Daftar Isi

Tuesday, May 7, 2019

Trishanku

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Dari Dridashwa lahirlah seorang raja yang bernama Trayaruni. Trayaruni adalah seorang raja yang baik dan mengikuti semua ajaran-ajaran dalam kitab suci. Tetapi putra Trayaruni yang bernama Satyawrata memiliki sifat yang bertolak belakang dengan ayahnya dan dia menolak mengikuti jalan kebenaran. Pemimpin agama raja Trayaruni adalah seorang rsi agung yang bernama Washishtha. Washishtha menyarankan raja agar anaknya yang memiliki sifat iblis itu diusir dari kerajaan. Trayaruni mengikuti saran rsi. Sebagai akibatnya Satyawrata mulai tinggal bersama orang-orang buangan (chandala) lainnya di luar kerajaan.

Setelah beberapa waktu berlalu, Trayaruni melepaskan kerajaannya dan pergi ke hutan. Kerajaan tidak memiliki raja dan mulai kea rah anarki. Ketiadaan raja juga menjadi perhatian para dewata dan selama 12 tahun terjadi kemarau yang mengerikan.

Wishwamitra merupakan salah satu rsi agung selain Washishtha. Pada saat kejadian itu terjadi, Wishwamitra sedang tidak berada di kerajaan tersebut. Dia sedang bertapa di tepi pantai, meninggalkan istri dan anaknya yang tinggal di kediaman (ashrama) yang berada di kerajaan tersebut. Karena kemarau yang panjang, penduduk kerajaan mulai kelaparan. Istri Wishwamitra memutuskan untuk menjual putranya untuk mendapatkan makanan. Dia mengikatkan tali ke leher anaknya dan membawanya ke pasar. Disana dia menjualnya dengan menukarkanya dengan 1.000 sapi. Karena tali terikat di lehernya (dalam bahasa Sansekerta disebut "gala"), kemudia dia dikenal sebagai Galawa. 

Satyawrata menemukan apa yang menimpa keluarga Wishwamitra tersebut. Dia kemudian membebaskan Galawa dan merawat istri Wishwamitra beserta anak-anaknya. Satyawrata sangat tidak menyukai Washishtha. Dia menyalahkan Washishtha atas pembuangan dirinya. Pada saat terjadi kelaparan dimana-mana, dia mencuri sapi milik Washishtha. Dia membunuh sapi dan menghidangkannya kepada putra-putra Wishwamitra dan sebagianya untuk dirinya sendiri.

Wishwamitra sangat marah mengetahui kejadian ini. Dia mengutuk Satyawrata.

"Kamu telah melakukan tiga dosa (dosa bahasa Sansekertanya adalah "shanku"). Pertama kamu telah membuat ayahmu marah. Kedua kamu telah mencuri dan membunuh sapi. Ketiga kamu telah makan daging sapi (daging terlarang). Karena itu, kamu akan dikenal sebagai Trishanku dan terkutuk selamanya", kata Washishtha. 

Bagaimanapun juga Satyawrata telah merawat keluarga Wishwamitra dan pada saat sang rsi pulang, Wishwamitra senang dengan dengan apa yang telah Trishanku lakukan dan menawarkannya sebuah anugerah. Trishanku berkeinginan untuk bisa pergi ke surga dengan tubuh fisiknya tersebut. Berkat kekuatan tapasya Wishwamitra, tugas yang kelihatannya tidak mungkin itu menjadi selesai. Trishanku akhirnya menjadi raja di kerajaan milik Trayaruni dan Wishwamitra menjadi kepala rsi agung disana.


Wednesday, April 10, 2019

Kubalashwa

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kubalashwa adalah keturunan dari Kakutstha. Ayah Kubalashwa bernama Wrihadashwa.

Setelah Wrihadashwa memerintah selama beberapa tahun, dia berniat untuk pensiun di hutan. Oleh karena itu dia mempersiapkan untuk menyerahkan kerajaannya kepada Kubalashwa. Melihat ketetapan hati raja Wrihadashwa, seorang rsi bernama Utanka dating menemui raja.

Utanka berkata, “Jangan pergi ke hutan. Kediaman (ashrama) saya di pinggir pantai di kelilingi pasir dari semua arah. Raksasa yang kuat yang bernama Dhundhu tinggal di bawah pasir. Dia sangat kuat, bahkan para dewa pun tidak mampu membunuhnya. Setiap tahun, dia menghembuskan nafas yang menimbulkan badai debu dan pasir yang luar biasa. Dalam seminggu penuh, matahari akan tertutup debu dan aka nada gempa bumi akibat dari pernapasan Dhundhu tersebut. Hal ini mengganggu meditasi (tapasya) saya. Anda jangan pergi ke hutan dulu sebelum melakukan sesuatu terhadap Dhundhu. Hanya anda yang dapat membunuhnya. Saya telah mengumpulkan kekuatan dari tapasya saya dan saya akan memberikannya kepada anda agar anda bisa membunuh Dhundhu.”

Wrihadashwa mengatakan kepada Utanka bahwa tidak perlu Wrihadashwa sendiri yang harus membunuh Dhundhu. Wrihadashwa tetap akan pergi ke hutan seperti yang sudah dia tetapkan. Putranyalah yang bernama Kubalashwa yang akan membantu Utanka untuk membunuh Dhundhu.

Kubalashwa beserta seratus putranya pergi ke pantai dan mulai menggali, berharap dapat menemukan Dhundhu. Dhundhu menyerang putra-putra Kubalashwa tetapi 3 berhasil kabur. Mereka adalah Dridashwa, Chandrashwa, dan Kapilashwa. Tetapi Dhundhu sendiri berhasil membunuh Dhundhu. Karena Kubalashwa berhasil membunuh Dhundhu maka ia juga dikenal dengan nama Dhundhumara. Rsi Utanka memberikan berkat kepada Kubalashwa dan melalui berkat dari rsi, putra-putra Kubalashwa yang telah mati naik ke surga.


Hasil gambar untuk raksasa penguasa pasir

Monday, April 8, 2019

Keturunan Waiswata Manu

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Waiswata Manu tidak memiliki keturunan dan dia mengadakan upacara pengorbanan untuk memiliki seorang putra. Sembilan putra lahir dari upacara pengorbanan tersebut. Nama-nama mereka antara lain Ikshvaku, Nabhaga, Dhrishta, Sharyati, Narishyanta, Pramshu, Rishta, Karusha and Prishadhra. Mani juga memberi persembahan kepada dua dewata yaitu Mitra dan Waruna. Sebagai hasil dari persembahan tersebut, seorang putri terlahir yang bernama Ila.

Buddha adalah anak laki-laki dari dewa Chandra. Buddha menikah dengan Ila dan memiliki seorang putra bernama Pururawa. Selanjutnya, berkat berkah dari dewa Mitra dan Waruna, Ila menjadi seorang pria dan bernama Sudyumna. Putra-putra Sudyumna antara lain Utkala, Gaya and Winatashwa. Utkala memerintah di Orissa, Gaya memerintah di suatu wilayah yang juga bernama Gaya, and Winatashwa memerintah di barat.

Sudyumna tidak cocok memerintah karena dia sebelumnya adalah wanita. Dia tinggal di kota yang dikenal dengan nama Pratishthana. Pururawalah yang mewarisi selanjutnya.


Ketika Waiswata Manu meninggal dunia, kesepuluh putranya membagi-bagikan wilayah di bumi ini di antara mereka masing-masing. Ikshvaku mendapatkan wilayah yang di tengah. Ikshvaku memiliki 100 putra. Nama putra yang tertua nya adalah Wikukshi. Wikukshi kemudian dikenal sebagai Shashada. Demikian ada ceritanya.

Ikshvaku ingin mengadakan upacara pengorbanan. Dia mengirim putranya Wikukshi ke hutan untuk mencari daging untuk persembahan. Pada saat sedang berburu, Wikukshi merasa sangat lapar dan memakan beberapa daging. Hal ini merupakan suatu bentuk penistaan dan rsi Washistha menyuruh Ikshvaku untuk membuang Wikukshi dari kerajaannya. Karena daging yang telah dimakannya adalah daging kelinci (shashaka), Wikukshi kemudian dikenal sebagai Shashada.

Tetapi setelah Ikshvaku meninggal, Wikukshi kembali ke kerajaan ayahnya dan memerintah di sana. Kerajaan inilah yang kita kenal sebagai Ayodhya. Salah satu anak laki-laki Wikukshi adalah Kakutstha, dan Rama yang dalam epos Ramayana yang terkenal lahir dalam garis keturunan ini.


Saturday, April 6, 2019

Surya Dinasti

PURANA



Brahma Purana



Kitab Suci Agama Hindu



Mungkin saat ini kita sudah lupa bahwa Kashyapa dan Aditi memiliki seorang putra yang bernama Wiwaswana. Beliau adalah Dewa Matahari, yang juga dikenal sebagai Surya atau Martanda.


Surya kemudian menikah dengan putri dari Wiswakarma yang bernama Samjna. Mereka kemudian memilki 2 orang putra. Putra yang pertama bernama Waiswata Manu dan putra yang kedua bernama Yama atau Shraddhadewa (Dewa kematian). Yama memilki saudara kembar perempuan bernama Yamuna.


Dikisahkan bahwa energi Dewa Surya (Matahari) sangatlah kuat sampai-sampai Samjna tidak kuat untuk menatap suaminya itu. Dengan kekuatannya, Samjna kemudian menciptakan suatu tiruan dirinya yang sama persis dengan dirinya. Tiruan ini diberi nama Chhaya (yang berarti bayangan).


Samjna berkata kepada Chhaya,”Aku tidak tahan dengan energi suamiku. Aku akan pergi ke rumah ayahku. Tetaplah disini, dan jadilah seperti Samjna yang asli, rawatlah anak-anakku dengan baik. Jangan beritahu siapa pun, termasuk terhadap suamiku, bahwa kamu bukanlah Samjna.”


“Saya akan menjalankan seperti yang anda minta. Tetapi saat ada seseorang yang mengutuk saya atau menjambak rambut saya, saya terpaksa akan memberitahu kebenaran yang sebenarnya,” jawab Chhaya.


Samjna kemudian pergi ke tempat ayahnya, Wiswakarma dan menceritakan semua yang telah ia lakukan. Wiswakarma tetap membujuk Samjna agar kembali kepada suaminya. Tetapi Samjna menolak. Dia malah pergi ke suatu tempat yang dikenal sebagai Uttara Kuru dan mulai tinggal di sana dalam wujudnya sebagai kuda betina.


Sementara, dewa Surya yang tidak menyadari bahwa Samjna telah diganti dengan Chhaya, memiliki 2 orang putra dari Chhaya. Nama mereka adalah Sabarno Mani dan Shani (Saturnus). Sejak anaknya tersebut lahir, Chhaya tidak lagi terlihat terlalu sayang kepada anak-anak Samjna, seperti yang telah diminta. Waiswata Manu adalah orang yang pendiam dan dia mengabaikan semua yang terjadi. Tetapi Yama tidaklah seperti Waiswata Manu yang pendiam. Dia tidak memili toleransi, disamping juga karena usianya yang masih muda. Yama mengangkat kakinya dan menendang Chhaya. Karena hal itu, Chhaya mengutuk Yama bahwa kakinya akan jatuh.


Yama kemudian pergi mengadu kepada dewa Surya, “Saya sebenarnya tidak benar-benar menendangnya. Saya hanya mengancam. Dan apakah ada seorang ibu yang pernah mengutuk anaknya sendiri?”


“Saya tidak dapat membatalkan kutukan. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengurangi efeknya. Kakimu tidak akan benar-benar terjatuh. Sebagian daging dari kakimu akan jatuh ke bumi dan menjadi cacing. Dengan begitu, kamu akan terbebas dari kutukanmu,” jawab dewa Surya.


Namu demikian, dewa Surya merasa bahwa perkataan Yama ada benarnya juga bahwa tidak ada ibu yang mengutuk anaknya sendiri. Dia memaksa Chhaya untuk mengungkapkan kebenaran, tetapi Chhaya tidak mau. Dewa Surya kemudian menjambak rambut Chhaya dan mengancam akan mengutuknya. Karena kondisi persyaratannya telah dilanggar, maka Chhaya keceplosan mengungkap kebenaran yang sebenarnya.


Dalam perasaan yang sangat marah, dewa Surya pergi ke kediaman Wiswakarma. Wiswakarma berusaha menenangkan dewa Surya, “Sebab utama kejadian itu adalah kelebihan energi yang dimiliki oleh anda, dewa Surya. Jika anda mengizinkan, saya akan memotong-motong kelebihan energi anda. Sehingga Samjna akan dapat melihat anda lagi.”


Dewa Surya setuju. Melalui energi dewa Surya yang telah terpotong ini, Wiswakarma menciptakan chakra Wisnu (sebuah senjata seperti cakram berbilang).


Dewa Surya menemukan Samjna berada di Uttara Kuru dalam wujud kuda betina. Dewa Surya juga berubah wujud menjadi kuda dan menemui Samjna. Dalam wujudnya sebagai kuda, mereka memilki 2 orang putra yang dikenal sebagai dewa Aswin (dewa penyembuh).


Surya dan Samjna kemudian melepaskan wujud kudanya dan hidup bahagia selamanya.



Friday, March 29, 2019

Manwantara

Purana



Brahma Purana



Kitab Suci Agama Hindu


Manwantara adalah sebuah era. Ada 4 zaman yang lebih kecil yang disebut dengan yuga. 4 yuga tersebut antara lain satya atau krita yuga, treta yuga, dwapara yuga dan kali yuga. Setiap siklus satya yuga, treta yuga, dwapara yuga dan kali yuga disebut mahayuga. Mahayuga terdiri dari 12.000 tahun para dewa, atau setara dengan 4.320.000 tahun bagi manusia. 71 mahayuga merupakan 1 manwantara dan 14 manwantara merupakan 1 siklus (kalpa). 1 kalpa adalah 1 hari Brahma dan alam semesta dihancurkan pada akhir sebuah kalpa.

Setiap manwantara dikuasai oleh seorang Manu. Dalam kalpa ini, 6 manwantara telah berlalu dan nama-nama enam Manu yang memerintah adalah Swayambhuwa, Swarochisha, Uttama, Tamasa, Raiwata, dan Chakshusha. Nama Manu ketujuh, yang memerintah atas manwantara ketujuh dari kalpa yang sekarang, adalah Vaiwaswata.

7 rsi agung (saptarshi) serta gelar Indra berubah-ubah dari manwantara yang satu ke manwantara yang lain. Para dewa juga berubah.

Dalam manwantara saat ini, 7 rsi agung adalah Atri, Washishtha, Kashyapa, Goutama, Bharadwaja, Wishwamitra dan Jamadagni. Dewa-dewa sekarang adalah para sadha, rudra, wishwadewa, wasu, marut, aditya, dan dua ashwini.

Akan ada tujuh manu di masa depan sebelum alam semesta dihancurkan. Lima dari Manu tersebut akan dikenal sebagai Sawarni Manu. Dua yang tersisa akan disebut Bhoutya dan Rouchya


Tuesday, March 26, 2019

Kisah tentang Prithu

Purana



Brahma Purana



Kitab Suci Agama Hindu


Dalam garis Dhruwa ada seorang raja bernama Anga. Anga adalah seseorang yang religius dan mengikuti jalan kebenaran. Namun sayangnya, putranya yang bernama Wena, tidak mewarisi sifat baik ayahnya. Ibu Wena adalah Sunitha dan dia adalah putri Mrityu. Mrityu sangat terkenal karena perbuatan jahatnya. Wena menghabiskan banyak waktu bersama Mrityu (kakeknya dari pihak ibu) dan menjadi pewaris karakteristik jahat Mrityu .

Wena tidak menghiraukan ajaran agama yang ada di dalam Weda dan menghentikan semua yajna. Dia menginstruksikan rakyatnya bahwa dialah sendiri yang harus disembah.

Para rsi yang dipimpin oleh Marichi datang ke Wena untuk mencoba dan membujuknya untuk memperbaiki jalannya. Tapi Wena tidak mendengarkan. Dia bersikeras bahwa tidak ada seorang pun yang setara dengannya di seluruh alam semesta.

Orang bijak menyadari bahwa Wena adalah hal yang salah dan harus dilenyapkan. Mereka secara fisik menangkap Wena dan mulai menguleni paha kanannya. Dari pengulenan ini, muncul makhluk yang tampak mengerikan. Itu adalah orang cebol dan kulitnya sangat gelap. Rsi Arti begitu kaget pada penampilan kurcaci itu sehingga dia berseru, “nishida”, yang berarti “duduk”. Dari sini kurcaci itu kemudian dikenal sebagai nishada. Ras nishada menjadi pemburu dan nelayan, dan tinggal di pegunungan Windhya. Dari mereka juga turun ras tidak beradab seperti tushara dan tundura.

Kejahatan yang ada di tubuh dan pikiran Wena keluar dengan munculnya nishada.

Ketika orang bijak mulai menguleni lengan kanan Wena, Prithu muncul. Dia bersinar seperti api yang menyala dan energinya menyebar ke empat arah. Dia memegang busur di tangannya dan dia mengenakan baju besi yang indah. Segera setelah Prithu lahir, Wena meninggal.

Semua sungai dan samudra tiba dengan air dan perhiasan mereka untuk mengurapi Prithu sebagai raja. Para dewa dan orang bijak juga datang untuk penobatan. Brahma sendiri memahkotai Prithu, sebagai raja bumi. Dia juga mengambil kesempatan untuk menobatkan dewa lainya sebagai bagian lain dari alam semesta. Soma yang diangkat menjadi penguasa atas tumbuhan rambat, tumbuhan obat, bintang (nakshatra), planet (graha), meditasi (tapasya) dan atas kelas pertama dari empat kelas (brahmana). Waruna menjadi penguasa lautan, Kubera menjadi penguasa semua raja, Wisnu menjadi penguasa para aditya, Agni menjadi penguasa para wasu, Daksha menjadi penguasa para Prajapati, Indra menjadi penguasa para Marut, Prahlada menjadi penguasa daitya dan danawa, Yama menjadi penguasa para pritra (leluhur), Siwa menjadi penguasa para yaksha, rakshasa dan pishacha (hantu), dan Himalaya menjadi penguasa dari pegunungan.

Lautan (samudra) dijadikan penguasa semua sungai. Chitraratha menjadi penguasa dari para gandharwa, Wasuki menjadi penguasa dari para naga, Takshaka menjadi penguasa dari sarpa (ular), Garuda menjadi penguasa dari para burung, harimau menjadi penguasa dari para rusa, Airawata menjadi penguasa dari para gajah, Ucchaihshrawa menjadi penguasa dari para kuda, banteng menjadi penguasa dari para sapi dan pohon ashwattha (beringin) menjadi penguasa dari semua pohon. Brahma juga menunjuk empat penguasa arah. Di sebelah timur ada Sudhanwa, di sebelah selatan Shankhapada, di sebelah barat Ketumana dan di sebelah utara Hiranyaroma.

Prithu adalah raja yang memerintah bumi dengan baik. Selama pemerintahannya, bumi penuh dengan biji-bijian. Sapi-sapi penuh susu dan semuanya senang. Untuk memuliakan Raja Prithu, para rsi melakukan pengorbanan dan dari pengorbanan ini muncul dua ras yang dikenal sebagai suta dan magadha. Orang bijak memutuskan bahwa untuk selanjutnya, kedua ras ini akan diberi tugas menyanyikan pujian untuk menghormati raja-raja besar dan tokoh suci. Tetapi pertama-tama, mereka menginginkan agar suta dan magadha menyanyikan pujian untuk menghormati Prithu.

“Tetapi pujian apa yang akan kita nyanyikan?”, tanya suta dan magadha. Prithu masih muda. Dia belum melakukan banyak hal yang bisa dipuji.

“Itu memang benar. Tapi dia akan melakukan perbuatan luar biasa di masa depan. Nyanyikan pujian untuk perbuatan indah itu. Kami akan memberi tahu kalian tentang hal itu”, jawab para rsi.

Setelah mengetahui tindakan-tindakan masa depan dari para resi ini, para suta dan para magadha mulai mengarang lagu dan melantunkan pujian untuk menghormati Prithu. Kisah-kisah ini terkenal di seluruh bumi. Beberapa orang mendengar cerita ini dan datang untuk melihat Prithu. “Raja. Kami telah mendengar tentang perbuatanmu yang agung. Tapi kami kesulitan mencari nafkah. Tolong tunjukkan kepada kami tempat tinggal kami di bumi. Dan beri tahu kami di mana kami bisa mendapatkan makanan yang kami butuhkan untuk bertahan hidup”, kata mereka.

Raja Prithu mengambil busur dan anak panahnya. Dia memutuskan untuk membunuh bumi, karena bumi tidak menghasilkan makanan bagi rakyatnya. Bumi berubah wujud menjadi bentuk seekor sapi dan mulai melarikan diri. Tapi ke mana pun bumi pergi, Prithu mengikuti dengan busur dan panahnya. Dia mengikuti bumi ke surga dan ke dunia bawah.

Akhirnya, dengan putus asa, bumi mulai berdoa ke Prithu. “Raja, katanya, tolong kendalikan amarahmu. Saya wanita. Membunuhku hanya akan berarti dosa bagimu. Selain itu, apa tujuan anda membunuh saya? Tanpa saya ada, Anda akan tanpa tempat tinggal. Pasti ada cara lain rakyat Anda dapat menghasilkan hidup."

Bumi sendiri kemudian menawarkan solusi dan Raja Prithu. Dengan busurnya, dia meratakan bumi. Dataran sekarang dapat digunakan untuk desa dan kota dan untuk pertanian dan peternakan. Mereka dikumpulkan bersama di tempat-tempat tertentu, alih-alih sebelumnya mengotori seluruh bumi. Sebelumnya, subyek Prithu telah hidup dari buah dan akar. Sekarang Prithu memerah susu bumi (dalam bentuk seekor sapi) dan memperoleh biji-bijian, biji-bijian tempat orang bisa hidup. Karena berkat anugerah dari Prithu, bumi kemudian dikenal sebagai Prithiwi.


Sunday, March 24, 2019

Keturunan Daksha

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Istri Daksha bernama Asikli dan Asikli melahirkan lima ribu putra. Mereka dikenal sebagai para Haryashwa. Para Haryashwa ditakdirkan untuk memerintah dunia. Tetapi rsi Narada pergi ke tempat para Haryashwa dan berkata, “Bagaimana Anda bisa memerintah dunia jika Anda bahkan tidak tahu seperti apa dunia ini? Apakah Anda terbiasa dengan geografi dan batasannya? Pertama cari tahu tentang hal-hal ini, sebelum Anda mempertimbangkan untuk memerintah dunia.”

Para Haryashwa pergi menjelajahi dunia dan tidak pernah kembali.

Daksha dan Asikli kemudian memiliki seribu putra lagi yang diberi nama para Shawalashwa. Narada memberi tahu mereka apa yang dia katakan kepada para Haryashwa dan para Shawalashwa juga pergi untuk menjelajahi dunia dan tidak pernah kembali.

Daksha dan Asiki merasa sedih bahwa anak-anak mereka harus menghilang dengan cara ini. Daksha menyalahkan Narada atas hal itu dan mengusulkan untuk membunuhnya. Tetapi Brahma campur tangan dan membujuk Daksha untuk mengendalikan amarahnya. Daksha setuju, asalkan kondisinya terpenuhi. Brahma harus menikahi putriku Priya, katanya. Dan Narada harus dilahirkan sebagai putra Priya.

Kondisi ini diterima.

Sebenarnya, Daksha dan Asikli memiliki enam puluh putri (Brahma Purana menyebutkan lima puluh anak putri) Sepuluh putrinya ini menikah dengan dewa Dharma dan tiga belas kepada rsi Kashyapa. Dua puluh tujuh putri menikah dengan Soma atau Chandra. Putrinya yang tersisa menikah dengan rsi Arishtanemi, Wahuputra, Angirasa dan Krishashwa.

Sepuluh putrinya yang menikah dengan dewa Dharma bernama Arundhati, Wasu, Yami, Lamba, Bhanu, Marutwati, Sankalpa, Muhurta, Sadhya dan Wishwa, anak-anak Arundhati adalah objek (Wishaya) dunia. Anak-anak Wasu adalah delapan dewa yang dikenal sebagai para Wasu. Nama mereka adalah Apa, Dhruwa, Soma, Dhara, Salila, Anala, Pratyusha dan Prabhasa. Putra Anala adalah Kumara. Karena Kumara dibesarkan oleh para dewi yang dikenal sebagai para Krittika, ia kemudian disebut Kartikeya. Putra Prabhasa adalah Wishwakarma. Wishwakarma terampil dalam arsitektur dan pembuatan perhiasan. Ia menjadi arsitek para dewa. Anak-anak Sadhya adalah para dewa yang dikenal sebagai Sadhyadewa dan anak-anak Wishwa adalah para dewa yang dikenal sebagai Wishwadewa.

Dua puluh tujuh putri Daksha yang menikah dengan Soma dikenal sebagai nakshatra (bintang).

Seperti yang telah diberitahukan kepada Anda, Kashyapa menikahi tiga belas putri Daksha. Nama mereka adalah Aditi, Diti, Danu, Arishta, Surasa, Khasa, Surabhi, winata, Tamra, Krodhawasha, Ida, Kadru dan Muni.

Putra Aditi adalah dua belas dewa yang dikenal sebagai Aditya. Nama mereka adalah Wisnu, Shakra, Aryama, Dhata, Widhata, Twashta, Pusha, Wiwaswana, Sawita, Mitrawaruna, Amsha dan Bhaga.

Putra-putra Diti adalah para daitya (setan). Mereka dinamai Hiranyaksha dan Hiranyakshipu, dan di antara keturunan mereka ada beberapa daitya kuat lainnya seperti Wali dan Wanasura. Diti juga memiliki seorang putri bernama Simhika yang menikah dengan seorang danawa (iblis) bernama Wiprachitti. Anak-anak mereka adalah iblis-iblis yang mengerikan seperti Watapi, Namuchi, Ilwala, Maricha dan Niwatakawacha.

Seratus putra Danu kemudian dikenal sebagai danawa. Danawa dengan demikian adalah sepupu dari para daitya dan juga bagi para aditya. Di garis danawa lahir setan seperti poulama dan kalakeya.

Putra-putra Arishta adalah para gandharwa (penyanyi surga).

Surasa melahirkan ular (sarpa).

Anak-anak Khasa adalah yaksha (setengah dewa yang merupakan sahabat Kubera, dewa kekayaan) dan para raksha (setan).

Keturunan Surabhi adalah sapi dan kerbau.

winata memiliki dua putra bernama Aruna dan Garuda. Garuda menjadi raja burung.

Tamara memiliki enam anak perempuan. Dari anak-anak perempuan ini lahir burung hantu, elang, burung nasar, burung gagak, unggas air, kuda, unta, dan keledai.

Krodhawasha memiliki empat belas ribu anak yang dikenal sebagai naga (ular).

Ila melahirkan pohon, tanaman merambat, semak dan semak-semak.

Putra-putra Kadru juga dikenal sebagai naga atau ular. Di antara yang lebih penting dari putra-putra Kadru adalah Ananta, wasuki, Takshaka dan Nahusha.

Muni melahirkan bidadari (penari surga).

Anak-anak Diti (daitya) dan anak-anak Aditi (aditya) selalu konflik. Pada satu kesempatan tertentu, para dewa berhasil membunuh banyak setan. Haus untuk membalas dendam, Diti mulai berdoa kepada suaminya, Kashyapa agar dia dapat melahirkan seorang putra yang akan membunuh Indra, raja para dewa.

Kashyapa merasa sulit untuk menolak istrinya secara langsung. “Baiklah, katanya. Anda harus mengandung putra di dalam rahim Anda selama seratus tahun. Dan selama periode ini, Anda harus mengamati berbagai ritual kebersihan. Jika Anda berhasil melakukan ini, putra Anda memang akan membunuh Indra. Tetapi jika Anda tidak mematuhi instruksi ini, keinginan Anda tidak akan terpenuhi.”

Diti memutuskan untuk melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Tetapi Indra mengetahui tentang tekad Diti ini dan sedang menunggu kesempatan untuk menyelamatkan dirinya. Ada suatu kejadian, lelah setelah melakukan ritual. Diti pergi tidur tanpa terlebih dahulu mencuci kakinya . Ini adalah tindakan kotor dan memberi Indra sebuah kesempatan. Indra berubah bentuk sangat kecil dan memasuki rahim Diti. Dengan wajra, senjatanya, dia memotong bayi di dalam rahim Diti  menjadi tujuh bagian. Bayi itu secara alami mulai menangis karena rasa sakit.

Indra terus berkata, “ma ruda”, yaitu, jangan menangis. Tetapi bayi itu, atau lebih tepatnya tujuh bagiannya, tidak mau mendengarkan. Indra kemudian mengiris masing-masing dari tujuh bagian menjadi tujuh bagian lagi, sehingga ada empat puluh sembilan bagian semuanya. Ketika empat puluh sembilan bagian ini lahir, mereka kemudian dikenal sebagai para Marut, yang berasal dari kata-kata pertama Indra kepada mereka. Karena Diti tidak dapat mematuhi persyaratan yang telah ditetapkan suaminya, Marut tidak membunuh Indra. Mereka malah menjadi pengikut atau sahabat Indra, dan diperlakukan sebagai dewa.



Thursday, March 21, 2019

Penciptaan

Purana



Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Di sebuah hutan yang dikenal dengan nama naimisharanya.
Para rsi mengadakan upacara yajna di hutan ini dan upacara itu berlangsung selama 12 tahun. Hutan ini adalah tempat yang menakjubkan untuk melakukan yajna. Iklimnya tenang dan damai. Banyak pohon dengan bunga dan buah yang lebat. Tidak ada kekurangan makanan di hutan ini. Hewan-hewan dan para rsi hidup bahagia di hutan ini.

Banyak rsi menghadiri upacara pengorbanan yang telah diatur di hutan Naimisharanya ini. Yang hadir bersama mereka diantaranya adalah Romaharshana (nama alternatif lainnya adalah Lomaharshana). Beliau adalah murid Vedavyasa. Vedavyasa telah mengajarkan murid-Nya ini pengetahuan tentang Purana. Para rsi menyembah Romaharshana dan berkata, “Tolong beritahu kami cerita tentang Purana. Siapa yang menciptakan alam semesta, siapa yang menjadi pencipta dan siapa yang akan menghancurkannya? Tolong ajarkan kita di semua misteri ini.”

Romaharshana menjawab, “Pada zaman dahulu, Daksha dan para rsi lainnya bertanya kepada Brahma tentang pertanyaan yang kalian tanyakan. Saya juga telah belajar dari guru saya tentang apa yang Brahma ceritakan kepada Daksha tersebut. Saya akan menceritakan kepada kalian apa yang saya tahu.”


Pada mulanya, ada air dimana-mana dan Brahman (suatu bentuk ilahi) tidur di atas air ini dan wujud Wisnu. Karena kata “air” adalah “nara” dan “tempat tidur” adalah “ayana”, maka Wisnu juga dikenal dengan nama Narayana.


Di air munculah sebuah telur emas. Brahma terlahir dari dalam telur ini. Karena beliau menciptakan dirinya sendiri, maka dia dikenal dengan nama Swayambhu. Bhu artinya lahir, Swayambhu artinya oleh dirinya sendiri.


Sepanjang tahun Brahma hidup di dalam telur. Beliau kemudian memecahkan telur menjadi 2 bagian dan menciptakan surga (Swarga)  dan bumi (prithiwi). Langit, arah, waktu, bahasa, dan indera (alat seperti pada tubuh adalah panca indera) diciptakan pada surga dan bumi ini.


Dari kekuatan pikiran beliau, Brahma menciptakan tujuh rsi agung. Nama-nama mereka adalah Marichi, Atri, Angira, Pulastya, Pulaha, Kratu and Vashistha. Brahma juga menciptakan Tuhan Rudra dan rsi Sanathkumara.


Untuk melanjutkan proses penciptaan, Brahma menciptakan seorang pria dan seorang wanita dari tubuhnya. Pria tersebut bernama Swayambhuwa Manu dan sedangkan wanita bernama Shatarupa. Manusia adalah keturunan dari Manu. Itulah mengapa para manusia juga dikenal sebagai Manawa. Manusia dan Shatarupa memiliki 3 anak yang bernama Wira, Priyawarata, dan Uttanapada.


Putra Uttanapada adalah Dhruwa yang agung. Dhruwa melakukan meditasi yang sangat sulit (tapasya) selama 3.000 tahun ilahi. Brahma sangat berkesan dengan hal itu dan menganugerahkan Dhruwa sebuah tempat yang abadi di langit, di dekat konstelasi bintang tujuh rsi (saptarshi), yaitu konstelasi bintang Ursa Mayor, dan Dhruwa adalah bintang kutub.


Dalam garis keturunan Dhruwa ada seorang raja yang bernama Prachinawarhi. Prachinawarhi memiliki 10 putra, yang dikenal sebagai para Pracheta. Para Pracheta inilah yang seharusnya memerintah dunia nantinya, tetapi mereka tidak tertarik masuk ke dalam persoalan duniawi. Mereka lebih senang pergi melakukan tapasya di bawah laut. Tapasya tersebut berlangsung selama 10.000 tahun. Bumi mulai menderita karena tidak ada yang memerintah. Manusia mulai mati dan hutan yang lebat menjalar kemana-mana. Lebatnya hutan sampai angin pun tidak bertiup.

Berita tentang bencana ini akhirnya sampai ke para Pracheta. Mereka sangat murka dengan pohon-pohon hutan yang menjalar kemana-mana tersebut. Mereka menciptakan angin (Wayu) dan api (Agni) dari mulutnya. Angin mengeringkan pohon-pohonan dan kemudian api membakarnya. Dengan begitu, segera dengan cepat, hanya ada sedikit pohon yang hidup di bumi.

Semuanya menjadi panik dengan efek (akibat) dari kemarahan para Pracheta. Dewa Bulan (Soma/Chandra) bersama dengan seorang wanita yang cantik datang ke tempat para Pracheta. “Pracheta, mohon kontrol kemarahan kalian. Kalian membutuhkan seseorang untuk memerintah dunia agar kalian dapat berkonsentrasi pada tapasya kalian. Wanita cantik ini bernama Marisha. Dia adalah putri dari pohon-pohonan. Nikahilah dia dan kalian akan memiliki seorang putra bernama Daksha. Dia akan memerintah dunia.”

Para Pracheta menyetujui usulan tersebut dan Daksha pun lahir. Kata praja berarti subjek (pelaku/orang yang melakukan) dan kata pati berarti master (yang menguasai). Sejak Daksha berkuasa atas dunia dan rakyatnya, Daksha kemudian dikenal sebagai Prajapati.

Para rsi menyela Romaharshana. Mereka berkata, “Rsi, kami benar-benar bingung. Kami pernah mendengar bahwa Daksha lahir dari kaki Brahma. Dan sekarang anda memberitahu kami bahwa Daksha adalah putra para Pracheta. Bagaimana mana ini mungkin terjadi?”


Romaharshana menjawab, “Tidak ada alasan untuk menjadi bingung seperti itu. Banyak Daksha yang telah  dilahirkan untuk memerintah dunia. Satu Daksha lahir dari kaki Brahma, sedangkan Daksha yang lain lahir sebagai putra para Pracheta.”


Thursday, January 31, 2019

Bagaimana Purana Diturunkan

WISNU PURANA


Bagaimana Purana Diturunkan


Pada akhirnya, Wisnu Purana menceritakan bagaimana Purana ada untuk diturunkan kepada kita melalui generasi ke generasi.

Purana memberitahu orang-orang tentang cara untuk mencapai moksha (keselamatan). Beberapa waktu yang lalu, Brahma sendiri telah memberi tahu resi Ribhu kisah Purana. Dari Ribhu, pengetahuan tersebut diturunkan ke Priyawrata dan dari Priyawrata ke Bhaguri. Bhaguri memberikan pengetahuan kepada Stawamitra dan dari Stawamitra kepada Dadhichi. Dari Dadhichi ia berpindah ke Saraswata, dari Saraswata ke Bhrigu, dari Bhrigu ke Purukutsa, dari Purukutsa ke Narmada, dari Narmada ke Dhritarashtra dan Purana. Dhritarsashtra dan Purana memberikan pengetahuan tersebut kepada Wasuki, Wasuki ke Watsa dan Watsa ke Ashwatara. Ashwatara meneruskannya ke Kambala dan Kambala ke Elapatra.

Wedashira memperoleh pengetahuan tentang Purana dari dunia bawah dan memberikannya kepada Pramati, Pramati memberikannya kepada Jatukarna dan Jatukarna meneruskannya ke banyak orang bijak (rsi).

Parashara telah belajar tentang Purana dari Washishtha dan dia sekarang telah menyampaikan pengetahuan itu kepada Maitreya. Maitreya akhirnya akan mengajarkannya kepada Shamika.


Tuesday, January 29, 2019

Keshidhwaja dan Khandikya

WISNU PURANA


Keshidhwaja dan Khandikya


Pada zaman dahulu ada seorang raja bernama Dharmadhwaja. Dia memiliki dua putra, Mitadhwaja dan Kritadhwaja. Kritadhwaja sangat tertarik untuk memperoleh pengetahuan dan putranya Keshidhwaja juga tertarik untuk memperoleh pengetahuan spiritual. Putra Mitadhwaja, Khandikya adalah seorang raja, yang tertarik pada karma yoga, yaitu penyatuan dengan Tuhan melalui tindakan.

Baik Khandikya dan Keshidhwaja berusaha saling bersaing. Khandikya akhirnya kehilangan kerajaannya karena Keshidhwaja dan pergi ke hutan bersama para pendeta dan pengikutnya. Meskipun ia menjadi raja, Keshidhwaja tetap biasa melakukan yajna. Suatu ketika sapi yang dimaksudkan untuk yajna dimakan oleh seekor harimau. Ini adalah suatu dosa dan Keshidhwaja harus menebusnya. Dia bertanya kepada beberapa orang bijak seperti apa bentuk penebusan dosa (prayashchiita) yang seharusnya dilakukan, tetapi tidak ada rsi yang tahu apa yang harus dilakukan. Mereka semua mengatakan bahwa orang yang tepat untuk ditanyakan adalah Khandikya, yang sekarang tinggal di hutan.

Keshidhawaja mengenakan kulit rusa dan pergi menemui Khandikya. Berpikir bahwa Keshidhwaja mungkin datang untuk membunuhnya, Khandikya mengambil busur dan panahnya. Tetapi Keshidhwaja mengatakan kepadanya bahwa ia datang hanya untuk mengajukan pertanyaan kepada Khandikya. Khandikya memberitahunya apa penebusan dosa yang tepat dan Keshidhwaja berhasil menyelesaikan yajna.

Tetapi kemudian dia menyadari bahwa dia tidak memberi Khandikya dakshina atau bayaran yang disebabkan oleh seorang guru. Sebagai dakshina, Khandikya menginginkan agar Keshidhwaja mengajarinya di jalan menuju pengetahuan spiritual.

Keshidhwaja memberi tahu Khandikya tentang sifat sebenarnya dari atman, yang berbeda dari tubuh fisik belaka. Pengetahuan yang sebenarnya adalah yang mengajarkan bahwa atman adalah bagian dari paramatman dan karena itu seseorang tidak boleh terikat pada harta benda. Kesadaran ini muncul melalui latihan atau yoga.



Saturday, January 26, 2019

Pralaya

WISNU PURANA



Pralaya


Ada 3 jenis pralaya atau kehancuran, yang pertama adalah brahma atau naimittika. Naimittika pralaya terjadi setelah 1 kalpa, yaitu setelah 1 hari Brahma berlalu dan setelah 14 Manu berlalu. Sebelum pralaya ini terjadi, bumi menjadi lemah dan tidak ada hujan selama 100 tahun. Wisnu mengadopsi bentuk Rudra dan meminum semua air yang ada di sungai, lautan dan pegunungan. Tujuh sinar matahari menampakkan diri sebagai tujuh matahari yang berbeda. Matahari ini membakar tiga dunia. Tidak hanya bhurloka yang terbakar, tetapi bhuwarloka dan swarloka juga hancur. Ada awan gelap dan tebal di mana-mana. Selama 100 tahun terus hujan. Semuanya gelap. Selama seratus tahun angin bertiup. Dan Wisnu tidur di air yang ada di mana-mana sampai dunia diciptakan kembali.

Jenis kehancuran kedua dikenal sebagai prakrita pralaya. Tiga guna dasar (Tri Guna) yaitu sattvam, rajas, dan tamas. Keseimbangan sempurna mereka dikenal sebagai Prakriti. Pada saat kehancuran, Prakriti menjadi berasimilasi dengan Paramaatman, sehingga dikenal sebagai Prakrita Pralaya.

Jenis ketiga pralaya dikenal sebagai atyatika pralya. Ini mengacu pada musnahnya tiga jenis kesusahan yaitu adhyatmika, adhidaiwika dan adhibhoutika. Kesusahan Adhyatmika terdiri dari penyakit fisik dan mental seperti demam dan kesedihan. Kesusahan Adhidaiwika adalah kesusahan karena unsur-unsur, seperti dingin dan panas. kesusahan Adhibhoutika adalah kesusahan yang dihadapi manusia karena makhluk hidup lain, seperti hantu dan ular.




Thursday, January 24, 2019

Kali Yuga

WISNU PURANA


Kali Yuga


Maitreya ingin tahu lebih banyak tentang era kali.

Di zaman Kali, norma-norma warna dan ashrama tidak akan diikuti seperti yang ditetapkan dalam Weda. Tidak ada yang akan berdoa kepada para dewa. Hubungan antara guru dan shishya akan berhenti. Mungkin benar. Wanita akan selalu merawat rambut mereka. Kekayaan akan berarti segalanya. Alih-alih menghabiskan uang untuk Dharma, orang akan menghabiskan uang untuk membangun rumah. Uang akan dihabiskan untuk diri sendiri dan bukan untuk tamu. Pria akan menjadi egois. Uang akan diperoleh melalui cara jahat. Akan ada kekeringan.

Pria tidak akan mandi sebelum makan. Baik pria maupun wanita akan menjadi lebih pendek. Wanita tidak akan mematuhi suami mereka. Raja-raja tidak akan mengurus subyek, tetapi hanya akan mengenakan pajak. Orang akan menjadi tua ketika mereka mencapai usia dua belas dan tidak ada yang akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Kejahatan akan berkembang. Tidak ada yang akan menyembah Wisnu. Semua kelas akan menjadi seperti shudra.

Hanya ada satu hal baik tentang kali yuga. Di satya yuga kita harus melakukan banyak tapasya untuk mendapatkan beberapa. Dalam kali yuga, punya yang sama dapat diperoleh melalui tapasya kecil. Persamaannya seperti ini. Sepuluh tahun tapasya di satya yuga sama dengan satu tahun tapasya di treta yuga, satu bulan tapasya di dwapara yuga dan satu hari tapasya di kali yuga.

Wyasadewa mengatakan bahwa shudra dan wanita adalah yang paling beruntung. Warna-warna yang lain harus melakukan banyak hal untuk masuk agar dharma diikuti. Tetapi untuk para shudra, jalur dharma sederhana. Mereka hanya harus melayani warna lain untuk memperoleh punya. Demikian pula pria harus melakukan banyak hal untuk mencapai punya. Bagi wanita, pencapaian punya itu mudah; mereka hanya harus melayani suami mereka.



Monday, January 21, 2019

Akhir dari kaum Yadawa

WISNU PURANA


Akhir dari kaum Yadawa


Ada tempat suci yang dikenal sebagai Pindaraka. Beberapa pemuda Yadawa pernah bertemu dengan rsi Kanwa, Wishwamitra dan Narada di sana. Para pemuda Yadawa mendandani Shamba sebagai seorang wanita dan membawanya kehadapan para rsi. "Oh rsi yang agung, beri tahu kami apakah wanita ini akan memiliki anak laki-laki atau anak perempuan?" tanya mereka.

Para rsi melihat itu sebagai sebuah olokan dan mereka sangat marah pada penghinaan itu dan berkata, "Orang ini akan melahirkan sebuah gada. Dan gada itu akan menghancurkan semua kaum mu."

Pada waktunya tiba, sebuah gada keluar dari tubuh Shamba. Tetapi karena mengetahui kutukan itu, Raja Ugrasena menghancurleburkan gada itu dan debu dari gada yang sudah dihancurleburkan itu dibuang di lautan. Tapi debu itu kembali ke daratan dan berubah menjadi alang-alang tajam yang tumbuh di tepi laut.

Sebagian kecil dari gada itu ada yang tidak bisa dihancurkan. Bagian kecil itu juga dilempar ke lautan, dan seekor ikan menelannya. Ketika ikan itu ditangkap, bagian gada itu keluar dari perut ikan dan seorang pemburu bernama Jara memperoleh bagian itu.

Suatu hari para Yadawa pergi ke suatu tempat suci bernama Prabhasa. Haya satu orang Yadawa bernama Uddhawa pergi untuk melakukan tapasya di Gunung Gandhamadana. Di Prabhasa, para Yadawa mulai minum-minuman keras sampai mabuk dan segera mereka kehilangan semua indera dan akal sehat mereka. Mereka mulai berkelahi dan mengambil rumput tajam yang tumbuh di tepi pantai sebagai senjata. Krishna sudah mencoba untuk menahan mereka, tetapi para Yadawa tidak berminat untuk mendengarkan. Krishna dan Daruka adalah satu-satunya Yadawa yang dibiarkan hidup.

Krishna dan Daruka berkeliling mencari Balarama dan menemukan Balarama duduk di bawah pohon. Seekor ular besar keluar dari mulut Balarama dan menghilang ke laut. Ini berarti Balarama telah meninggal.

Krishna mengatakan kepada Daruka, “Pergilah dan beri tahu Raja Ugrasena tentang semua ini. Saya juga akan segera mati. Dan setelah itu laut akan menelan kota Dwaraka. Pergi dan beri tahu Yadawa yang lain untuk meninggalkan Dwaraka. Tapi sebelumnya mereka harus menunggu kedatangan Arjuna dan mereka harus meninggalkan kota bersama dengan Arjuna. Pergi dan beri tahu Arjuna untuk melindungi rakyatku sebaik mungkin. Wajra akan menjadi raja para Yadawa. "

Daruka memberi hormat kepada Krishna dan pergi.

Krishna duduk untuk bermeditasi. Pemburu bernama Jara tiba di sana. Dia telah membuat anak panah dari potongan gada yang ditemukannya diperut ikan. Melihat kaki Krishna, dia berpikir bahwa kaki Krishna merupakan salah satu bagian tubuh rusa dan segera dia melepaskan panahnya. Ketika dia datang mendekat, dia menemukan bahwa panahnya telah menusuk tubuh seorang manusia. Dia memohon pengampunan dan Krishna meyakinkannya bahwa Jara pasti akan masuk ke surga. Bahkan, sebuah kereta segera tiba untuk membawa Jara ke surga.

Krishna pun akhirnya meninggal dunia. Beliau berumur seratus tahun.

Arjuna menemukan tubuh Krishna, Balarama dan para Yadawa lainnya dan dia pun melakukan upacara shraddha untuk mereka. Delapan istri utama Kresna ikut meninggal pada pembakaran jenazah Krishna. Rewati (istri Balarama) juga melakukan hal yang sama. Urgasena, Rohini, Dewaki dan Wasudewa juga memasuki ikut memasuki api. Dan yang lainnya meninggalkan Dwaraka bersama Arjuna.

Segera setelah Krishna meninggal, pohon parijata dan aula pertemuan bernama Sudharma kembali ke surga. Era kali yuga dimulai. Dan kota Dwaraka ditelan oleh laut, dengan pengecualian untuk tempat tinggal Krishna sendiri.

Arjuna menetap untuk beberapa waktu di Punjab. Ketika berangkat membawa para wanita Yadawa bersamanya, mereka diserang oleh sekawanan perampok. Arjuna berusaha mengusir para perampok itu tetapi semua kekuatannya telah hilang. Kekuatannya telah meninggalkannya dengan kematian Krishna.


Wednesday, January 9, 2019

Kisah Kematian Dwiwida

WISNU PURANA


Kisah Kematian Dwiwida


Seorang asura yang bernama Naraka bertarung melawan para dewa. Naraka memiliki seorang teman monyet bernama Dwiwida. Dwiwida juga bertarung melawan para dewa dan menjadi musuh utama setelah Naraka dibunuh Krishna. Dwiwida menghancurkan banyak upacara yajna dan menganiaya para rsi. Dua juga banyak menghancurkan banyak kota, desa, dan hutan. Dia juga membelah gunung dan membuang bongkahannya ke lautan. Hal ini membuat lautan meluap dan membanjiri (menenggelamkan) banyak kota dan desa.

Suatu hari, Balarama sedang sibuk minum-minum di taman. Saat itu Dwiwida datang ke taman itu dan membuat keonaran di sana. Dia mengambil bajak dan gada Balarama. Dan Balarama pun segera memberikan peringatan keras, namun Dwiwida menertawakan Balarama. Marah besar, Balarama mengambil gadanya dan monyet itu segera mengambil batu yang besar. Balarama menghancurkan batu itu dengan gadanya. Monyet itu kemudian memukul dada Balarama. Tetapi Balarama menjatuhkan tinjunya pada kepala monyet itu dan monyet itu pun mati.




Friday, January 4, 2019

Pernikahan Shamba

WISNU PURANA


Pernikahan Shamba


Putra Krishna, Shamba, ingin menikahi putri Duryodana. Shamba kemudian menculik Putri Duryodana. Tetapi Karna, Duryodhana, Bhishma, Drona dan para pejuang lainnya bertarung dengan Shamba dan berhasil memenjarakannya. Saat mengetahui berita itu, para Yadawa bersiap untuk bertarung dengan Korawa.

Tapi Balarama menahan para Yadawa dan berkata, "Serahkan padaku. Biarkan aku pergi sendiri. Kurawa akan mendengarkan saya dan akan melepaskan Shamba".

Balarama pergi ke Hastinapura tetapi tidak memasuki kota. Duryodhana dan yang lainnya mengetahui hal ini dan datang untuk memberi hormat. Balarama kemudian memberi tahu mereka bahwa Raja Ugrasena telah meminta agar Shamba dibebaskan.
Tetapi permintaan ini membuat para Kurawa marah.

“Balarama, apa yang kamu katakan? Berani-beraninya Yadawa memerintah Kurawa? Ini seperti pelayan yang memesan pesanan seorang guru", kata mereka.

Menolak untuk melepaskan Shamba, Kurawa kemudian kembali ke Hastinapura. Ini membuat Balarama marah. balarama kemudian mencangkul pondasi kota Hastinapura dengan bajaknya dan menyeret kota itu ke sungai Bhagirathi. Ini membuat Kurawa sadar dan mereka segera meminta maaf.

Shamba dan istrinya akhirnya diserahkan kepada Balarama dan Balarama pun memaafkan Kurawa. Sejak hari itu, Hastinapura letaknya agak condong ke arah sungai di satu sisinya.


Tuesday, January 1, 2019

Kisah Pundraka


WISNU PURANA


Kisah Pundraka


Ada seorang raja bernama Pundraka yang iri dengan Krishna, yaitu Krishna adalah inkarnasi dari Wisnu yang turun dunia. Pundraka kemudian mengubah wujudnya mirip seperti Krishna dan mengirim utusan kepada Krishna dan berkata "Berhentilah berpura-pura menjadi inkarnasi Wisnu. Akulah Wasudewa yang sebenarnya. Datanglah kepadaku dan mintalah pengampunan untuk nyawamu."

Pundraka adalah teman dari raja Kashi. Krishna menyuruh pembawa pesan untuk segera kembali ke kerajaan Kashi. Mendengar pesan itu, Pundraka bersiap-siap dengan pasukannya. Krishna tiba di Kerajaan Kashi dengan menaiki Garuda. Krishna membunuh banyak pasukan musuh dengan panah, gada dan chakra. Krishna memotong-motong tubuh Pundraka dengan chakra dan membunuhnya dengan gada. Krishna juga membunuh teman Pundraka, raja Kashi, dengan panahnya dan menerbangkannya ke kota kerajaan Kashi. Setelah itu Krishna kembali ke Dwaraka.

Saat kepala raja Kashi memasuki kota, penghuni kota kaget melihat fenomena aneh ini. Putra raja Kashi mengetahui bahwa Krishnalah yang bertanggungjawab atas kejadian ini. Dia kemudian berdoa kepada Mahadewa. Saat akhir dari yajna, Mahadewa muncul di depannya, putra raja Kashi segera mengajukan permohonan, "Tolong ciptakanlah iblis untuk membunuh Krishna. Ayah saya telah dibunuh olehnya."

Mahadewa setuju dan menciptakan suatu bentuk iblis dari api yajna. Iblis itu pergi ke Dwaraka untuk membunuh Krishna. Rambutnya seperti api dan mulutnya mengeluarkan api. Krishna menerbangkan chakra sudharsananya ke arah iblis itu. Iblis itu berbalik lari tapi kemana pun iblis itu pergi, chakra selalu mengikuti. Akhirnya iblis itu sampai di Kerajaan Kashi. Tetapi chakra tetap mengikuti dan membakar seluruh kerajaan. Semuanya baik raja, pelayan, kuda, ternak, dan gajah terbakar habis. Setelah tujuannya tercapai, chakra kembali kepada Krishna.


Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci)

Purana Agni Purana Kitab Suci Agama Hindu Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci) Prahlada memiliki cucu yang sangat kuat bernama Vali. Sa...