Daftar Isi

Monday, September 2, 2019

Keadaan Geografi menurut Brahma Purana

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Setelah mendengar cerita tentang dinasti Surya dan Chandra, para rsi kembali meminta Romaharsana untuk menceritakan tentang geografi dunia. Seperti apa dunia terlihat? 

Romaharsana menjelaskan.

Bumi terbagi menjadi tujuh wilayah (dwipa). Nama-nama wilayah tersebut adalah Jambudwipa, Plakshawipa, Shalmaladwipa, Kushadwipa, Krouchadwipa, Shakadwipa dan Pushkaradwipa. Wilayah-wilayah ini dikelilingi oleh tujuh samudera dan nama-nama tujuh samudera tersebut antara lain Lawana, Ikshu, Sura, Sarpi, Dadhi, Dugha dan Jala.

Jambudwipa berada di tengah dan tepat di tengah Jambudwipa adalah Gunung Sumeru. Di sebelah selatan Sumeru adalah pegunungan Himawana, Hemakuta dan Nishadha dan di sebelah utara Sumeru adalah pegunungan Nila, Shweta, dan Shringi. Jambudwipa sendiri terbagi menjadi beberapa wilayah (atau dikenal dengan sebutan warsha). Sebagai contoh, Sumeru berada di tengah Ilawritawarsha. Bharatawarsha berada di selatan Sumeru. Di sebelah timur Sumeru adalah Bhadrashwawarsha dan di sebelah barat adalah Ketumalawarsha. Hariwarsha terletak di selatan dan Ramyakawarsha di utara. Lebih jauh ke utara adalah Hiranmayawarsha dan lebih dari itu, Uttarakuruwarsha.

Kota Brahma berada di puncak Sumeru. Di sanalah sungai Gangga turun dari surga dan dibagi menjadi empat anak sungai. Sita mengalir ke timur, Chakshu ke barat, Bhadra ke utara dan Alakananda ke selatan Bharatawarsha.

Ada tujuh jajaran gunung utama di Bharatawarsha dan namanya adalah Mahendra, Malya, Sahya, Shuktimana, Riksha, Windhya, dan Pariyatra. Bharatawarsha sendiri dibagi menjadi sembilan wilayah (dwipa). Nama delapan wilayah ini adalah Indradwipa, Kaserumana, Tamraparna, Gabhastimana, Nagadwipa, Soumya, Gandharwa dan Waruna. Wilayah kesembilan benar-benar dikelilingi oleh lautan ke segala arah. Di sebelah timur Bharatawarsha hiduplah para Kirata dan di sebelah barat para Yawana.

Di bawah bumi terletak tujuh wilayah dunia bawah (patala). Nama mereka adalah Atala, Witala, Nitala, Sutala, Talatala, Rasatala dan Patala. Para daitya, danawa dan ular (sarpa) tinggal di sana. Dunia bawah adalah tempat yang indah, lebih indah dari surga itu sendiri. Orang bijak Narada suatu kali melakukan perjalanan ke dunia bawah dan terpesona oleh keindahannya. Itu penuh dengan istana dan permata. Matahari terbit di sana, tetapi tidak memancarkan panas terlalu banyak. Bulan juga naik, tetapi sinarnya sama sekali tidak dingin. Hutan dihuni oleh pohon-pohon yang indah dan kolam yang penuh dengan bunga teratai, nyanyian burung Cuckoo terdengar di mana-mana. Di bawah neraka tidur seekor ular besar, yang dikenal sebagai Shesha atau Ananta. Beliau memiliki seribu kerudung, semua kerudungnya dihiasi dengan perhiasan. Ular ini merupakan Wisnu dalam salah satu dari berbagai wujudnya.

Bagian dari dunia adalah neraka (naraka), dipimpin oleh Yama, dewa kematian. Neraka itu penuh dengan senjata, api, dan racun, dan orang-orang yang berdosa akan dikirim ke sana untuk dihukum. Dosa yang membuat seseorang dikirim ke neraka adalah berbohong, membunuh, membunuh sapi, menghancurkan milik orang, minum-minuman keras, membunuh brahmana, pencurian, menjual anggur atau minuman keras, mengkritik weda, menghina orang tua, membuat senjata, menjual daging, berbuat iseng dalam astronomi, menjual garam, menghancurkan hutan dengan sia-sia, membunuh domba atau rusa, menipu dan belajar dengan putranya sendiri. Setiap orang berdosa menerima hukuman yang sesuai dengan tingkat keparahan dosanya. Tentu saja, jika seseorang melakukan penebusan dosa (prayashchitta) untuk dosa seseorang, ia tidak perlu pergi ke naraka. Bentuk penebusan dosa yang terbaik adalah berdoa kepada Krishna.

Bumi (prithiwi atau bhuloka) seluas bagian-bagian langit yang dapat diterangi oleh sinar matahari dan bulan. Hamparan dari batas bumi ke lingkaran matahari dikenal sebagai bhuwarloka dan orang suci suci tinggal di sana. Di atas lingkaran matahari adalah lingkaran bulan dan di atasnya, berturut-turut, datanglah wilayah Merkurius (Budha), Venus (Shukra), Mars (Mangala), Jupiter (Brihaspati), Saturnus (Shani), konstelasi Beruang Besar (Saptarshi) ) dan Bintang Kutub (Dhruwa). Wilayah dari lingkaran matahari ke Dhruwaloka dikenal sebagai surga (swarloka atau swarga). Di luar Dhruwaloka adalah Maharloka dan lebih jauh lagi adalah, Janaloka, putra-putra Brahma tinggal di Janaloka. Di luar Janaloka adalah Tapaloka dan Satyaloka. Pada akhir sebuah kalpa, ketiga loka (alam) bhuloka, bhuwarloka dan swarloka dihancurkan. Tetapi empat loka dari Maharloka, Janaloka, Tapaloka dan Satyaloka tidak hancur.



Thursday, August 15, 2019

Kisah Yayati Dinasti Chandra


Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Di dalam dinasti bulan (dinasti Chandra), lahirlah raja yang kuat bernama Nahusha. Dia menikahi Wiraja dan mereka memiliki enam putra bernama Yati, Yayati, Samyati, Ayati, Yati dan Suyati. Yati menjadi seorang pertapa. Jadi, meskipun Yayati bukan yang tertua, ia dimahkotai raja setelah Nahusha turun tahta.

Yayati memiliki dua istri. Yang pertama adalah Dewayani, putri Shukracharaya. Dan yang kedua adalah Sharmishtha, putri Wrishaparwa, raja danawa. Dewayani memiliki dua putra bernama Yadu dan Turwasu dan Sharmishtha memiliki tiga putra bernama Druhya, Anu dan Puru. Yayati menaklukkan seluruh bumi dan memerintah atasnya. Ketika dia menjadi tua, dia membagi bumi di antara kelima putranya. Yadu diberi tanah di timur, Puru tanah di tengah, Turwasu tanah di selatan dan tenggara, Druhya di utara dan Anu di barat.

Yayati menyerahkan senjatanya dan memutuskan untuk melakukan perjalanan ke seluruh dunia. Dia memanggil Yadu dan berkata, "aku ingin menjelajahi dunia dan usia tuaku adalah halangan. Terimalah usia tua saya dan berikan masa muda Anda kepada saya.

Yadu menolak, "Aku tidak akan memberikan masa mudaku. Seseorang tidak bisa makan dengan baik ketika dia tua, juga tidak bisa menikmati kenyamanan dunia. Usia tua tidak menyenangkan. Sebaliknya, mintalah kepada salah satu saudara saya".

Penolakan Yadu membuat Yayati marah. Dia mengutuk Yadu bahwa dia atau keturunannya tidak akan menjadi raja. Yayati selanjutnya meminta Druhya, Turwasu dan Anu, tetapi mereka juga menolak dan juga akhirnya dikutuk oleh ayah mereka. Tetapi hanya Puru menyetujui permintaan ayahnya dan dengan senang hati menerima hari tua itu. Dia kemudian diberkati oleh ayahnya kelak akan menjadi raja.

Setelah bertahun-tahun berlalu, Yayati bosan dengan dunia dan mengembalikan masa muda Puru kepadanya. Dia menerima kembali masa tuanya dan menjalani masa ke hutan untuk bermeditasi.

Dari Puru lahirlah keturunan Raja Bharata yang kelak kemudian tanah itu dikenal sebagai Bharatawarsha. Juga di garis keturunan ini adalah Raja Kuru, yang setelahnya semua keturunan kemudian dikenal sebagai Korawa. Tempat suci bernama Kurukshetra terkait dengan nama Raja Kuru.

Dari Turwasu diturunkan raja-raja Pandya, Kerala, Kola dan Chola.

Dari Druhya diturunkan ke raja-raja Gandhara. Kuda-kuda dari kerajaan Gandhara sangat terkenal.

Yadu memiliki lima putra, Sahasrada, Payoda, Kroshtu, Nila dan Anjika. Keturunan Sahasrada adalah suku Haihaya, di antara yang paling terkenal adalah Kartyawirya Arjuna. Arjuna menjadi senang setelah sang rsi Dattatreya membuatnya menjadi tak terkalahkan. Dia juga memiliki seribu tangan. Perbuatan agung Arjuna adalah mengalahkan dan memenjarakan Rahwana, raja Alengka. Keturunan Kroshtu adalah Wrishni dan Andhaka. Di garis keturunan Wrishni lahirlah Krishna.



Wednesday, August 14, 2019

Chandra Dinasti

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Suatu hari ada seorang resi yang bernama Atri. Atri melakukan tapasya yang sangat sulit. Begitu sulitnya tapasya yang dia lakukan sehingga energi Atri memancar ke langit. Langit tidak tahan dengan energi ini dan melemparkanya kembali ke bumi. Energi ini kemudian melahirkan Soma atau Chandra (dewa bulan). Brahma kemudian membawa Chandra dengan kereta dan mengemudikan kereta itu ke seluruh bumi sebanyak 21 kali. Dari energi yang masih  tersisa dari hasil terciptanya Chandra, tanaman obat tercipta.

Setelah Chandra melakukan tapasya yang sangat sulit selama 100 tahun padma. 1 tahun padma sama dengan 10.000.000.000.000 tahun normal. Setelah meditasi selesai, Brahma menunjuk Chandra sebagai raja atas segala biji-bijian, tumbuhan, brahmana, dan lautan. Chandra juga melakukan rajasuya yajna sebagai perayaan atas kepemimpinannya. Hal ini memberinya kemuliaan, kekayaan, kehormatan.

Tetapi semua itu (kemuliaan, kekayaan, kehormatan) ternyata mengubah isi kepala Chandra. Guru para dewa adalah rsi Brihaspati. Brihaspati memiliki seorang istri bernama Tara dan Chandra menculik Tara. Meskipun para dewa dan orang bijak meminta Chandra untuk mengembalikan Tara, tetapi Dewa bulan tersebut tidak mau mendengarkan. Perang yang mengerikan kemudian terjadi atas nama dewi Tara, para dewa bertarung untuk Brihaspati dan para iblis yang berperang untuk Chandra. Shukracharya, guru para iblis, bertempur di pihak Chandra dan Siwa bertempur di pihak Brihaspati. Perang ini (samgrama) kemudian dikenal sebagai tarakamaya samgrama, karena dimulai dari Tara.

Akhirnya Brahma turun tangan dan gencatan senjata ditetapkan. Tetapi Chandra dan Tara pada saat itu memiliki seorang putra, dan Brihaspati menolak untuk menerima putra ini sebagai miliknya. Anak ini kemudian diberi nama Budha. Seperti yang sudah Anda ketahui, Budha menikahi Ila dan mereka memiliki seorang putra bernama Pururawa.

Brahma Purana sekarang akan menceritakan beberapa raja dari dinasti bulan.

Tuesday, May 14, 2019

Sagara

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Putra Trishanku adalah Harishchandra dan dari Harishchandra lahirlah seorang raja bernama Bahu. Bahu terlalu banyak bersenang-senang dalam hidupnya. Hasilnya adalah bahwa segala masalah kerajaan tidak ditangani dengan baik. Musuh-musuh mengambil kesempatan ini untuk menyerang kerajaan Bahu. Mereka mengusir Bahu dan Bahu pergi ke hutan bersama istrinya Yadavi.

Kerajaan Bahu kemudian dipimpin oleh raja Haihaya dan Talajangha. Mereka dibantu oleh para keturunan Shaka, Yawana, Parada, Kamboja dan Pahlawa.

Raja Bahu akhirnya meninggal di hutan. Istrinya, Yadawi, ingin ikut mati di atas pembakaran mayat suaminya. Tetapi karena Yadawi sedang hamil pada saat itu, rsi Ourva membujuknya bahwa tindakan seperti itu akan menjadi dosa. Dia membawa Yadavi ke pertapaannya sendiri dan mulai merawatnya.

Bahu juga memiliki istri kedua dan dia pernah mencoba meracuni Yadavi. Namun racun (dalam bahasa Sansekerta = gara) tidak membahayakan dan muncul ketika bayi itu lahir. Karena bayi itu lahir bersama dengan racun, ia kemudian dikenal sebagai Sagara.

Rsi Ourva memberikan pendidikan kepada Sagara. Dia memberi Sagara pengetahuan tentang semua shastra dan juga penggunaan senjata. Antara lain, Sagara memperoleh keterampilan menggunakan senjata ilahi yang dikenal sebagai agneyastra.

Ketika dia tumbuh dewasa, Sagara menyerang raja-raja Haihaya dan mengalahkan mereka melalui penggunaan senjata agneyastra. Dia kemudian mengalahkan para Shaka, Yawana, Parada, Kamboja dan Pahlava dan akan membunuh mereka semua. Tetapi para musuh ini melarikan diri ke Washishtha bijak untuk berlindung dan Washishtha membujuk Sagara untuk tidak membunuh musuhnya. Sebagai ganjaran atas kekalahannya, kepala para keturunan Shaka dicukur setengah. Para Yavana dan Kamboja benar-benar dicukur habis. Para Pahlawa diperintahkan agar harus memelihara janggut. Raja-raja musuh ini juga kehilangan hak untuk mengikuti agama yang ditetapkan dalam Veda. Kerajaan-kerajaan yang berhasil dikalahkan Sagara antara lain, Konasarpa Mahishaka, Darva, Chola dan Kerala.

Raja Sagara memiliki dua istri. Yang pertama bernama Keshini dan dia adalah putri raja Vidarbha. Brahma Purana tidak memberi tahu kita nama istri kedua, tetapi dari epos cerita  Mahabharatakita tahu bahwa nama istri keduanya adalah Sumati. Keshini dan Sumati tidak memiliki putra. Karena itu mereka mulai berdoa kepada Ourva agar mereka dapat memiliki putra.

Ourva senang mendengar doa-doa ini dan berkata, kalian berdua akan memiliki putra. Tetapi salah satu dari Anda akan memiliki satu putra dan satu lainnya akan memiliki enam puluh ribu putra. Katakan padaku, siapa yang mau apa.

Keshini meminta seorang putra tunggal dan Sumati meminta enam puluh ribu putra. Pada waktunya, Keshini melahirkan seorang putra bernama Panchajana. Sumati melahirkan labu. Di dalam labu ada benjolan daging. Labu ditempatkan di dalam panci penuh mentega (ghrita). Dan dari benjolan daging itu lahir enam puluh ribu putra.

Raja Sagara melanjutkan untuk menaklukkan seluruh bumi. Sebagai pengakuan atas penaklukan ini, ia memprakarsai ashvamedha yajna (pengorbanan kuda). Dalam upacara ini, kuda korban dibiarkan bebas berkeliaran di seluruh bumi. Enam puluh ribu putra menemani kuda sebagai gardanya. Kuda itu akhirnya mencapai tepi lautan yang terletak di arah tenggara. Sementara putra-putra Sagara sedang beristirahat, kudanya dicuri. Para putra mulai mencari kuda dan mulai menggali pasir. Dalam proses ini, mereka menemukan Kapila yang bijaksana. Kapila telah bermeditasi dan meditasinya terganggu oleh hiruk-pikuk mengerikan yang dilakukan putra-putra Sagara. Dia menatap mereka dengan marah dan semua kecuali empat putra dibakar menjadi abu. Keempat putra yang diselamatkan bernama Varhiketu, Suketu, Dharmaketu dan Panchajana.

Brahma Purana menceritakan bahwa kuda kurban tersebut akhirnya diperoleh oleh Sagara dari laut. Itulah alasan mengapa samudera disebut sebagai sagara.

Brahma Purana menceritakan, putra Panchajana adalah Amshumana dan putra Amshumana adalah Dilipa. Dilipa memiliki seorang putra bernama Bhagiratha. Bhagiratha membawa sungai Gangga dari surga ke bumi dan dengan demikian menebus dosa leluhurnya yang telah dibakar menjadi abu oleh Kapila. Karena inilah sungai Gangga kemudian dikenal sebagai Bhagirathi.

Dari Bhagiratha diturunkan Raghu. Putra Raghu adalah Aja. Putra Aja adalah Dasharatha dan putra Dasharatha adalah Rama (yang terkenal dalam epos cerita Ramayana). 



Tuesday, May 7, 2019

Trishanku

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Dari Dridashwa lahirlah seorang raja yang bernama Trayaruni. Trayaruni adalah seorang raja yang baik dan mengikuti semua ajaran-ajaran dalam kitab suci. Tetapi putra Trayaruni yang bernama Satyawrata memiliki sifat yang bertolak belakang dengan ayahnya dan dia menolak mengikuti jalan kebenaran. Pemimpin agama raja Trayaruni adalah seorang rsi agung yang bernama Washishtha. Washishtha menyarankan raja agar anaknya yang memiliki sifat iblis itu diusir dari kerajaan. Trayaruni mengikuti saran rsi. Sebagai akibatnya Satyawrata mulai tinggal bersama orang-orang buangan (chandala) lainnya di luar kerajaan.

Setelah beberapa waktu berlalu, Trayaruni melepaskan kerajaannya dan pergi ke hutan. Kerajaan tidak memiliki raja dan mulai kea rah anarki. Ketiadaan raja juga menjadi perhatian para dewata dan selama 12 tahun terjadi kemarau yang mengerikan.

Wishwamitra merupakan salah satu rsi agung selain Washishtha. Pada saat kejadian itu terjadi, Wishwamitra sedang tidak berada di kerajaan tersebut. Dia sedang bertapa di tepi pantai, meninggalkan istri dan anaknya yang tinggal di kediaman (ashrama) yang berada di kerajaan tersebut. Karena kemarau yang panjang, penduduk kerajaan mulai kelaparan. Istri Wishwamitra memutuskan untuk menjual putranya untuk mendapatkan makanan. Dia mengikatkan tali ke leher anaknya dan membawanya ke pasar. Disana dia menjualnya dengan menukarkanya dengan 1.000 sapi. Karena tali terikat di lehernya (dalam bahasa Sansekerta disebut "gala"), kemudia dia dikenal sebagai Galawa. 

Satyawrata menemukan apa yang menimpa keluarga Wishwamitra tersebut. Dia kemudian membebaskan Galawa dan merawat istri Wishwamitra beserta anak-anaknya. Satyawrata sangat tidak menyukai Washishtha. Dia menyalahkan Washishtha atas pembuangan dirinya. Pada saat terjadi kelaparan dimana-mana, dia mencuri sapi milik Washishtha. Dia membunuh sapi dan menghidangkannya kepada putra-putra Wishwamitra dan sebagianya untuk dirinya sendiri.

Wishwamitra sangat marah mengetahui kejadian ini. Dia mengutuk Satyawrata.

"Kamu telah melakukan tiga dosa (dosa bahasa Sansekertanya adalah "shanku"). Pertama kamu telah membuat ayahmu marah. Kedua kamu telah mencuri dan membunuh sapi. Ketiga kamu telah makan daging sapi (daging terlarang). Karena itu, kamu akan dikenal sebagai Trishanku dan terkutuk selamanya", kata Washishtha. 

Bagaimanapun juga Satyawrata telah merawat keluarga Wishwamitra dan pada saat sang rsi pulang, Wishwamitra senang dengan dengan apa yang telah Trishanku lakukan dan menawarkannya sebuah anugerah. Trishanku berkeinginan untuk bisa pergi ke surga dengan tubuh fisiknya tersebut. Berkat kekuatan tapasya Wishwamitra, tugas yang kelihatannya tidak mungkin itu menjadi selesai. Trishanku akhirnya menjadi raja di kerajaan milik Trayaruni dan Wishwamitra menjadi kepala rsi agung disana.


Wednesday, April 10, 2019

Kubalashwa

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kubalashwa adalah keturunan dari Kakutstha. Ayah Kubalashwa bernama Wrihadashwa.

Setelah Wrihadashwa memerintah selama beberapa tahun, dia berniat untuk pensiun di hutan. Oleh karena itu dia mempersiapkan untuk menyerahkan kerajaannya kepada Kubalashwa. Melihat ketetapan hati raja Wrihadashwa, seorang rsi bernama Utanka dating menemui raja.

Utanka berkata, “Jangan pergi ke hutan. Kediaman (ashrama) saya di pinggir pantai di kelilingi pasir dari semua arah. Raksasa yang kuat yang bernama Dhundhu tinggal di bawah pasir. Dia sangat kuat, bahkan para dewa pun tidak mampu membunuhnya. Setiap tahun, dia menghembuskan nafas yang menimbulkan badai debu dan pasir yang luar biasa. Dalam seminggu penuh, matahari akan tertutup debu dan aka nada gempa bumi akibat dari pernapasan Dhundhu tersebut. Hal ini mengganggu meditasi (tapasya) saya. Anda jangan pergi ke hutan dulu sebelum melakukan sesuatu terhadap Dhundhu. Hanya anda yang dapat membunuhnya. Saya telah mengumpulkan kekuatan dari tapasya saya dan saya akan memberikannya kepada anda agar anda bisa membunuh Dhundhu.”

Wrihadashwa mengatakan kepada Utanka bahwa tidak perlu Wrihadashwa sendiri yang harus membunuh Dhundhu. Wrihadashwa tetap akan pergi ke hutan seperti yang sudah dia tetapkan. Putranyalah yang bernama Kubalashwa yang akan membantu Utanka untuk membunuh Dhundhu.

Kubalashwa beserta seratus putranya pergi ke pantai dan mulai menggali, berharap dapat menemukan Dhundhu. Dhundhu menyerang putra-putra Kubalashwa tetapi 3 berhasil kabur. Mereka adalah Dridashwa, Chandrashwa, dan Kapilashwa. Tetapi Dhundhu sendiri berhasil membunuh Dhundhu. Karena Kubalashwa berhasil membunuh Dhundhu maka ia juga dikenal dengan nama Dhundhumara. Rsi Utanka memberikan berkat kepada Kubalashwa dan melalui berkat dari rsi, putra-putra Kubalashwa yang telah mati naik ke surga.


Hasil gambar untuk raksasa penguasa pasir

Monday, April 8, 2019

Keturunan Waiswata Manu

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Waiswata Manu tidak memiliki keturunan dan dia mengadakan upacara pengorbanan untuk memiliki seorang putra. Sembilan putra lahir dari upacara pengorbanan tersebut. Nama-nama mereka antara lain Ikshvaku, Nabhaga, Dhrishta, Sharyati, Narishyanta, Pramshu, Rishta, Karusha and Prishadhra. Mani juga memberi persembahan kepada dua dewata yaitu Mitra dan Waruna. Sebagai hasil dari persembahan tersebut, seorang putri terlahir yang bernama Ila.

Buddha adalah anak laki-laki dari dewa Chandra. Buddha menikah dengan Ila dan memiliki seorang putra bernama Pururawa. Selanjutnya, berkat berkah dari dewa Mitra dan Waruna, Ila menjadi seorang pria dan bernama Sudyumna. Putra-putra Sudyumna antara lain Utkala, Gaya and Winatashwa. Utkala memerintah di Orissa, Gaya memerintah di suatu wilayah yang juga bernama Gaya, and Winatashwa memerintah di barat.

Sudyumna tidak cocok memerintah karena dia sebelumnya adalah wanita. Dia tinggal di kota yang dikenal dengan nama Pratishthana. Pururawalah yang mewarisi selanjutnya.


Ketika Waiswata Manu meninggal dunia, kesepuluh putranya membagi-bagikan wilayah di bumi ini di antara mereka masing-masing. Ikshvaku mendapatkan wilayah yang di tengah. Ikshvaku memiliki 100 putra. Nama putra yang tertua nya adalah Wikukshi. Wikukshi kemudian dikenal sebagai Shashada. Demikian ada ceritanya.

Ikshvaku ingin mengadakan upacara pengorbanan. Dia mengirim putranya Wikukshi ke hutan untuk mencari daging untuk persembahan. Pada saat sedang berburu, Wikukshi merasa sangat lapar dan memakan beberapa daging. Hal ini merupakan suatu bentuk penistaan dan rsi Washistha menyuruh Ikshvaku untuk membuang Wikukshi dari kerajaannya. Karena daging yang telah dimakannya adalah daging kelinci (shashaka), Wikukshi kemudian dikenal sebagai Shashada.

Tetapi setelah Ikshvaku meninggal, Wikukshi kembali ke kerajaan ayahnya dan memerintah di sana. Kerajaan inilah yang kita kenal sebagai Ayodhya. Salah satu anak laki-laki Wikukshi adalah Kakutstha, dan Rama yang dalam epos Ramayana yang terkenal lahir dalam garis keturunan ini.


Saturday, April 6, 2019

Surya Dinasti

PURANA



Brahma Purana



Kitab Suci Agama Hindu



Mungkin saat ini kita sudah lupa bahwa Kashyapa dan Aditi memiliki seorang putra yang bernama Wiwaswana. Beliau adalah Dewa Matahari, yang juga dikenal sebagai Surya atau Martanda.


Surya kemudian menikah dengan putri dari Wiswakarma yang bernama Samjna. Mereka kemudian memilki 2 orang putra. Putra yang pertama bernama Waiswata Manu dan putra yang kedua bernama Yama atau Shraddhadewa (Dewa kematian). Yama memilki saudara kembar perempuan bernama Yamuna.


Dikisahkan bahwa energi Dewa Surya (Matahari) sangatlah kuat sampai-sampai Samjna tidak kuat untuk menatap suaminya itu. Dengan kekuatannya, Samjna kemudian menciptakan suatu tiruan dirinya yang sama persis dengan dirinya. Tiruan ini diberi nama Chhaya (yang berarti bayangan).


Samjna berkata kepada Chhaya,”Aku tidak tahan dengan energi suamiku. Aku akan pergi ke rumah ayahku. Tetaplah disini, dan jadilah seperti Samjna yang asli, rawatlah anak-anakku dengan baik. Jangan beritahu siapa pun, termasuk terhadap suamiku, bahwa kamu bukanlah Samjna.”


“Saya akan menjalankan seperti yang anda minta. Tetapi saat ada seseorang yang mengutuk saya atau menjambak rambut saya, saya terpaksa akan memberitahu kebenaran yang sebenarnya,” jawab Chhaya.


Samjna kemudian pergi ke tempat ayahnya, Wiswakarma dan menceritakan semua yang telah ia lakukan. Wiswakarma tetap membujuk Samjna agar kembali kepada suaminya. Tetapi Samjna menolak. Dia malah pergi ke suatu tempat yang dikenal sebagai Uttara Kuru dan mulai tinggal di sana dalam wujudnya sebagai kuda betina.


Sementara, dewa Surya yang tidak menyadari bahwa Samjna telah diganti dengan Chhaya, memiliki 2 orang putra dari Chhaya. Nama mereka adalah Sabarno Mani dan Shani (Saturnus). Sejak anaknya tersebut lahir, Chhaya tidak lagi terlihat terlalu sayang kepada anak-anak Samjna, seperti yang telah diminta. Waiswata Manu adalah orang yang pendiam dan dia mengabaikan semua yang terjadi. Tetapi Yama tidaklah seperti Waiswata Manu yang pendiam. Dia tidak memili toleransi, disamping juga karena usianya yang masih muda. Yama mengangkat kakinya dan menendang Chhaya. Karena hal itu, Chhaya mengutuk Yama bahwa kakinya akan jatuh.


Yama kemudian pergi mengadu kepada dewa Surya, “Saya sebenarnya tidak benar-benar menendangnya. Saya hanya mengancam. Dan apakah ada seorang ibu yang pernah mengutuk anaknya sendiri?”


“Saya tidak dapat membatalkan kutukan. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengurangi efeknya. Kakimu tidak akan benar-benar terjatuh. Sebagian daging dari kakimu akan jatuh ke bumi dan menjadi cacing. Dengan begitu, kamu akan terbebas dari kutukanmu,” jawab dewa Surya.


Namu demikian, dewa Surya merasa bahwa perkataan Yama ada benarnya juga bahwa tidak ada ibu yang mengutuk anaknya sendiri. Dia memaksa Chhaya untuk mengungkapkan kebenaran, tetapi Chhaya tidak mau. Dewa Surya kemudian menjambak rambut Chhaya dan mengancam akan mengutuknya. Karena kondisi persyaratannya telah dilanggar, maka Chhaya keceplosan mengungkap kebenaran yang sebenarnya.


Dalam perasaan yang sangat marah, dewa Surya pergi ke kediaman Wiswakarma. Wiswakarma berusaha menenangkan dewa Surya, “Sebab utama kejadian itu adalah kelebihan energi yang dimiliki oleh anda, dewa Surya. Jika anda mengizinkan, saya akan memotong-motong kelebihan energi anda. Sehingga Samjna akan dapat melihat anda lagi.”


Dewa Surya setuju. Melalui energi dewa Surya yang telah terpotong ini, Wiswakarma menciptakan chakra Wisnu (sebuah senjata seperti cakram berbilang).


Dewa Surya menemukan Samjna berada di Uttara Kuru dalam wujud kuda betina. Dewa Surya juga berubah wujud menjadi kuda dan menemui Samjna. Dalam wujudnya sebagai kuda, mereka memilki 2 orang putra yang dikenal sebagai dewa Aswin (dewa penyembuh).


Surya dan Samjna kemudian melepaskan wujud kudanya dan hidup bahagia selamanya.



Friday, March 29, 2019

Manwantara

Purana



Brahma Purana



Kitab Suci Agama Hindu


Manwantara adalah sebuah era. Ada 4 zaman yang lebih kecil yang disebut dengan yuga. 4 yuga tersebut antara lain satya atau krita yuga, treta yuga, dwapara yuga dan kali yuga. Setiap siklus satya yuga, treta yuga, dwapara yuga dan kali yuga disebut mahayuga. Mahayuga terdiri dari 12.000 tahun para dewa, atau setara dengan 4.320.000 tahun bagi manusia. 71 mahayuga merupakan 1 manwantara dan 14 manwantara merupakan 1 siklus (kalpa). 1 kalpa adalah 1 hari Brahma dan alam semesta dihancurkan pada akhir sebuah kalpa.

Setiap manwantara dikuasai oleh seorang Manu. Dalam kalpa ini, 6 manwantara telah berlalu dan nama-nama enam Manu yang memerintah adalah Swayambhuwa, Swarochisha, Uttama, Tamasa, Raiwata, dan Chakshusha. Nama Manu ketujuh, yang memerintah atas manwantara ketujuh dari kalpa yang sekarang, adalah Vaiwaswata.

7 rsi agung (saptarshi) serta gelar Indra berubah-ubah dari manwantara yang satu ke manwantara yang lain. Para dewa juga berubah.

Dalam manwantara saat ini, 7 rsi agung adalah Atri, Washishtha, Kashyapa, Goutama, Bharadwaja, Wishwamitra dan Jamadagni. Dewa-dewa sekarang adalah para sadha, rudra, wishwadewa, wasu, marut, aditya, dan dua ashwini.

Akan ada tujuh manu di masa depan sebelum alam semesta dihancurkan. Lima dari Manu tersebut akan dikenal sebagai Sawarni Manu. Dua yang tersisa akan disebut Bhoutya dan Rouchya


Tuesday, March 26, 2019

Kisah tentang Prithu

Purana



Brahma Purana



Kitab Suci Agama Hindu


Dalam garis Dhruwa ada seorang raja bernama Anga. Anga adalah seseorang yang religius dan mengikuti jalan kebenaran. Namun sayangnya, putranya yang bernama Wena, tidak mewarisi sifat baik ayahnya. Ibu Wena adalah Sunitha dan dia adalah putri Mrityu. Mrityu sangat terkenal karena perbuatan jahatnya. Wena menghabiskan banyak waktu bersama Mrityu (kakeknya dari pihak ibu) dan menjadi pewaris karakteristik jahat Mrityu .

Wena tidak menghiraukan ajaran agama yang ada di dalam Weda dan menghentikan semua yajna. Dia menginstruksikan rakyatnya bahwa dialah sendiri yang harus disembah.

Para rsi yang dipimpin oleh Marichi datang ke Wena untuk mencoba dan membujuknya untuk memperbaiki jalannya. Tapi Wena tidak mendengarkan. Dia bersikeras bahwa tidak ada seorang pun yang setara dengannya di seluruh alam semesta.

Orang bijak menyadari bahwa Wena adalah hal yang salah dan harus dilenyapkan. Mereka secara fisik menangkap Wena dan mulai menguleni paha kanannya. Dari pengulenan ini, muncul makhluk yang tampak mengerikan. Itu adalah orang cebol dan kulitnya sangat gelap. Rsi Arti begitu kaget pada penampilan kurcaci itu sehingga dia berseru, “nishida”, yang berarti “duduk”. Dari sini kurcaci itu kemudian dikenal sebagai nishada. Ras nishada menjadi pemburu dan nelayan, dan tinggal di pegunungan Windhya. Dari mereka juga turun ras tidak beradab seperti tushara dan tundura.

Kejahatan yang ada di tubuh dan pikiran Wena keluar dengan munculnya nishada.

Ketika orang bijak mulai menguleni lengan kanan Wena, Prithu muncul. Dia bersinar seperti api yang menyala dan energinya menyebar ke empat arah. Dia memegang busur di tangannya dan dia mengenakan baju besi yang indah. Segera setelah Prithu lahir, Wena meninggal.

Semua sungai dan samudra tiba dengan air dan perhiasan mereka untuk mengurapi Prithu sebagai raja. Para dewa dan orang bijak juga datang untuk penobatan. Brahma sendiri memahkotai Prithu, sebagai raja bumi. Dia juga mengambil kesempatan untuk menobatkan dewa lainya sebagai bagian lain dari alam semesta. Soma yang diangkat menjadi penguasa atas tumbuhan rambat, tumbuhan obat, bintang (nakshatra), planet (graha), meditasi (tapasya) dan atas kelas pertama dari empat kelas (brahmana). Waruna menjadi penguasa lautan, Kubera menjadi penguasa semua raja, Wisnu menjadi penguasa para aditya, Agni menjadi penguasa para wasu, Daksha menjadi penguasa para Prajapati, Indra menjadi penguasa para Marut, Prahlada menjadi penguasa daitya dan danawa, Yama menjadi penguasa para pritra (leluhur), Siwa menjadi penguasa para yaksha, rakshasa dan pishacha (hantu), dan Himalaya menjadi penguasa dari pegunungan.

Lautan (samudra) dijadikan penguasa semua sungai. Chitraratha menjadi penguasa dari para gandharwa, Wasuki menjadi penguasa dari para naga, Takshaka menjadi penguasa dari sarpa (ular), Garuda menjadi penguasa dari para burung, harimau menjadi penguasa dari para rusa, Airawata menjadi penguasa dari para gajah, Ucchaihshrawa menjadi penguasa dari para kuda, banteng menjadi penguasa dari para sapi dan pohon ashwattha (beringin) menjadi penguasa dari semua pohon. Brahma juga menunjuk empat penguasa arah. Di sebelah timur ada Sudhanwa, di sebelah selatan Shankhapada, di sebelah barat Ketumana dan di sebelah utara Hiranyaroma.

Prithu adalah raja yang memerintah bumi dengan baik. Selama pemerintahannya, bumi penuh dengan biji-bijian. Sapi-sapi penuh susu dan semuanya senang. Untuk memuliakan Raja Prithu, para rsi melakukan pengorbanan dan dari pengorbanan ini muncul dua ras yang dikenal sebagai suta dan magadha. Orang bijak memutuskan bahwa untuk selanjutnya, kedua ras ini akan diberi tugas menyanyikan pujian untuk menghormati raja-raja besar dan tokoh suci. Tetapi pertama-tama, mereka menginginkan agar suta dan magadha menyanyikan pujian untuk menghormati Prithu.

“Tetapi pujian apa yang akan kita nyanyikan?”, tanya suta dan magadha. Prithu masih muda. Dia belum melakukan banyak hal yang bisa dipuji.

“Itu memang benar. Tapi dia akan melakukan perbuatan luar biasa di masa depan. Nyanyikan pujian untuk perbuatan indah itu. Kami akan memberi tahu kalian tentang hal itu”, jawab para rsi.

Setelah mengetahui tindakan-tindakan masa depan dari para resi ini, para suta dan para magadha mulai mengarang lagu dan melantunkan pujian untuk menghormati Prithu. Kisah-kisah ini terkenal di seluruh bumi. Beberapa orang mendengar cerita ini dan datang untuk melihat Prithu. “Raja. Kami telah mendengar tentang perbuatanmu yang agung. Tapi kami kesulitan mencari nafkah. Tolong tunjukkan kepada kami tempat tinggal kami di bumi. Dan beri tahu kami di mana kami bisa mendapatkan makanan yang kami butuhkan untuk bertahan hidup”, kata mereka.

Raja Prithu mengambil busur dan anak panahnya. Dia memutuskan untuk membunuh bumi, karena bumi tidak menghasilkan makanan bagi rakyatnya. Bumi berubah wujud menjadi bentuk seekor sapi dan mulai melarikan diri. Tapi ke mana pun bumi pergi, Prithu mengikuti dengan busur dan panahnya. Dia mengikuti bumi ke surga dan ke dunia bawah.

Akhirnya, dengan putus asa, bumi mulai berdoa ke Prithu. “Raja, katanya, tolong kendalikan amarahmu. Saya wanita. Membunuhku hanya akan berarti dosa bagimu. Selain itu, apa tujuan anda membunuh saya? Tanpa saya ada, Anda akan tanpa tempat tinggal. Pasti ada cara lain rakyat Anda dapat menghasilkan hidup."

Bumi sendiri kemudian menawarkan solusi dan Raja Prithu. Dengan busurnya, dia meratakan bumi. Dataran sekarang dapat digunakan untuk desa dan kota dan untuk pertanian dan peternakan. Mereka dikumpulkan bersama di tempat-tempat tertentu, alih-alih sebelumnya mengotori seluruh bumi. Sebelumnya, subyek Prithu telah hidup dari buah dan akar. Sekarang Prithu memerah susu bumi (dalam bentuk seekor sapi) dan memperoleh biji-bijian, biji-bijian tempat orang bisa hidup. Karena berkat anugerah dari Prithu, bumi kemudian dikenal sebagai Prithiwi.


Sunday, March 24, 2019

Keturunan Daksha

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Istri Daksha bernama Asikli dan Asikli melahirkan lima ribu putra. Mereka dikenal sebagai para Haryashwa. Para Haryashwa ditakdirkan untuk memerintah dunia. Tetapi rsi Narada pergi ke tempat para Haryashwa dan berkata, “Bagaimana Anda bisa memerintah dunia jika Anda bahkan tidak tahu seperti apa dunia ini? Apakah Anda terbiasa dengan geografi dan batasannya? Pertama cari tahu tentang hal-hal ini, sebelum Anda mempertimbangkan untuk memerintah dunia.”

Para Haryashwa pergi menjelajahi dunia dan tidak pernah kembali.

Daksha dan Asikli kemudian memiliki seribu putra lagi yang diberi nama para Shawalashwa. Narada memberi tahu mereka apa yang dia katakan kepada para Haryashwa dan para Shawalashwa juga pergi untuk menjelajahi dunia dan tidak pernah kembali.

Daksha dan Asiki merasa sedih bahwa anak-anak mereka harus menghilang dengan cara ini. Daksha menyalahkan Narada atas hal itu dan mengusulkan untuk membunuhnya. Tetapi Brahma campur tangan dan membujuk Daksha untuk mengendalikan amarahnya. Daksha setuju, asalkan kondisinya terpenuhi. Brahma harus menikahi putriku Priya, katanya. Dan Narada harus dilahirkan sebagai putra Priya.

Kondisi ini diterima.

Sebenarnya, Daksha dan Asikli memiliki enam puluh putri (Brahma Purana menyebutkan lima puluh anak putri) Sepuluh putrinya ini menikah dengan dewa Dharma dan tiga belas kepada rsi Kashyapa. Dua puluh tujuh putri menikah dengan Soma atau Chandra. Putrinya yang tersisa menikah dengan rsi Arishtanemi, Wahuputra, Angirasa dan Krishashwa.

Sepuluh putrinya yang menikah dengan dewa Dharma bernama Arundhati, Wasu, Yami, Lamba, Bhanu, Marutwati, Sankalpa, Muhurta, Sadhya dan Wishwa, anak-anak Arundhati adalah objek (Wishaya) dunia. Anak-anak Wasu adalah delapan dewa yang dikenal sebagai para Wasu. Nama mereka adalah Apa, Dhruwa, Soma, Dhara, Salila, Anala, Pratyusha dan Prabhasa. Putra Anala adalah Kumara. Karena Kumara dibesarkan oleh para dewi yang dikenal sebagai para Krittika, ia kemudian disebut Kartikeya. Putra Prabhasa adalah Wishwakarma. Wishwakarma terampil dalam arsitektur dan pembuatan perhiasan. Ia menjadi arsitek para dewa. Anak-anak Sadhya adalah para dewa yang dikenal sebagai Sadhyadewa dan anak-anak Wishwa adalah para dewa yang dikenal sebagai Wishwadewa.

Dua puluh tujuh putri Daksha yang menikah dengan Soma dikenal sebagai nakshatra (bintang).

Seperti yang telah diberitahukan kepada Anda, Kashyapa menikahi tiga belas putri Daksha. Nama mereka adalah Aditi, Diti, Danu, Arishta, Surasa, Khasa, Surabhi, winata, Tamra, Krodhawasha, Ida, Kadru dan Muni.

Putra Aditi adalah dua belas dewa yang dikenal sebagai Aditya. Nama mereka adalah Wisnu, Shakra, Aryama, Dhata, Widhata, Twashta, Pusha, Wiwaswana, Sawita, Mitrawaruna, Amsha dan Bhaga.

Putra-putra Diti adalah para daitya (setan). Mereka dinamai Hiranyaksha dan Hiranyakshipu, dan di antara keturunan mereka ada beberapa daitya kuat lainnya seperti Wali dan Wanasura. Diti juga memiliki seorang putri bernama Simhika yang menikah dengan seorang danawa (iblis) bernama Wiprachitti. Anak-anak mereka adalah iblis-iblis yang mengerikan seperti Watapi, Namuchi, Ilwala, Maricha dan Niwatakawacha.

Seratus putra Danu kemudian dikenal sebagai danawa. Danawa dengan demikian adalah sepupu dari para daitya dan juga bagi para aditya. Di garis danawa lahir setan seperti poulama dan kalakeya.

Putra-putra Arishta adalah para gandharwa (penyanyi surga).

Surasa melahirkan ular (sarpa).

Anak-anak Khasa adalah yaksha (setengah dewa yang merupakan sahabat Kubera, dewa kekayaan) dan para raksha (setan).

Keturunan Surabhi adalah sapi dan kerbau.

winata memiliki dua putra bernama Aruna dan Garuda. Garuda menjadi raja burung.

Tamara memiliki enam anak perempuan. Dari anak-anak perempuan ini lahir burung hantu, elang, burung nasar, burung gagak, unggas air, kuda, unta, dan keledai.

Krodhawasha memiliki empat belas ribu anak yang dikenal sebagai naga (ular).

Ila melahirkan pohon, tanaman merambat, semak dan semak-semak.

Putra-putra Kadru juga dikenal sebagai naga atau ular. Di antara yang lebih penting dari putra-putra Kadru adalah Ananta, wasuki, Takshaka dan Nahusha.

Muni melahirkan bidadari (penari surga).

Anak-anak Diti (daitya) dan anak-anak Aditi (aditya) selalu konflik. Pada satu kesempatan tertentu, para dewa berhasil membunuh banyak setan. Haus untuk membalas dendam, Diti mulai berdoa kepada suaminya, Kashyapa agar dia dapat melahirkan seorang putra yang akan membunuh Indra, raja para dewa.

Kashyapa merasa sulit untuk menolak istrinya secara langsung. “Baiklah, katanya. Anda harus mengandung putra di dalam rahim Anda selama seratus tahun. Dan selama periode ini, Anda harus mengamati berbagai ritual kebersihan. Jika Anda berhasil melakukan ini, putra Anda memang akan membunuh Indra. Tetapi jika Anda tidak mematuhi instruksi ini, keinginan Anda tidak akan terpenuhi.”

Diti memutuskan untuk melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Tetapi Indra mengetahui tentang tekad Diti ini dan sedang menunggu kesempatan untuk menyelamatkan dirinya. Ada suatu kejadian, lelah setelah melakukan ritual. Diti pergi tidur tanpa terlebih dahulu mencuci kakinya . Ini adalah tindakan kotor dan memberi Indra sebuah kesempatan. Indra berubah bentuk sangat kecil dan memasuki rahim Diti. Dengan wajra, senjatanya, dia memotong bayi di dalam rahim Diti  menjadi tujuh bagian. Bayi itu secara alami mulai menangis karena rasa sakit.

Indra terus berkata, “ma ruda”, yaitu, jangan menangis. Tetapi bayi itu, atau lebih tepatnya tujuh bagiannya, tidak mau mendengarkan. Indra kemudian mengiris masing-masing dari tujuh bagian menjadi tujuh bagian lagi, sehingga ada empat puluh sembilan bagian semuanya. Ketika empat puluh sembilan bagian ini lahir, mereka kemudian dikenal sebagai para Marut, yang berasal dari kata-kata pertama Indra kepada mereka. Karena Diti tidak dapat mematuhi persyaratan yang telah ditetapkan suaminya, Marut tidak membunuh Indra. Mereka malah menjadi pengikut atau sahabat Indra, dan diperlakukan sebagai dewa.



Thursday, March 21, 2019

Penciptaan

Purana



Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Di sebuah hutan yang dikenal dengan nama naimisharanya.
Para rsi mengadakan upacara yajna di hutan ini dan upacara itu berlangsung selama 12 tahun. Hutan ini adalah tempat yang menakjubkan untuk melakukan yajna. Iklimnya tenang dan damai. Banyak pohon dengan bunga dan buah yang lebat. Tidak ada kekurangan makanan di hutan ini. Hewan-hewan dan para rsi hidup bahagia di hutan ini.

Banyak rsi menghadiri upacara pengorbanan yang telah diatur di hutan Naimisharanya ini. Yang hadir bersama mereka diantaranya adalah Romaharshana (nama alternatif lainnya adalah Lomaharshana). Beliau adalah murid Vedavyasa. Vedavyasa telah mengajarkan murid-Nya ini pengetahuan tentang Purana. Para rsi menyembah Romaharshana dan berkata, “Tolong beritahu kami cerita tentang Purana. Siapa yang menciptakan alam semesta, siapa yang menjadi pencipta dan siapa yang akan menghancurkannya? Tolong ajarkan kita di semua misteri ini.”

Romaharshana menjawab, “Pada zaman dahulu, Daksha dan para rsi lainnya bertanya kepada Brahma tentang pertanyaan yang kalian tanyakan. Saya juga telah belajar dari guru saya tentang apa yang Brahma ceritakan kepada Daksha tersebut. Saya akan menceritakan kepada kalian apa yang saya tahu.”


Pada mulanya, ada air dimana-mana dan Brahman (suatu bentuk ilahi) tidur di atas air ini dan wujud Wisnu. Karena kata “air” adalah “nara” dan “tempat tidur” adalah “ayana”, maka Wisnu juga dikenal dengan nama Narayana.


Di air munculah sebuah telur emas. Brahma terlahir dari dalam telur ini. Karena beliau menciptakan dirinya sendiri, maka dia dikenal dengan nama Swayambhu. Bhu artinya lahir, Swayambhu artinya oleh dirinya sendiri.


Sepanjang tahun Brahma hidup di dalam telur. Beliau kemudian memecahkan telur menjadi 2 bagian dan menciptakan surga (Swarga)  dan bumi (prithiwi). Langit, arah, waktu, bahasa, dan indera (alat seperti pada tubuh adalah panca indera) diciptakan pada surga dan bumi ini.


Dari kekuatan pikiran beliau, Brahma menciptakan tujuh rsi agung. Nama-nama mereka adalah Marichi, Atri, Angira, Pulastya, Pulaha, Kratu and Vashistha. Brahma juga menciptakan Tuhan Rudra dan rsi Sanathkumara.


Untuk melanjutkan proses penciptaan, Brahma menciptakan seorang pria dan seorang wanita dari tubuhnya. Pria tersebut bernama Swayambhuwa Manu dan sedangkan wanita bernama Shatarupa. Manusia adalah keturunan dari Manu. Itulah mengapa para manusia juga dikenal sebagai Manawa. Manusia dan Shatarupa memiliki 3 anak yang bernama Wira, Priyawarata, dan Uttanapada.


Putra Uttanapada adalah Dhruwa yang agung. Dhruwa melakukan meditasi yang sangat sulit (tapasya) selama 3.000 tahun ilahi. Brahma sangat berkesan dengan hal itu dan menganugerahkan Dhruwa sebuah tempat yang abadi di langit, di dekat konstelasi bintang tujuh rsi (saptarshi), yaitu konstelasi bintang Ursa Mayor, dan Dhruwa adalah bintang kutub.


Dalam garis keturunan Dhruwa ada seorang raja yang bernama Prachinawarhi. Prachinawarhi memiliki 10 putra, yang dikenal sebagai para Pracheta. Para Pracheta inilah yang seharusnya memerintah dunia nantinya, tetapi mereka tidak tertarik masuk ke dalam persoalan duniawi. Mereka lebih senang pergi melakukan tapasya di bawah laut. Tapasya tersebut berlangsung selama 10.000 tahun. Bumi mulai menderita karena tidak ada yang memerintah. Manusia mulai mati dan hutan yang lebat menjalar kemana-mana. Lebatnya hutan sampai angin pun tidak bertiup.

Berita tentang bencana ini akhirnya sampai ke para Pracheta. Mereka sangat murka dengan pohon-pohon hutan yang menjalar kemana-mana tersebut. Mereka menciptakan angin (Wayu) dan api (Agni) dari mulutnya. Angin mengeringkan pohon-pohonan dan kemudian api membakarnya. Dengan begitu, segera dengan cepat, hanya ada sedikit pohon yang hidup di bumi.

Semuanya menjadi panik dengan efek (akibat) dari kemarahan para Pracheta. Dewa Bulan (Soma/Chandra) bersama dengan seorang wanita yang cantik datang ke tempat para Pracheta. “Pracheta, mohon kontrol kemarahan kalian. Kalian membutuhkan seseorang untuk memerintah dunia agar kalian dapat berkonsentrasi pada tapasya kalian. Wanita cantik ini bernama Marisha. Dia adalah putri dari pohon-pohonan. Nikahilah dia dan kalian akan memiliki seorang putra bernama Daksha. Dia akan memerintah dunia.”

Para Pracheta menyetujui usulan tersebut dan Daksha pun lahir. Kata praja berarti subjek (pelaku/orang yang melakukan) dan kata pati berarti master (yang menguasai). Sejak Daksha berkuasa atas dunia dan rakyatnya, Daksha kemudian dikenal sebagai Prajapati.

Para rsi menyela Romaharshana. Mereka berkata, “Rsi, kami benar-benar bingung. Kami pernah mendengar bahwa Daksha lahir dari kaki Brahma. Dan sekarang anda memberitahu kami bahwa Daksha adalah putra para Pracheta. Bagaimana mana ini mungkin terjadi?”


Romaharshana menjawab, “Tidak ada alasan untuk menjadi bingung seperti itu. Banyak Daksha yang telah  dilahirkan untuk memerintah dunia. Satu Daksha lahir dari kaki Brahma, sedangkan Daksha yang lain lahir sebagai putra para Pracheta.”


Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci)

Purana Agni Purana Kitab Suci Agama Hindu Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci) Prahlada memiliki cucu yang sangat kuat bernama Vali. Sa...