu sangat kuat. Beliau harus menyembah Siwa terlebih dahulu jika asura ingin melawan asura. Wisnu pergi ke Gunung Kailasa untuk berdoa kepada Siwa. Beliau melantunkan banyak mantra, tetapi tidak ada tanda-tanda Siwa akan muncul. Siwa memiliki seribu nama dan Wisnu selanjutnya mulai melantunkan nama-nama Siwa. Setiap hari beliau melantunkan seribu nama Siwa dan mempersembahkan seribu bunga teratai kepada Siwa.

Siwa memutuskan untuk menguji Wisnu. Suatu hari, beliau mencuri satu dari seribu bunga teratai yang akan ditawarkan. Ketika Wisnu menyadari bahwa ada satu bunga teratai yang kurang, beliau mencungkil matanya sendiri dan mempersembahkannya di tempat bunga teratai yang hilang. Siwa menjadi senang dan muncul dihadapan Wisnu. Beliau memberikan Wisnu suatu anugerah.

"Anda tahu bahwa iblis yang kuat telah menindas para dewa. Saya butuh senjata untuk melawan iblis. Tolong berikan saya senjata", kata Wisnu. 

Siwa kemudian memberi Wisnu cakra sudarsana. Dan dengan senjata ini, Wisnu membunuh para iblis.


Arjuna dan Siwa

SIWA PURANA

Arjuna dan Siwa

Duryodhana merampok Pandawa dari kerajaan mereka yang sah dalam permainan dadu. Sebagai akibatnya, Pandawa harus menghabiskan pengasingan bertahun-tahun di hutan. Ketika mereka berada di hutan, Wedawyasa datang mengunjungi Pandawa. Wedawyasa memberi tahu mereka bahwa mereka harus berdoa kepada Siwa. Tapi karena Arjuna adalah yang paling cocok di antara Pandawa karena menyembah Siwa, Wedawyasa mengajarkan Arjuna mantra khusus. Kemudian dia meminta Arjuna pergi ke Gunung Indrakila dan berdoa kepada Siwa di sana. Gunung Indrakila berada di tepi sungai Bhagirathi.

Arjuna pergi ke Gunung Indrakila. Dia membuat lingga dari tanah liat dan mulai berdoa kepada Siwa. Berita tentang tapasya indah Arjuna tersebar di mana-mana. Arjuna berdiri dengan satu kaki dan terus-menerus mengucapkan mantra yang telah diajarkan Wedawyasa kepadanya.

Tiba-tiba, Arjuna melihat seekor babi hutan. Arjuna berpikir bahwa babi hutan yang ganas ini mungkin datang untuk mengalihkan perhatiannya dari tapasya. Atau, mungkin itu adalah kerabat dari beberapa setan yang telah dia bunuh dan karena itu mungkin sedang berencana untuk membahayakan dia. Arjuna mengambil busur dan anak panahnya dan menembakan anak panah ke babi hutan.

Sementara itu, Siwa memutuskan untuk menguji Arjuna dan beliau menyamar sebagai seorang pemburu. Ketika Arjuna menembakan panah ke babi, begitu pula Siwa. Panah Siwa menyerang babi di bagian belakangnya dan panah Arjuna menabrak babi hutan di mulutnya. Babi itu jatuh dan mati.

Perselisihan dimulai antara Arjuna dan pemburu tentang siapa yang telah membunuh babi hutan itu. Masing-masing mengklaim sebagai yang telah membunuh babi tersebut. Mereka mulai bertarung. Tapi senjata apa pun yang dilemparkan oleh Siwa dengan mudah ditolak semua senjata Arjuna. Ketika semua senjata habis, keduanya mulai bergulat.

Setelah pertarungan berlangsung untuk sementara waktu, Shiva melepaskan penyamarannya dari seorang pemburu dan menunjukkan wujud aslinya kepada Arjuna. Arjuna merasa malu bahwa dia telah bertengkar dengan orang yang telah dia doakan. Tolong maafkan saya, kata Arjuna.

"Tidak apa-apa. Saya hanya mencoba untuk menguji Anda. Senjata Anda seperti persembahan bagi saya, Anda adalah penyembah saya. Katakan padaku, apa yang kau inginkan?" , jawab Siwa.

Arjuna menginginkan anugerah bahwa ia mungkin memperoleh kemuliaan di bumi. Siwa memberi Arjuna senjata pashupatanya. Senjata ilahi yang membuat Arjuna tak terkalahkan.



Monday, August 13, 2018

Lingga Siwa

SIWA PURANA


Lingga Siwa


Lingga adalah gambaran (perwujudan) Siwa. Ada beberapa lingga, dimana pemuja berkumpul, disana Siwa memanifestasikan dirinya dalam bentuk lingga.

Ada dua belas lingga penting. Kedua belas lingga ini dikenal sebagai jyotirlinga yaitu Somanatha, Malikarjuna, Mahakala, Omkara, Kedara, Bhima-shankara, Wishwanatha, Trymbaka, Vaidyanatha, Nagesha, Rameshwara dan Ghushnesha.

Nandikeshwara Tirtha


Tirtha artinya tempat ziarah. Pada tirtha yang bernama Nandikeshwara, terdapat lingga Siwa yang terkenal.
Di sebuah kota bernama Karnaki, dulu ada seorang brahmana. Dia meninggalkan dua putranya dengan istrinya dan pergi mengunjungi kota Waranasi. Terdengarlah berita bahwa brahmana itu telah meninggal dunia di Waranasi. Istrinya membesarkan kedua anaknya, menjadi ibu yang baik sampai akhirnya berhasil menikahkan mereka. Seiring jalannya waktu akhirnya ibu itu pun menjadi tua dan sudah waktunya untuk mati. Tetapi kematian tidak juga datang padanya. Tampaknya ibu itu menginginkan sesuatu dan tidak akan mati sampai harapannya terpenuhi.

"Ibu, Apa yang kau inginkan?" , kedua anaknya bertanya.

"Saya selalu ingin mengunjungi tirta Waranasi. Tapi sekarang aku akan mati tanpa pernah mengunjungi tempat itu. Berjanjilah pada saya bahwa ketika saya mati, Anda akan mengambil abu saya dan membawanya ke Waranasi dan melemparkannya ke sungai Gangga di sana", ibu itu menjawab.

"Kami akan melaksanakannya. Ibu bisa mati dengan damai sekarang", kata para putra ibu itu.

Sang ibu pun meninggal dunia dan putra-putranya melakukan upacara pemakamannya. Kemudian putra tertua, Suwadi, berangkat ke Waranasi dengan abu ibunya. Jalannya sangat jauh dan dia berhenti untuk beristirahat dan bermalam di rumah brahmana.

Seekor sapi diikat di depan rumah brahmana tersebut dan saat itu sudah waktunya untuk memerah susu. Suwadi melihat bahwa ketika brahmana mencoba memerah susu sapi, anak sapi tidak mengizinkan memerah susu dan menendang brahmana. Brahmana lalu memukul anak sapi dengan tongkat. Brahmana tersebut kemudian pergi setelah memerah susu. Tetapi Suwadi masih ada di sana dan dan dia mendengar sapi itu berkata kepada anaknya, "aku sedih karena brahmana itu menyerangmu, nak. Besok aku akan menanduk putra brahmana itu sampai mati"'

Hari berikutnya, putra brahmana datang untuk melakukan pemerahan. Sapi itu menanduknya dengan tanduk sehingga putra brahmana itu mati. Ini berarti bahwa sapi itu telah melakukan dosa dengan membunuh seorang brahmana. Segera setelah itu, karena dosa, sapi itu menjadi hitam sepenuhnya.

Sapi itu meninggalkan rumah brahmana itu. Suwadi mengikutinya, dan terkagum pada pemandangan yang aneh ini. Sapi itu pergi ke tepi sungai Narmada, ke suatu tempat bernama Nandikeshwara. Dia mandi di sungai dan menjadi putih sekali lagi. Ini berarti bahwa dosa membunuh seorang brahmana telah sepenuhnya dihapuskan. Suwadi mengagumi hal ini dan menyadari betapa kuatnya keajaiban tirtha Nandikeshwara.

Setelah kejadian itu, dia melanjutkan perjalanan ke Wanarasi setelah mandi di sungai. Namun tiba-tiba dia disapa oleh seorang wanita cantik.

"Kemana kamu akan pergi, Suwadi?" tanya wanita itu.

"Lemparkan abu ibumu di sungai ini. Ini adalah tirtha yang jauh lebih besar daripada Waranasi",kata wanita itu.

"Kamu siapa?" tanya Suwadi.

"Akulah sungai Ganggaa", jawabnya.

Wanita itu pun menghilang dan Suwadi melakukan apa yang diperintahkan wanita itu. Segera setelah dia melakukan ini, ibunya yang sudah meninggal muncul di langit dan mengatakan kepadanya bahwa dia sangat bersyukur. Dia sekarang akan langsung pergi ke surga.

Nandikeshwara adalah tirani yang indah karena seorang wanita brahmana bernama Rishika sebelumnya melakukan tapasya yang sangat sulit di sana untuk menyenangkan Siwa.

Atrishwara Tirtha


Pada zaman dahulu, ada sebuah hutan bernama Kamada. Hutan itu tidak mendapatkan hujan selama seratus tahun. Daun-daun kering dan penghuni hutan itu menderita.

Begawan Atri memutuskan bahwa akan tapasya untuk mencoba dan membawa hujan turun di hutan Kamada. Atri memiliki seorang istri yang bernama Anasuya. Atri berpikir bahwa Anasuya mungkin juga akan melakukan tapasya bersama dengan suaminya. Lalu keduanya mulai berdoa kepada Siwa. Tapasya yang mereka lakukan sangat sulit. Lima puluh empat tahun telah berlalu dan mereka bermeditasi tanpa makan atau minum apa pun.

Meditasi Atri akhirnya berakhir dan dia merasa haus. Karena itu Atri meminta istrinya untuk pergi mengambil air sehingga dia bisa memuaskan rasa hausnya. Ketika Anasuya akan mengambil air, Dewi Gangga muncul di hadapannya.

“Saya senang dengan tapasya anda. Apa yang Anda inginkan?” kata Gangga.

Jika Anda senang dengan saya, mohon buatlah sebuah kolam di sini dan isi kolam itu dengan air Anda”, jawab Anasuya.

Gangga mengabulkan permintaan Anasuya. Anasuya kemudian mengisi pot airnya dari kolam yang telah dibuat oleh Gangga dan membawakan air itu ke suaminya. Atri meminum air itu dan merasa bahwa air itu jauh lebih lezat daripada air yang biasa mereka gunakan untuk minum. Ketika Atri bertanya pada Anasuya mengapa air itu begitu lezat, Anasuya kemudian menceritakan apa yang terjadi. Kedua suami dan istri kembali ke kolam itu. Anasuya telah menerima banyak berkat (pahala) dari tapasyanya. Gangga setuju untuk selalu ada bersama Anasuya meskipun Anasuya harus melakukan tapasya selama setahun penuh.

Sementara itu, Siwa muncul dan menawarkan untuk menganugerahkan Anasuya suatu anugerah. Anasuya menginginkan anugerah agar Siwa selalu ada di hutan itu. Shiva menyetujuinya dan di kemudian hari tempat suci ini dikenal sebagai Atrishwara tirtha.

Somanatha Tirtha


27 putri Daksha menikah dengan Chandra, dewa bulan. Salah satu istri ini bernama Rohini dan Chandra mencintai Rohini lebih dari dia mencintai istri yang lain. Para istri lainnya merasa diabaikan dan mereka mengeluh kepada ayah mereka. Daksha berulang kali memperingatkan menantu laki-lakinya itu untuk bersikap adil pada 27 istrinya. Tetapi Chandra mengabaikan peringatan Salsha itu.

Daksha kemudian mengutuk Chandra bahwa dia secara bertahap akan memudar dan menghilang. Chandra kaget dan bingung harus berbuat apa. Dia kemudian pergi dan meminta nasihat dari Brahma dan Brahma mengatakan kepadanya bahwa satu-satunya jalan adalah berdoa kepada Siwa. Chandra pergi ke Prabhasa tirtha dan membuat lingga di tepi sungai Saraswati. Dia berdoa kepada Siwa.

Pada akhir tapasya, Siwa muncul di hadapan Chandra dan menawarkan untuk memberinya anugerah. Chandra menjelaskan masalahnya.

“Kutukan Daksha tidak bisa sepenuhnya dimusnahkan. Mari kita bersepakat. Selama krishnapaksha anda akan memudar. Dan selama shuklapaksha (bagian terang dari dua minggu bulan) anda akan cerah kembali. Dan pada saat itu anda harus memuaskan semua makhluk”, kata Siwa.

Chandra sangat senang. Lingga dimana Chandra melakukan tapasya itu adalah Somantha tirtha, lingga yang utama dari lingga jyotir. Siwa selalu hadir di tirtha itu.

Mallikarjuna


Lingga jyotir kedua adalah Mallikarjuna.

Ketika Kartikeya merasa tertipu karena Ganesha lebih dulu menikah. Kartikeya memutuskan bahwa dia tidak akan hidup dengan Siwa dan Parwati lebih lama lagi, dan mulai hidup di gunung Krouncha.

Parwati sangat sedih bahwa putranya telah meninggalkannya. Beliau mengirim dewa, orang bijak, gandarwa dan bidadari untuk membawa putranya kembali. Tetapi Kartikeya tetap tidak akan kembali. Siwa dan Parwati kemudian pergi mengunjungi Kartikeya sendiri, tetapi Kartikeya tidak akan membiarkan mereka terlalu dekat.

Siwa dan Parwati mulai tinggal di tempat yang berjarak sekitar enam mil dari tempat tinggal putra mereka. Mereka selalu ada di sana, sehingga dekat dengan putra mereka. Tempat ini dikenal sebagai Mallikarjuna.

Mahakala Tirta


Lingga jyotir yang ketiga adalah Mahakala.

Kota Avanti berada di tepi sungai Kshipra.
Seorang brahmana bernama Wedapriya dulu tinggal di kota Avanti. Dia biasa menyembah Siwa setiap hari dan dia mendidik keempat putranya untuk melakukan hal yang sama. Anak-anak ini diberi nama Dewapriya, Priyamedha, Suwrita, dan Suwrata.

Tidak terlalu jauh, di sebuah bukit bernama Ratnamala, dulu ada sebuah asura bernama Dushana. Dushana jahat, dia tidak tahan dengan isi dari Weda dibaca dan ajaran yang ditentukan di dalamnya diikuti. Dia pergi untuk menghancurkan setiap agama yang benar ini kemanapun dia bisa. Dushana tahu bahwa di kota Avanti hiduplah empat brahmana yang mengikuti agama yang benar dan menyembah Siwa. Mereka adalah Dewapriya, Priyamedha, Suwrita, dan Suwrata. Ayah mereka Wedapriya telah meninggal saat itu.
Dushana dan pasukannya datang dan menyerang kota Avanti. Mereka mengancam akan membunuh empat brahmana itu, tetapi empat brahmana itu tidak takut sama sekali. Mereka terus berdoa kepada Siwa. Mereka membungkuk hormat dihadapan Lingga.

Tiba-tiba terdengar suara yang luar biasa dan sebuah lubang muncul di tanah di depan lingga. Siwa sendiri muncul di lubang ini. Dushana dibakar menjadi abu dari kekuatan raungan Siwa. Dan Siwa menerbangkan semua tentara Dushana.

Para brahmana berdoa agar Siwa selalu hadir di tempat itu dan Siwa setuju. Ini adalah tempat yang dikenal sebagai Mahakala Tirtha.

Omkara Tirtha


Lingga jyotir yang keempat adalah Omkara.

Narada pernah pergi berkunjung ke gunung Windhya. Windhya menyambut Narada dengan baik. Tetapi karena Windhya sedikit angkuh, dia juga mengatakan, “Saya penuh dengan semua benda yang diinginkan yang dapat dipikirkan semua orang.”

“Mungkin. Tapi Gunung Semeru lebih hebat darimu, karena para dewa selalu ada di sana”, jawab Narada.

Gunung Windhya akhirnya memutuskan untuk menjadi sama derajatnya seperti Gunung Semeru. Dia mulai berdoa kepada Siwa. Selama enam bulan dia berdoa. Ketika Siwa muncul, Windhya menginginkan bahwa Siwa agar selalu hadir di sana sehingga dia mungkin menjadi sama derajatnya dengan Semeru.

Lingga yang Windhya sembah disebut sebagai Omkara.

Kedara Tirtha


Lingga jyotir yang kelima dalah Kedara. Dalam salah satu inkarnasi Wisnu, beliau memanifestasikan as bisa sebagai dua orang bijak, Nara dan Narayana. Kedua orang bijak ini berdoa untuk waktu yang lama di pertapaan yang dikenal sebagai wadrikashrama. Di dekat pertapaan ini ada puncak Himalaya bernama Kedara.

Setelah kedua resi itu berdoa kepada Siwa untuk waktu yang sangat lama, Siva muncul dan berkata, "Saya tidak mengerti mengapa kalian berdua memuja saya. Andalah yang harus disembah. Tapi karena kalian telah berdoa kepada saya, biarkan saya memberikanmu sebuah anugerah.

Nara dan Narayana mendesah bahwa Siwa harus selalu hadir dalam bentuk lingga di puncak Kedara.

Bhimashankara Titha


Lingga jyotir yang keenam adalah Bhimashankara.

Anda tahu tentang Rama dan Rahwana dari Ramayana dan Anda juga tahu bahwa Rama membunuh bukan hanya Rahwana, tetapi juga saudaranya Kumbahakarna.

Seorang wanita rakshasa bernama Karkati dulu tinggal di pegunungan bernama Sahya. Karkati telah menikah dengan Kumbhakarna dan putranya bernama Bhima. Suatu hari, Bhima bertanya pada Karkati, "Ibu. Kenapa kita tinggal sendirian di hutan ini?"

Karkati berkata, "Biarkan aku menceritakan kepadamu kisah sedihku. Saya dulu menikah dengan rakshasa Wiradha. Namun Rama membunuh Wiradha. Kemudian, Kumbhakarna datang dan menikahi saya di sini dan kamu dilahirkan. Kumbhakarna telah berjanji untuk membawaku ke Alengka. Namun dia dibunuh oleh Rama dan saya tidak pernah melihat Alengka. Itulah alasan kita tinggal di sini sendirian. Kita tidak punya tempat lain untuk pergi."

Bhima sangat sedih mendengar cerita ini. Dia memutuskan untuk membalaskan dendamnya pada Wisnu karena dia tahu bahwa Rama adalah inkarnasi dari Wisnu. Selama seribu tahun dia berdoa kepada Brahma dengan tangannya diangkat ke langit. Ketika Brahma muncul, Bhima berharap mendapatkan anugerah bahwa ia mungkin menjadi sangat kuat. Brahma yang dianugerahi ini.

Sasaran pertama perhatian Bhima adalah raja Kamarupa. Kejahatan raja adalah bahwa Kamarupa adalah pemuja Wisnu. Bhima menyerang raja, mencuri semua harta miliknya, menaklukkan kerajaannya dan memenjarakannya serta istrinya. Dia kemudian melanjutkan untuk menaklukkan seluruh dunia.

Di penjara mereka, raja dan istrinya mulai berdoa kepada Siwa. Berita bahwa raja mulai berdoa kepada Siwa ini disampaikan ke Bhima oleh penjaga dan Bhima memutuskan untuk segera membunuh raja. Dia menemukan raja berdoa di depan lingga Siwa. Ketika Bhima mengangkat pedangnya untuk memotong kepala raja, Siwa muncul dari lingga dan menangkis pedang dengan trisulanya. Bhima melemparkan tombak ke Siwa, tetapi ini juga didorong oleh trisulanya. Senjata apa pun yang digunakan oleh Bhima, trisula Siwa menghancurkan mereka semua. Akhirnya, Siwa membunuh Bhima dan semua pasukannya.

Para dewa bersyukur dan mereka memohon agar Siwa selalu berada di tempat itu dalam bentuk lingga.

Wishwanatha Tirtha


Lingga jyotir yang ketujuh adalah Wishwanatha, yang terletak di kota Waranasi atau Kashi.

Waranasi adalah tempat yang sangat sakral. Brahma sendiri melakukan tapasya yang sulit di sana. Begitu sulitnya tapasya yang Brahma lakukan, sampai membuat Wisnu menggeleng-geleng kepalanya. Ketika Wisnu menggelengkan kepalanya, sebuah permata (mani) jatuh dari telinga Wisnu (karna). Tempat di mana permata jatuh dikenal sebagai Manikarnika dan itu adalah tirtha yang terkenal.

Waranasi tidak hancur ketika seluruh dunia hancur. Siwa sendiri mengangkatnya dengan trisula dan melindunginya sementara kehancuran mengamuk di sekitar. Ketika dunia diciptakan kembali, Siwa akan menempatkan Waranasi ke tempat yang telah ditentukan.

Siwa dan Parwati pernah pergi mengunjungi Brahma. Brahma mulai melantunkan himne dalam pujian Siwa dengan semua lima mulutnya. Namun, salah satu dari mulut itu membuat kesalahan dalam pengucapan nyanyian pujian. Siwa yang marah ini kemudian memenggal kepala yang melakukan kesalahan. Tetapi hal ini merupakan suatu dosa yaitu pembunuhan brahmana dan Siwa berarti telah melakukan kejahatan. Oleh karena itu kepala yang terputus itu menempel di punggung Siwa tidak akan terlepas, tidak peduli ke mana pun Siwa pergi. Tetapi ketika Siwa tiba di Waranasi, kepala itu jatuh dari punggungnya. Siwa menyadari bahwa Waranasi adalah tempat istimewa dan beliau memutuskan bahwa beliau akan selalu hadir di sana.

Trymbaka Tirtha


Di daerah selatan, ada sebuah gunung bernama Brahmaparwata. Di sana sang rsi Goutama dan istrinya, Ahalya, melakukan tapasya selama sepuluh ribu tahun. Ketika mereka bermeditasi, tidak ada hujan di hutan sana selama seratus tahun sehingga hutan itu kering kekurangan air. Makhluk hidup mati karena kekeringan. Goutama berdoa kepada Waruna, dewa laut dan hujan. Waruna muncul dan menawarkan untuk memberikan anugerah.

"Tolong beri anugerah hujan", kata Goutama.

"Saya tidak bisa melakukan itu. Itu diluar kekuatanku. Mintalah sesuatu yang lain sebagai gantinya", jawab Waruna.

"Kalau begitu tolong buatlah kolam di hutan ini yang akan selalu penuh dengan air", kata Goutama.

Waruna kemudian menciptakan kolam yang selalu penuh dengan air. Para rsi lainnya juga mulai menggunakan air dari kolam ini. Biasanya, Goutama mengirim murid-muridnya untuk mengambil air. Tetapi para murid mengeluh bahwa para istri orang bijak lainnya tidak membiarkan mereka mengambil air. Jadi Ahalya (istri Goutama) sendiri yang mulai mengambil air. Para istri dari resi-resi lainnya berusaha mengganggu Ahalya, tetapi dia tidak pernah menanggapinya. Para istri ini kemudian mengeluh kepada suami mereka tentang Ahalya dan Goutama. Pada awalnya para resi tidak mendengarkan, tetapi akhirnya, mereka yakin bahwa Ahalya dan Goutama jahat. Oleh karena itu mereka berusaha menyusun rencana sehingga keduanya mungkin dihukum. Mereka mulai berdoa kepada Ganesha.

Ketika Ganesha tiba, orang bijak berkata, "Tolong beri kami anugerah bahwa Goutama dan Ahalya agar dibuang dari pertapaan".

Meskipun Ganesha menyadari bahwa ini adalah anugerah yang tidak adil, dia memutuskan untuk mengabulkannya karena dia menyadari bahwa orang bijak dan istri jahat mereka perlu dihukum.

Goutama memiliki beberapa ladang padi dan gandum. Ganesha mengambil wujud sapi yang kurus dan kelaparan dan mulai memakan hasil panen. Goutama mencoba mengusir sapi dengan sebilah rumput. Tapi begitu dia memukul sapi dengan bilah rumput, sapi itu jatuh dan mati. Ini adalah bencana yang mengerikan. Itu adalah pembunuhan seekor sapi.

Orang bijak lain mengusir Goutama dan Ahalya dari pertapaan. Mereka harus mendirikan ashrama (pertapaan) yang jaraknya cukup jauh. Para rsi yang lain benar-benar memisahkan diri dari Goutama dan Ahalya. Goutama mulai memikirkan cara melakukan prayashchitta (penebusan dosa) atas kejahatan yang telah dilakukannya. Orang bijak lain mengatakan kepadanya bahwa dia pertama-tama harus melakukan perjalanan keliling dunia. Setelah itu, dia harus berdoa sangat keras selama sebulan penuh. Tugas berikutnya adalah mengitari Brahmaparwata seratus kali dan mandi dalam seratus kolam air. Hal ini akan menyelesaikan menebus dosa Goutama. Semua akhirnya dilakukan Goutama dan Ahalya. Mereka juga berdoa untuk waktu yang lama kepada Siwa.

Siwa muncul di hadapan mereka dan menawarkan mereka sebuah anugerah. Goutama menginginkan anugerah bahwa sungai Gangga agar selalu hadir di pertapaan Goutama. Gangga mengatakan bahwa dia akan setuju dengan syarat Siwa dan Parwati juga selalu hadir di pertapaan itu. Parwati dan Siwa setuju untuk melakukan ini. Tempat inilah yang dikenal dengan Trymbaka Tirtha, lingga jyotir yang kedelapan. Sungai Ganga yang mengalir di sana kemudian dikenal sebagai Godavari. Jadi Trymbaka ada di tepi sungai Godavari.

Apa yang terjadi dengan para resi jahat dan istri mereka? Goutama meminta agar mereka diampuni. Mereka melakukan penebusan dosa dengan mengitari Brahmaparwata seratus satu kali, dan memohon pengampunan dari Goutama dan Ahalya.

Waidyanatha Tirtha


Lingga jyotir yang kesembilan adalah Waidyanatha.

Rahwana, raja para raksasa, sedang bermeditasi di Himalaya untuk menyenangkan Siwa. Pertama dia berdoa di Gunung Kailasa, tapi Siwa tidak muncul. Dia kemudian pergi ke tempat bernama Wrikshakhandaka yang berada di selatan. Dia berdoa di sana, tapi Siwa juga tidak muncul. Rahwana menggali lubang dan mulai berdoa di dalam lubang itu. Dia mendirikan Lingga Siwa di dalam lubang itu. Siwa masih belum muncul. Oleh karena itu, dia memutilasi dirinya sendiri. Rahwana, memiliki sepuluh kepala. Dia menyalakan api dan memenggal kepalanya satu per satu, dan mempersembahkannya satu demi satu ke dalam api. Ketika sembilan kepala telah dipersembahkan, Siwa muncul.

"Cukup, itu sudah cukup. Berkat apa yang kamu inginkan", kata Siwa.

"Mohon berikan saya berkat agar saya menjadi sangat kuat dan mohon kembalikan 9 kepala saya", jawab Rahwana.

Berkat pun akhirnya diberikan dan tempat dimana Siwa memberikan berkat kepada Rahwana tersebut dikenal dengan nama Waidyanatha.

Para dewa tidak senang Rahwana menjadi begitu kuat. Mereka takut bahwa Raksasa akan menindas mereka. Karena itu mereka mengirim Narada untuk membuat Rahwana melakukan kesalahan. Narada kemudian bertemu Rahwana dan bertanya kepadanya mengapa dia sangat senang. Rahwana kemudian menceritakan kisahnya mendapatkan berkat dengan semangat.
"Berkat? Siapa yang percaya pada berkat Siwa jika belum dibuktikan? Saya ingin melihat apakah anda bisa mengangkat Gunung Kailasa. Jika Anda bisa melakukan itu, saya akan percaya bahwa Anda telah menjadi kuat", kata Narada.

Dipengaruhi oleh Narada, Rahwana kembali ke Kailasa dan mengangkat gunung Kailasa. Siwa dan Parwati terganggu. Siwa mengutuk Rahwana bahwa akan ada seseorang yang lahir yang akan membunuh Rahwana. Beliau adalah Rama, inkarnasi Wisnu.

Nagesha Tirtha


Lingga jyotir yang kesepuluh adalah Nagesha.

Dulu ada seorang Raksasa yang bernama Daruka. Istrinya bernama Daruki. Mereka tinggal di hutan di tepi Laut Barat. Parwati telah memberikan Daruki berkat bahwa kemanapun Daruki pergi, hutan akan mengikutinya. Dengan memanfaatkan hutan ini sebagai basis pertahanan, Daruka dan Daruki mulai menindas dunia. Mereka menghancurkan upacara yajna dan membunuh semua orang yang baik. Orang-orang yang selamat akhirnya pergi ketempat seorang rsi yang hebat yang bernama Ourwa. Mereka berpikir bahwa hanya Ourwa sendiri yang dapat menyelamatkan mereka dari pembantaian raksasa tersebut. Ourva kemudian mengutuk raksasa tersebut, apabila mereka membuat kekacauan lagi maka mereka akan segera mati.
Setelah para dewa mengetahui tentang kutukan itu, mereka mulai menyerang raksasa tersebut. Jika mereka tidak bertarung dengan para dewa, mereka akan dibantai. Tapi jika mereka bertempur dengan para dewa, mereka akan mati karena kutukan. Mereka memutuskan untuk pergi dan tinggal di lautan. Untunglah ada berkat dari Parwati, seluruh hutan juga terendam di laut dan menjadi rumah raksasa tersebut. Mereka tidak kembali lagi ke darat. Tapi mereka memenjarakan dan membunuh orang-orang yang melakukan perjalanan dengan kapal di seberang lautan.

Dalam hal ini, mereka pernah menangkap seorang Waisya (kasta dalam catur warna) yang merupakan penyembah Siwa. Waisya itu membuat Lingga Siwa di penjara dan mulai berdoa kepada Siwa. Ketika raksasa tersebut melihat hal ini, mereka menyerangnya dengan senjata agar bisa membunuh Waisya itu. Waisya ini bernama Supriya. Siwa memberi Supriya Pashupata, senjata ilahi Siwa. Dengan senjata ini Waisya tersebut membunuh banyak setan. Raksasa yang tersisa diselamatkan oleh Parwati. Lingga yang Supriya buat ini adalah Nagesha.

Rameshwara Tirtha


Lingga Jyotir yang kesebelas bernama Rameshwara.

Rahwana telah menculik Sita. Rama mencarinya di mana-mana. Beliau dibantu di dalam pencarian Sita oleh bangsa kera. Pencarian itu membawa mereka ke tepi lautan. Rama pun memutuskan untuk menyeberangi Samudra.
Waktu itu beliau merasa sangat haus. Beliau meminta air. Tapi ketika air dibawakan, Rama menyadari bahwa beliau seharusnya tidak minum air tanpa berdoa dulu kepada Siwa.

Rama akhirnya membangun sebuah Lingga dan menyembahnya dengan banyak bunga. Demikianlah kekuatan doa Rama sehingga Siwa dan Parwati bersama pengikutnya memberkati Rama. Rama meminta agar Siwa dan Parwati hadir di tempat itu selamanya. Inilah lingga yang berada di tepi laut, yang dikenal dengan Rameshwara.

Ghushnesha Tirtha


Lingga jyotir yang kedua belas diberi nama Ghushnesha.
Di sebelah selatan, ada sebuah gunung bernama Dewa. Seorang brahmana bernama Sudharma dulu tinggal di sana. Istrinya bernama Sudeha. Mereka adalah orang yang baik dan secara teratur berdoa kepada para dewa. Mereka hanya punya satu alasan untuk tidak bahagia, mereka tidak memiliki putra. Sudeha sangat terganggu pada hal ini. Wanita lain cenderung menghinanya karena dia tidak memiliki putra.

Sudharma memutuskan untuk melakukan eksperimen. Dia memetik dua bunga dan mempersembahkannya di depan api suci. Dia secara spiritual mengisi salah satu bunga dengan seorang putra dan meminta istrinya untuk memilih bunga. Sayangnya, istrinya memilih bunga yang tidak terkait dengan memiliki anak laki-laki. Dari sinilah Sudharma menyimpulkan bahwa mereka tidak akan memiliki seorang putra dan dia melakukan yang terbaik untuk menghibur Sudeha. Tetapi Sudeha menolak untuk dihibur, Sudeha merasa sedih.
"Kenapa kamu tidak menikah lagi? Mungkin Anda akan memiliki seorang putra. Menikahlah dengan keponakan saya Gushna", kata Sudeha.

"Tidak. Anda sekarang baik-baik. Tetapi jika Gushna benar-benar memiliki seorang putra, Anda akan menjadi cemburu dan akan membencinya", jawab Sudharma.

Sudeha meyakinkan suaminya bahwa hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Jadi, Sudharma akhirnya menikahi Ghushna.

Setiap hari, Ghushna membuat seratus satu lingga dari tanah liat dan menyembahnya. Ketika doa hari itu selesai, dia membenamkan linganya di kolam. Ghushna melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan. Welas kasih Siwa terhadap Sudharma dan Ghushna.

Tetapi ketika putranya lahir, sifat Sudeha berubah. Ketika suaminya telah memperingatkannya, dia merasa cemburu. Dia berpikir bahwa Gushna menjadi lebih penting dan dia diperlakukan seperti pembantu. Di tengah malam, Sudeha membunuh bocah itu dengan pisau dan melemparkan mayat itu ke dalam kolam tempat lingga-lingga dibenamkan.

Seperti biasa, Ghushna bangun di pagi hari dan mulai menyembah lingga. Darah ditemukan di tempat tidur, anak itu tidak dapat ditemukan dan semua orang panik. Tetapi Ghushna tidak terganggu oleh keributan ini dan tidak meninggalkan doanya. Siwa sangat terkesan dengan pengabdian Ghushna bahwa beliau menghidupkan putranya kembali. Beliau juga ingin membunuh Sudeha yang jahat dengan trisulanya, tetapi Gushna memohon pengampunan untuk nyawa bibinya dan mengabulkannya. Tindakan pengampunan Ghushna begitu mengesankan Siwa bahwa beliau ingin memberikan Ghushna anugerah lain, selain menghidupkan putranya.

Ghushna menginginkan agar Siwa selalu hadir di lingga dekat kolam. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Ghushnesha.


Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci)

Purana Agni Purana Kitab Suci Agama Hindu Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci) Prahlada memiliki cucu yang sangat kuat bernama Vali. Sa...