Daftar Isi

Saturday, October 17, 2020

Yoga

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Yoga


Kata yoga berarti bersatu. Bersatu yang dimaksud disini adalah suatu bentuk meditasi yang menyatukan atman (jiwa mahluk hidup) dengan paramatman (jiwa ilahi atau sering disamakan juga dengan brahman/intisari atau esensi ilahi).


Seorang praktisi yoga harus mempelajari Purana (cerita-cerita dalam Weda). Dia harus berlatih mengendalikan hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dia makan. Makanan terbaik yang bisa ia makan contohnya yogurt, buah-buahan, sayur-sayuran, dan susu. Yoga harus dilatih di tempat yang tenang. Tempat itu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Seharusnya juga di tempat itu tidak ada suara-suara yang dapat mengganggu praktisi tersebut.


Yoga juga harus dilakukan dengan sikap tubuh yang baik (asana). Praktisi harus mengkonsentrasikan seluruh pikirannya pada ujung hidung. Dia membayangkan suatu bentuk brahman. Yoga ini akan berhasil jika seseorang mampu melepas (tidak terpengaruh apapun) dan mengendalikan indra-indranya dengan lengkap.


Jika yoga dilakukan dengan tepat, maka akan muncul pengetahuan yang mana paramatman itu sama berada di semua bentuk kehidupan (mahluk hidup). Berpikir bahwa mahluk hidup itu berbeda satu dengan lainnya adalah suatu ciri bahwa seseorang itu telah jatuh dalam ilusi. Semua elemen memiliki paramatman yang sama.





Tuesday, August 25, 2020

Chandala dan Brahmaraksasa

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Chandala dan Brahmaraksasa


Chandala adalah kasta orang buangan.  Di pinggiran kota bernama Avanti, tinggallah seorang chandala. Di Avanti ada sebuah kuil Wisnu dan chandala tersebut adalah pemuja dewa Wisnu. Chandala itu adalah juga seorang penyanyi yang bagus. Ekadashi tithi adalah hari kesebelas dalam perhitungan hari berdasarkan Bulan. Setiap bulan, pada ekadashi tithi, Chandala akan berpuasa di siang hari. Pada malam hari dia akan pergi ke kuil Wisnu dan menyanyikan pujian untuk dewa Wisnu. Dia tidak pernah gagal untuk menjalankan ritual ini.


Sungai Kshipra (Shipra) mengalir melalui kota Avanti. Pada suatu malam tertentu, pada ekadashi tithi, Chandala itu pergi ke tepi sungai untuk mengumpulkan bunga untuk menyembah dewa Wisnu. Di tepi itu, sungai ada sebuah pohon dan di pohon itu hiduplah seorang brahmarakshasa (setan). Begitu setan itu melihat Chandala, ia langsung ingin melahapnya.


"Tolong jangan malam ini. Saya harus menyembah dewa Wisnu sepanjang malam. Biarkan saya pergi sekarang", kata Chandala itu.


"Tidak. Saya belum makan selama sepuluh hari dan saya sangat kelaparan, saya tidak bisa membiarkan kamu pergi", kata setan itu.


"Kumohon, biarkan aku pergi. Saya berjanji bahwa saya akan kembali setelah doa saya selesai. Anda kemudian akan bebas melakukan apa saja dengan saya", kata Chandala.


Setan itu akhirnya melepaskan Chandala itu. Chandala itu kemudian pergi ke kuil Wisnu. Dia memuja dewa Wisnu dan menghabiskan malam dengan menyanyikan pujian Wisnu. Keesokan harinya, dia kembali ke iblis itu.


"Saya terkejut. Kamu sangat jujur. Anda tidak seharusnya menjadi Chandala.  Anda harus menjadi seorang brahmana.  Jawab pertanyaanku. Apa yang kamu lakukan sepanjang malam?", kata iblis itu.


"Aku berdiri di luar kuil Wisnu dan menyanyikan pujian kepada-Nya", jawab Chandala.


"Sudah berapa lama kamu melakukan ini?", tanya iblis itu.


"Selama dua puluh tahun", jawab Chandala.


"Anda telah memperoleh banyak Punia (simpanan jasa kebaikan) melalui ini, kata iblis itu. Tolong beri aku satu malam punia. Saya adalah orang berdosa", kata setan itu.


"Tidak, saya tidak akan membagikan Punia saya kepada siapapun. Saya telah memberikan Anda tubuh saya, makanlah saya jika Anda mau. Tapi Punia tetap milik saya sendiri", kata chandala.


"Baiklah kalau begitu beri aku dua jam Punia saja. Saya adalah orang berdosa", kata setan itu.


"Saya telah memberitahumu bahwa aku tidak akan memberimu Punia milik saya. Tapi sebenarnya dosa apa yang sudah anda lakukan?", kata Chandala.


Brahmaraksasa kemudian mulai menceritakan kisahnya.


Nama asli Brahmaraksasa itu adalah Somasharma dan dia merupakan putra dari Devasharma. Devasharma merupakan seorang brahmana yang baik. Sedangkan Somasharma berjalan di jalan kejahatan. Seorang brahmana tidak diizinkan untuk bertindak sebagai pemimpin upacara pengorbanan apabila dia belum melakukan serangkaian upacara sakral (upanayana). Tetapi Somasharma bertindak sebagai pemimpin upacara walaupun dia belum melakukan upanayana. Sebagai akibatnya, saat dia sudah mati, dia menjadi setan. Chandala itu pun tergugah hatinya mendengar kisah sedih itu dan akhirnya dia pun memberikan sebagian punianya kepada setan itu. Setan itu pun menjadi senang dan mengungkapkan rasa terima kasihnya. Setan itu pun kemudian pergi ke suatu tempat suci (tirtha) dan melakukan penebusan dosa. Dengan demikian setan itu mencapai pembebasan.


Setelah itu, chandala kembali pulang ke rumahnya. Dia kemudian melakukan perjalanan mengunjungi semua tempat tempat-tempat yang suci (berziarah). Di suatu tirtha (tempat suci), dia tiba-tiba ingat kisah hidupnya dikehidupan yang lalu.


Dia dulunya adalah seorang pertapa yang berpengalaman dalam Weda dan banyak sastra. Dia dulunya hidup dari meminta-minta sedekah. Saat dia sudah mendapatkan sedekah, saat itu di dekatnya ada pencuri yang akan mencuri sapi. Sapi itu pun mengamuk dan mulai menggosok-gosok kuku kakinya sehingga muncul debu disekitarnya. Debu itu jatuh ke makanan dan pertapa itu membuang sedekahnya karena merasa jijik. Karena dia telah membuang sedekah, dia dilahirkan sebagai Chandala. Setelah melakukan penebusan dosa, akhirnya dosa-dosanya pun diampuni.


Sunday, August 23, 2020

Empat Warna Ashrama dalam Brahma Purana

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Empat Warna Ashrama dalam Brahma Purana


Ada empat warna (kelas) manusia. Keempat warna tersebut adalah brahmana, ksatria, waisya dan sudra.


Tugas seorang brahmana adalah memberikan berkat, melakukan tapasya, menyembah dewa, melakukan yajna dan mempelajari Weda. Untuk mencari nafkah, brahmana diberi wewenang untuk mengajarkan dan memimpin upacara pengorbanan (yajna). 


Tugas seorang ksatria adalah mengangkat senjata untuk melindungi dunia ini dari segala bentuk kejahatan, memberi sedekah dan melakukan pengorbanan (yajna). Seorang ksatria juga diizinkan untuk mempelajari sastra. 


Tugas seorang waisya adalah bertani, beternak, dan berdagang. Selain itu, waisya harus memberikan sedekah, melakukan pengorbanan (yajna) dan mempelajari sastra. 


Tugas sudra adalah melayani brahmana. Sudra juga bisa menjadi pemilik toko dan pengrajin.


Pada saat-saat darurat, seorang brahmana diperbolehkan menjalani mata pencaharian para ksatria atau waisya untuk mencari nafkah. Begitu juga sama halnya dengan seorang ksatria, dia diijinkan untuk mengambil mata pencaharian dari waisya atau sudra dan seorang waisya diijinkan untuk mengambil mata pencaharian dari sudra.


Selain empat warna, ada juga empat ashrama (empat jenjang kehidupan). Yang pertama dikenal sebagai brahmachari (jenjang kehidupan menjadi mahasiswa). Selama periode ini, individu tersebut menghabiskan hari-harinya dengan gurunya dan mempelajari weda dengan baik. Dia harus melayani gurunya dengan cara yang tepat dan hidup dari sedekah. 


Asrama berikutnya adalah garhasta (jenjang hidup berumah tangga). Individu tersebut akhirnya memasuki masa menikah dan memiliki anak. Dia melayani para dewa, para orang bijak (guru/rsi/pertapa), para leluhur dan para tamu. Seseorang yang berumah tangga memberikan sedekah untuk orang bijak (rsi/guru/pertapa). Itulah alasan mengapa jenjang berumah tangga itu sangat penting. 


Asrama ketiga dikenal sebagai wanaprasta (tahap tinggal di hutan). Individu tersebut memasuki masa pensiun dan pergi ke hutan dan mulai menarik pikirannya dari kehidupan maupun hal-hal duniawi. Ia dapat meninggalkan istrinya dalam perawatan putra-putranya atau membawanya bersamanya. Dia hidup dari akar, buah dan daun dan membuat tempat tidur untuk dirinya sendiri di bawah pohon. Ia tidak diizinkan mencukur atau memotong rambutnya dan pakaiannya harus dibuat dari kulit kayu atau kulit lainnya. 


Asrama terakhir adalah sanyasa (pertapaan). Seorang pertapa melepaskan semua hubungan dengan dunia dan hidup sendiri. Dia hidup sepenuhnya terlepas dari ikatan apapun. Dia tinggal sendiri. Dia mendapatkan makanannya dari sedekah. Ia tidak diizinkan untuk menghabiskan lebih dari satu malam di suatu desa, atau lebih dari lima malam di suatu kota.


Kisah Kandu dan Pramlocha

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kisah Kandu dan Pramlocha


Ada seorang brahmana yang bernama Kandu. Dia memiliki tempat tinggal/ashrama di tepi sungai Gangga Goutami. Ashrama tersebut sangat indah dan dia melakukan tapasya yang berat disana. Di saat musim panas, dia bermeditasi di bawah terik matahari, di saat musim hujan dia bermeditasi di tanah yang becek, dan di musim dingin dia bermeditasi dengan mengenakan baju yang basah.


Dewa Indra menjadi takut kelak tapasyanya ini akan berhasil. Dewa Indra berpikir rsi Kandu ini ingin menjadi dewa Indra selanjutnya menggantikan dirinya sebagai raja para dewa. Dia kemudian memanggil seorang apsara yang bernama Pramlocha dan memerintahkan untuk mengganggu tapasya Kandu.


Pramlocha kemudian pergi ke pertapaan Kandu dan mulai bernyanyi dengan suaranya yang indah. Nyanyian tersebut mengganggu Kandu dan akhirnya dia menemukan ada seorang wanita cantik di dekat ashramanya.


"Siapa kamu?", tanya Kandu wanita yang cantik itu.


"Saya kesini untuk memetik beberapa bunga. Saya adalah pelayan anda. Saya akan melakukan apa pun yang anda minta", jawab Pramlocha.


Kandu jatuh cinta pada Pramlocha dan Kandu pun akhirnya menikah dengan Pramlocha. Dia melupakan tapasyanya dan dewa Indra menjadi lega. Beberapa tahun berlalu, Pramlocha ingin kembali ke kahyangan tetapi Kandu tidak membiarkannya pergi.


Setelah beberapa tahun-tahun kemudian, Kandu pergi keluar dari kediamannya, merasa agak terganggu. Saat itu sudah mulai malam dan Kandu terlihat ingin pergi ke suatu tempat.


"Kemana anda mau pergi?", tanya Pramlocha.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu! Tidakkah kau lihat sekarang sudah akan gelap? Saya harus melakukan ritual. Hari telah berlalu", jawab Kandu.


"Hari apa maksud anda? Banyak hari telah berlalu", tanya Pramlocha.


"Tidak, kamu baru saja datang di pagi hari. Saya membawamu ke kediaman saya dan sekarang sudah akan malam", jawab Kandu.


"Itu benar bahwa saya datang di pagi hari ke tempat ini. Tetapi itu adalah pagi hari beberapa tahun yang lalu. 100 tahun telah berlalu sejak pagi itu", jawab Pramlocha.


"Berapa tahun? Kapan kamu datang kesini?", tanya Kandu.


"1600 tahun, 6 bulan, dan 3 hari yang lalu", jawab Pramlocha.


"Apakah kau yakin? Itu seperti 1 hari bagi saya", kata Kandu.


"Saya yakin. Saya tidak pernah berbohong kepada anda", jawab Pramlocha.


"Kamu telah menggagalkan tapasya saya. Tetapi saya tidak akan mengutukmu, karena kamu telah menjadi istri saya. Kembalilah ke surga, saya harus menebus dosa-dosa saya", jawab Kandu.


Rsi Kandu kemudian pergi ke Purushottama khsetra dan melakukan penebusan dosa. Dia kemudian diberkati oleh dewa Wisnu.


Kandu dan Pramlocha memiliki anak perempuan bernama Marisa. Yang nantinya akan dinikahkan dengan para Praceta. Dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Daksa, yang merupakan reinkarnasi dari prajapati Daksa putra dewa Brahma.



Wednesday, August 12, 2020

Kisah Goutama dan Manikundala

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kisah Goutama dan Manikundala


Ada sebuah kota yang bernama Bhouwana. Di kota tersebut tinggalah seorang brahmana yang bernama Goutama. Brahmana itu memiliki seorang teman yang berkasta (warna) waisya yang bernama Manikundala. (Kasta waisya adalah kasta ketiga dalam catur warna (sistem perkastaan/kelas dalam Weda) yang tugas utamanya adalah berdagang dan bertani).


Suatu hari ibu Goutama memberikan kata-kata pedas (nasehat yang menyakitkan hati) Goutama. Dan sebagai akibatnya Goutama pun pergi meninggalkan kota. Goutama pergi mengajak temannya, Manikundala. "Ayo kita pergi ke kota lain untuk berdagang dan menghasilkan banyak uang", kata Goutama.


"Ayah saya adalah orang yang kaya. Jadi untuk apa saya mencari uang lagi?", jawab Manikundala.


"Rupanya kamu tidak memiliki pemikiran orang sukses. Orang yang sukses adalah orang yang tidak mengharapkan warisan dari ayahnya. Orang sukses mencari rejeki nya sendiri", kata Goutama.


Manikundala memikirkan kata-kata Goutama tersebut. Dia berpikir bahwa kata-kata gautama tersebut ada benarnya juga. Dia tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti seseorang yang dipanggilnya teman itu akan menipu dirinya.


Akhirnya kedua sahabat itu pergi mengembara. Manikundala sudah menyiapkan semua tujuan kota yang akan dikunjungi. Di tengah perjalanan Goutama berkata, " apakah kamu pernah mendengar bahwa seseorang yang mengikuti jalan dharma ( jalan kebenaran) selalu mengalami penderitaan? Mereka tidak kayak dan tidak juga bahagia. Jadi bisa disimpulkan kita tidak perlu berbuat di jalan kebenaran."


"Tolong jangan berkata demikian. Kebahagiaan itu bisa menipu di jalan dharma. Kemiskinan dan kesengsaraan tidak dapat dihindari, mereka tidak dapat diprediksi", jawab Manikundala protes.


Kedua sahabat itu akhirnya berdebat, tetapi tidak ada yang tahu siapa yang benar. Akhirnya mereka pun bertaruh. Mereka akan menanyakan nya kepada orang-orang, kata-kata siapa yang benar. Barang siapa yang kalah harus menyerahkan semua kekayaannya kepada yang menang.


Akhirnya mereka pun menanyakan pendapat mereka masing-masing kepada beberapa orang. Secara alami kebanyakan orang setuju dengan pendapat bahwa orang yang jahat selalu bahagia dan makmur. Dan orang yang jujur ( atau berjalan di jalan dharma) selalu menderita. Dan akhirnya pun Manikundala mengaku kalah dan menyerahkan semua kekayaannya kepada Goutama. Tetapi Manikundala tetap kukuh untuk melanjutkan berjalan di jalan dharma.


"Kamu benar-benar keras kepala. Apakah kamu belum jera kehilangan semua kekayaan mu? Silahkan lanjutkan berjalan di jalan dharma", kata Goutama.


"Kekayaan itu tidak dapat diprediksi. Saya berjalan di jalan dharma dan apa yang nampaknya sekarang adalah suatu kemenangan adalah hanya sebuah ilusi. Dar malah yang akan menang pada akhirnya", jawab Manikundala.


Kedua sahabat itu akhirnya memutuskan untuk bertaruh lagi. Kali ini mereka sepakat bahwa siapa yang kalah harus dipotong kedua tangannya. Kali ini mereka menanyakan hal yang sama kepada semua orang, dan lebih banyak orang setuju bahwa adharma (kejahatan) lah yang menang (bahagia dan kaya). Akhirnya Manikundala pun kehilangan kedua tangannya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?", tanya Goutama.


"Masih sama. Dharma adalah sesuatu yang penting dan saya masih berjalan di jalan dharma", jawab Manikundala.


Goutama menjadi marah dan mengancam akan memotong kepala Manikundala apabila Manikundala masih kukuh untuk berjalan di jalan dharma. Tetapi Manikundala tidak gentar. Kedua sahabat tersebut kembali bertaruh. Kali ini siapa yang kalah akan kehilangan nyawanya. Dan Manikundala pun akhirnya kalah. Goutama kemudian mencongkel kedua mata Manikundala dan meninggalkannya begitu saja agar dia mati dengan sendirinya.


Manikundala terbaring di tepi sungai Gangga Goutama dan dia mulai merenungkan takdir apa yang sudah menimpa dirinya. Hari saat itu sudah mulai malam. 


Di dekat sana ada sebuah arca dewa Wisnu dan ada seorang raksasa yang bernama Wibhishana yang selalu datang setiap malam kesana untuk berdoa kepada dewa Wisnu. Putra Wibhishana menyelimuti Manikundala yang tengah terbaring di dekat sana. Manikundala kemudian menceritakan semua kisahnya kepada putra Wibhishana dan putra Wibhishana kemudia menceritakan kisah Manikundala kepada ayahnya. 


"Beberapa tahun telah berlalu. Saya bergabung dengan Rama (Awatara Wisnu) di dalam pertempuran nya melawan Rahhwana. Putra rahwana yang bernama Meghanada, menembakkan panah beracun kepada Lakshmana. Lakshmana tidak sadarkan diri. Hanuman kemudian pergi ke Himalaya dan membawa sebuah gunung yang bernama Gandhamadana ke Lanka. Pada gunung itu ada sebuah tanaman ajaib yang bernama Wishalyakarani yang dapat menyembuhkan segala penyakit. Saat Hanuman mengembalikan gunung tersebut ke Himalaya, beberapa tanaman tersebut jatuh di tempat ini, di dekat arca Wisnu ini. Mari kita mencarinya. Mungkin tanaman itu akan dapat menyembuhkan Manikundala", begitulah kata Wibhishana kepada putranya.


Ayah dan anak tersebut kemudian mencari tanaman ajaib tersebut. Tanaman ajaib itu ternyata sudah menjadi sebuah pohon raksasa. Mereka kemudian memotong satu cabang dan menaruh nya di dada Manikundala. Secara ajaib Manikundala kembali mendapatkan matanya dan tangannya. Setelah menyembuhkan Manikundala, Wibhishana dan putranya kembali ke kerajaan.


Manikundala melanjutkan pengembaraannya. Dia bahkan akhirnya sampai di sebuah kota yang bernama Mahaputra, dimana raja yang memerintah disana bernama Maharaja. Maharaja hanya memiliki seorang putri (tidak memiliki putra). Putrinya tersebut buta. Maharaja pun berjanji barang siapa yang dapat menyembuhkan putrinya tersebut akan diangkat sebagai anak dan akan menjadi pewaris tahta kerajaan selanjutnya. Manikundala kemudian menyembuhkan putri Maharaja dengan tanaman Wishalyakarani berdasarkan ilmu pengetahuan yang telah didapatnya. Dia kemudian menikahi putri Maharaja dan menjadi raja Mahapura selanjutnya setelah Maharaja.


Beberapa tahun telah berlalu. Goutama sedang dibawa oleh para prajurit kehadapan Manikundala. Dia ditahan karena telah melakukan kejahatan. Sejak kejadian Goutama mencongkel kedua mata Manikundala, Goutama akhirnya kehilangan semua kekayaannya dan menjadi seorang pengemis. Manikundala mengampuni apa yang telah dilakukan Goutama kepadanya. Dan dia pun juga membagikan kekayaan yang dia punya kepada Goutama. 


Seperti itulah kebajikan mengikuti jalan dharma. Ada banyak tirtha (tempat suci) di tepi sungai Gangga Goutama dimana berbagai keajaiban telah terjadi di tempat ini.



Tuesday, August 4, 2020

Kisah Pemburu

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kisah Pemburu


Ada seorang pertapa yang bernama Veda. Dia sangat rajin berdoa kepada dewa Siwa setiap hari. Dia berdoa kepada dewa Siwa dari pagi sampai siang (tengah hari). Setelah selesai berdoa, dia kemudian pergi ke desa-desa terdekat untuk meminta sedekah.


Ada seorang pemburu yang bernama Bhilla. Dia pergi ke hutan di siang (tengah hari). Setelah selesai berburu, dia pergi ke tempat lingga Siwa untuk mempersembahkan apa pun hasil buruannya saat itu. Dalam proses persembahannya kepada dewa Siwa, dia memindahkan persembahan milik Veda yang sebelumnya sudah ada disana lebih dulu. Ada suatu keanehan, justru dewa Siwa senang dengan persembahan dari Bhilla, bahkan beliau selalu menunggunya setiap hari.


Bhilla dan Veda tidak pernah bertemu. Veda memperhatikan setiap hari bahwa persembahannya selalu berserakan sementara, dia memperhatikan akan ada selalu beberapa daging di sampingnya. Tentu saja Veda tidak mengetahui siapa yang sebenarnya telah membuang persembahannya, karena ketika itu terjadi Veda sedang pergi meminta sedekah di desa terdekat. Suatu hari dia memutuskan untuk bersembunyi dan menunggu untuk menangkap pelakunya. 


Akhirnya Bhilla pun datang untuk memberi persembahan kepada dewa Siwa. Veda sangat kaget bahwa dewa Siwa muncul dihadapan Bhilla dan berkata, "Kenapa kamu terlambat datang hari ini? Saya telah menunggumu. Apakah kamu merasa lelah?"


Bhilla kemudian pergi setelah menawarkan persembahan. Kemudian Veda bergegas menemui dewa Siwa dan berkata, "Ada apa sebenarnya ini? Persembahan ini kotor dan merupakan hasil dari pemburu yang berdosa, dan kemudian, engkau muncul dihadapannya. Saya telah melakukan tapasya beberapa tahun dan engkau tidak pernah muncul dihadapan saya. Saya jijik dengan kejadian ini. Saya akan menghancurkan lingga Anda dengan batu ini."


"Lakukanlah jika itu memang harus dilakukan. Tapi tolong, tunggulah sampai besok", jawab dewa Siwa.


Keesokan harinya, saat Veda datang akan melakukan persembahan, dia menemukan jejak darah pada lingga Siwa. Dia secara hati-hati membersihkan jejak darah tersebut dan melanjutkan doanya. 


Setelah beberapa saat, Bhilla juga datang untuk melakukan persembahan, dan dia menemukan ada jejak darah di bagian atas lingga Siwa. Dia berpikir bahwa dialah yang bertanggungjawab atas kejadian ini dan dia menyalahkan dirinya atas suatu kesalahan yang aneh ini. Dia mengambil anak panah yang tajam dan kemudian menusuh tubuhnya berulang-ulang dengan anak panahnya sebagai hukuman. 


Dewa Siwa kemudian muncul dihadapan mereka berdua dan berkata, "Sekarang Anda bisa lihat perbedaan antara Veda dan Bhilla. Veda telah memberikan persembahannya kepada saya, tetapi Bhilla telah memberikan seluruh jiwanya kepada saya. Itulah perbedaan antara ritual dan pengabdian sesungguhnya".


Tempat dimana Bhilla berdoa kepada dewa Siwa tersebut kemudian dikenal dengan nama bhillatirtha.



Sunday, August 2, 2020

Kisah Burung Hantu dan Burung Merpati

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kisah Burung Hantu dan Burung Merpati


Ada seekor burung merpati yang tinggal di pinggir sungai Gangga Goutami. Burung merpati itu bernama Anuhrada. Ia memiliki istri bernama Heri. Anuhrada merupakan keturunan dari dewa Yama.


Tidak jauh dari sana, hiduplah seekor burung hantu bernama Uluka. Istri dari Uluka bernama Uluki. Dan mereka adalah keturunan dari dewa Agni.


Burung merpati adalah musuh burung hantu. Mereka sering sekali berkelahi. Burung merpati menerima banyak sekali senjata dari dewa Yama, begitu pun burung hantu juga banyak menerima senjata dari dewa Agni. Senjata ilahi mereka ini sangat berbahaya sekali karena dapat membakar segalanya. Akhirnya dewa Yama dan dewa Agni turun tangan. Mereka membujuk burung merpati dan burung hantu untuk melupakan permusuhan mereka dan hidup berdampingan sebagai sahabat.


Tempat dimana burung merpati itu tinggal dikenal sebagai tirtha (tempat suci) yang bernama yamatirtha. Dan tempat dimana burung hantu tinggal dikenal sebagai agnitirtha.


Saturday, February 29, 2020

Kisah Kepala Dewa Brahma

Purana

Brahma Purana

Kitab Suci Agama Hindu

Pada zaman dahulu, terdapat perang antara para dewa dan para iblis. Para dewa kemudian datang ke tempat Brahma untuk meminta bantuan. Brahma menyuruh mereka untuk berdoa kepada Siwa.

Siwa muncul di hadapan para dewa. Para dewa berkata, ” Para iblis telah mengalahkan kita. Tolong bunuhlah mereka dan selamatkanlah kami”.

Siwa kemudian pergi untuk bertarung dengan para iblis. Beliau berhasil mengusir para iblis keluar dari surga. Beliau bahkan mengejar mereka sampai ke ujung bumi. Pengejaran tersebut membuat Siwa berkeringat. Dan di mana pun tetesan keringat Siwa jatuh ke tanah, terciptalah sesosok mahluk yang mengerikan yang bernama matri. Para Matri juga ikut membunuh para iblis dan mereka juga mengejar para iblis sampai ke dunia bawah.

Sementara para matri membunuh iblis-iblis di dunia bawah, Brahma dan dewa-dewa lain menunggu di tepi sungai Gangga. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai Pratishthana.

Ketika para matri telah membunuh semua iblis, mereka kembali ke bumi dan mulai hidup di tepi sungai Gangga Goutami. Tirtha (tempat suci) tersebut kemudian dikenal sebagai matritirtha.

Dulu Brahma memiliki lima kepala. Kepala yang kelima berbentuk seperti kepala keledai. Ketika para iblis melarikan diri ke alam baka, kepala keledai ini berbicara kepada iblis-iblis itu, "Mengapa kamu melarikan diri? Kembali dan bertarunglah dengan para dewa. Saya akan membantu kalian dalam pertarungan tersebut."

Para dewa sangat terkejut melihat situasi yang berkebalikan ini. Brahma membantu para dewa dalam pertarungan melawan iblis dan kepala kelima Brahma berusaha membantu iblis melawan para dewa. Para dewa pun akhirnya pergi ke Wisnu dan berkata, "Tolong potonglah kepala kelima Brahma. Kepala itu menyebabkan banyak kebingungan."

"Saya bisa melakukan apa yang Anda inginkan, tetapi ada masalah. Ketika potongan kepala itu jatuh di bumi, potongan kepala itu akan menghancurkan bumi. Saya pikir Anda harus berdoa kepada Siwa untuk menemukan jalan keluar", jawab Wisnu.

Para dewa akhirnya kembali berdoa kepada Siwa dan Siwa akhirnya setuju untuk memotong kepala kelima Brahma. Tapi apa yang harus dilakukan dengan kepala yang terputus? Bumi menolak untuk menanggungnya. Akhirnya diputuskan bahwa Siwa sendiri yang akan menanggung kepala Brahma yang terputus tersebut.

Tempat Siwa memotong kepala kelima Brahma dikenal sebagai rudratirtha. Sejak hari itu, Brahma memiliki empat kepala dan dikenal sebagai Caturmuka (catur berkonotasi empat dan muka berkonotasi wajah). Ada kuil untuk Brahma di tepi Gangga Goutami. Ini adalah tempat suci yang dikenal sebagai brahmatirtha. Seorang pembunuh brahmana akan diampuni dosanya jika ia mengunjungi kuil ini.

Wednesday, November 6, 2019

Kisah Nageswara

Purana


Brahma Purana


Kitab suci agama Hindu


Ada sebuah kota bernama Pratishthana. Seorang raja bernama Shurasena berkuasa di kota tersebut. Shurasena tidak memiliki anak laki-laki. Setelah melakukan banyak upaya akhirnya seorang anak laki-laki lahir. Tetapi anak laki-laki tersebut adalah seekor ular. Atas kejadian tersebut sang raja dan ratu menjadi malu. Tetapi mereka merahasiakannya. Tidak seorang pun tahu bahwa putra mereka adalah seekor ular.

Saat anak laki-laki itu sudah mulai tumbuh sedikit besar, dia mulai berbicara seperti manusia, walaupun wujudnya adalah seekor ular. Raja Shurasena mengatur pendidikannya. Setelah sang ular terpelajar dalam ilmu Weda, ular tersebut berbicara kepada ayahnya, "Ayah, ini sudah saatnya saya untuk menikah. jika saya tidak memiliki seorang putra maka saya akan masuk ke neraka".

Raja Shurasena terkejut mendengar hal itu, "Bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan? Wanita Mana yang mau menikahi seekor ular?"

"Saya tidak tahu. Yang saya tahu bahwa saya harus menikah. Jika tidak saya akan bunuh diri. Ada banyak cara pernikahan yang diizinkan. Mungkin seorang wanita dapat diculik secara diam-diam kemudian dinikahkan dengan saya," jawab sang ular.

Shurasena kemudian mengumpulkan menteri-menterinya, "Putra saya, Nageswara, sudah beranjak dewasa. Ia sebentar lagi akan menjadi pewaris dari kerajaan ini. Tidak ada yang sebanding keberadaannya seperti dia baik di surga maupun di dunia bawah. Dan saya sudah tua. Tolong atur pernikahan Nageswara. Saya akan melepas kerajaan saya dan beristirahat di hutan".

Dan sang raja sudah tentu tidak mau memberitahukan bahwa putranya adalah seekor ular. Shurasena memiliki seorang menteri yang sudah tua banyak pengalaman. Nanti ini memberitahu kepada raja bahwa ada seorang raja yang bernama Wijaya yang berkuasa di sebelah timur negara tersebut. Raja Wijaya memiliki 8 putra dan seorang putri. Putri tersebut bernama Bogawati. Dia sangat cantik. Dan dia cocok menjadi pasangan Nageswara.

Menteri yang sudah tua itu kemudian mengirim utusan kepada raja Wijaya dan raja Wijaya setuju dengan hal tersebut. Ada suatu tata cara pernikahan kaum ksatria bahwa pengantin tidak harus selalu melangsungkan pernikahan dengan pasangannya saat upacara berlangsung. Pengantin wanita dapat melangsungkan pernikahan dengan pedang atau senjata lainnya. Sang menteri menjelaskan kepada raja Wijaya kalau ada urusan penting yang membuat Nageswara tidak dapat hadir dalam acara pernikahan tersebut. Jadi Bogawati harus menikah dengan pedang milik Nageswara. Raja Wijaya menyetujui hal itu dan akhirnya pun upacara pernikahan dilangsungkan. Rombongan pun akhirnya kembali ke kerajaan Pratishthana.

Selanjutnya ibu Nageswara mengirimkan seorang pelayan ke Bogawati untuk memberi tahu bahwa suaminya tersebut adalah seekor ular dan mengamati bagaimana reaksi Bogawati selanjutnya setelah mengetahui hal tersebut.

Pelayan itu kemudian berkata kepada Bogawati, "Suami anda adalah seorang dewa. Tetapi dia dalam bentuk seekor ular".

"Hal itu merupakan keberuntungan untuk saya. Biasanya seorang wanita menikah dengan seorang pria. Saya pasti telah melakukan banyak perbuatan baik di kehidupan yang dulu sehingga saya bisa menikah dengan dewa", kata Bogawati.

Bogawati kemudian dibawa ke tempat Nageswara dan ketika pertama kali melihat Bogawati, Nageswara ingatlah dengan kehidupan sebelumnya. Dia dulunya adalah seekor ular naga, yang merupakan penyembah Siwa dan Bogawati adalah istrinya di kehidupan yang dulu.

Pada zaman dahulu pada suatu acara, dewa Siwa tertawa dengan lelucon yang dibuat oleh dewi Parwati. Nageswara juga ikut tertawa. Hal ini membuat dewa Siwa kesal dan beliau mengutuk Nageswara bahwa dia akan dilahirkan sebagai anak manusia namun dalam bentuk seekor ular. Saat dia pergi dan mandi di sungai Goutami Gangga maka saat itulah kutukannya akan berakhir.

Saat Nageswara menceritakan kejadian itu kepada Bogawati, dia pun ikut ingat kehidupannya terdahulu. Mereka berdua kemudian pergi dan mandi di sungai sakral tersebut dan Nageswara memerintah setelah Shurasena wafat. Dan saat Nageswara dan Bogawati wafat mereka kembali ke Kailas, tinggal bersama dewa Siwa.

Di tepi sungai Goutami Gangga, Nageswara dan Bogawati membangun sebuah kuil untuk menyembah dewa Siwa. Tempat suci (tirtha) itu kemudian dikenal dengan nama nagatirtha.



Wednesday, October 23, 2019

Kisah Pippalada

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Pada zaman dahulu ada seorang rsi bernama Dadhichi. Istrinya bernama Lopamudra. Kediaman Dadhichi berada tepat di sebelah sungai Gangga. Saudara perempuan Lopamudra yang bernama Gabhastini juga tinggal di kediaman tersebut. Dengan kekuatan Dadhichi tidak ada satupun ditya dan danawa (salah satu ras iblis) yang berani menginjakkan kaki di kediamannya tersebut.


Suatu hari para dewa bertempur dengan para iblis. Setelah berhasil memenangkan pertempuran, para dewa pergi ke kediaman Dadhichi untuk memberi hormat kepada nya. Dadhichi menyambut tamunya tersebut dengan baik dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu.


"Terima kasih atas berkat anda, kami para dewa baik-baik saja. Kami baru saja memenangkan pertempuran dengan para iblis. Dan selanjutnya kami memiliki beberapa masalah kecil. Kami sudah tidak lagi membutuhkan senjata kami karena para iblis telah pergi. Kami tidak tahu di mana tempat yang aman untuk menyimpan semua senjata ini. Kami mulai berpikir mungkin kami dapat menyimpan senjata kami di kediaman anda. Karena kediaman andalah tempat teraman yang pernah kami temukan", kata para dewa.


Dadhichi menerima permintaan para dewa tersebut. Para dewa akhirnya meninggalkan semua senjata mereka di kediaman Dadhichi dan mereka kemudian kembali ke surga.


Saat Lopamudra mengetahui apa yang Dadhichi lakukan, dia menjadi tidak tenang. "Anda telah melakukan sesuatu yang salah. Anda seharusnya tidak menerima tanggung jawab menjaga barang milik orang lain. Terlebih lagi kita ini adalah pertapa yang tidak mengikatkan diri pada barang maupun harta benda. Anda telah setuju untuk menyimpan senjata para dewa. Apakah ini juga berarti bahwa musuh para dewa akan menganggap Anda juga sebagai musuh? Dan apa yang anda lakukan jika sesuatu terjadi pada senjata para dewa? Akankah para dewa akan menyalahkan anda?", begitu kata Lopamudra.


"Apa yang Anda katakan ada benarnya juga. Saya tidak sempat berpikir sampai ke sana. Dan saya telah mengatakan janji kepada para dewa. Saya tidak dapat menarik kembali kata-kata saya", kata Dadhichi.


Seratus tahun berlalu dan para dewa tidak kunjung datang mengambil senjata mereka. Senjata para dewa mulai kehilangan kilau mereka. Dadhichi tidak tahu bagaimana cara agar energi dari senjata para dewa tersebut dapat diawetkan. Dia mencuci senjata para dewa tersebut dengan air suci dan kemudian energi dari senjata tersebut larut ke dalam air suci tersebut. Dadhichi kemudian meminum air suci tersebut. Dan mengenai senjata para dewa tersebut, mereka menghilang setelah kehilangan energinya.


Akhirnya para dewa datang untuk mengambil senjata mereka. "Apakah kami dapat mengambil senjata kami kembali? Musuh kau datang kembali untuk bertempur dengan kami. Kami membutuhkan senjata kami", kata para dewa.


"Itu tidak mungkin. Senjata itu sudah tidak ada lagi. Saya telah menelan energi dari senjata itu. Biarkan sekarang saya katakan kepada kalian apa yang dapat dilakukan. Saya akan menggunakan kekuatan meditasi saya untuk menyerahkan hidup saya. Senjata yang sangat bagus akan tercipta dari tulang belulang saya", kata Dadhichi.


Para dewa menjadi sangat tidak enak. Tetapi sudah tidak ada solusi lain lagi. Akhirnya Dadhichi meninggal. Para dewa meminta Wiswakarma untuk membuat senjata dari tulang belulang dari Dadhichi. Wiswakarma setuju dan sebuah senjata yang bernama Bajra berhasil diciptakan dan senjata itu benar-benar luar biasa.


Lopamudra sedang bepergian jauh pada saat kejadian itu berlangsung. Dia akhirnya kembali dan menemukan bahwa suaminya sudah meninggal. Dia menderita dalam kesedihan dan ingin mengorbankan dirinya ke dalam api. Tetapi saat itu dia sedang hamil, jadi keinginannya itu tidak dapat langsung dilakukan. Setelah bayi itu dilahirkan kemudian dia menyerahkan bayi itu kepada pippala (pohon ara yang besar), dan kemudian dia bunuh diri. 


Sejak pippala (pohon ara) merawat bayi laki-laki itu, bayi itu kemudian dikenal sebagai Pippalada. Dewa Candra adalah dewa penguasa tumbuh-tumbuhan. Pohon itu meminta Amerta kepada dewa Candra untuk Pippalada dan dewa Candra memenuhinya. Amerta membuat Pippalada menjadi sangat kuat.


Saat Pippalada tumbuh dewasa, dia bertanya siapa orang tuanya dan pohon itu menceritakan kisahnya. Pippalada menyalahkan para dewa dan ingin balas dendam. Pohon itu membawa Pippalada kepada dewa Candra.


"Kamu masih terlalu muda. Kamu harus banyak belajar dengan baik dalam menggunakan berbagai senjata. Pergilah ke hutan Dandakaranya. Sungai Goutami Gangga mengalir melalui hutan tersebut. Berdoalah kepada Siwa di sana, maka keinginanmu akan terpenuhi", begitu kata dewa Candra.


Pippalada melakukan apa yang dewa Candra katakan dan melalui doanya dia telah membuat dewa Siwa senang.


"Anugerah apa yang kamu inginkan?", tanya dewa Siwa.


"Saya menginginkan anugerah dimana saya dapat menghancurkan para dewa", jawab Pippalada.


"Saya memiliki mata ketiga di tengah dahi saya. Hari dimana kamu bisa melihat mata ketiga saya, maka saat itulah kamu akan mendapatkan anugerah", kata dewa Siwa.


Mencoba sebisa mungkin yang bisa dia lakukan, tetap saja Pippalada tidak bisa melihat mata ketiga dewa Siwa. Pippalada kemudian melakukan tapasya yang lebih sulit dari yang pernah dia lakukan selama beberapa tahun. Dan akhirnya pun dia berhasil melihat mata ketiga dewa Siwa. Dari mata ketiga dewa Siwa kemudian lahirlah seorang iblis yang mirip seperti kuda betina.


"Apa yang kamu inginkan?", tanya iblis itu.


"Bunuhlah musuh saya, para dewa", jawab Pippalada.


"Baiklah", kemudian iblis itu mulai membunuh Pippalada.


"Apa yang kamu lakukan? Saya meminta kamu untuk membunuh para dewa", kata Pippalada.


"Tubuhmu dibuat oleh para dewa. Saya akan membunuhmu terlebih dahulu baru kemudian membunuh dewa yang lainnya", jawab iblis itu.


Pippalada kemudian berlari minta pertolongan kepada dewa Siwa. Dewa Siwa menandai sebuah kawasan di dalam hutan untuk Pippalada. Pippalada kemudian tinggal di sana, terlindungi dari amukan sang iblis. Sementara para dewa meminta pertolongan kepada dewa Siwa untuk menyelamatkan mereka dari amukan sang iblis. Dewa Siwa membujuk Pippalada untuk mengendalikan amarahnya. Beliau meyakinkan Pippalada bahwa tidak ada yang bisa didapat dari membunuh para dewa. Membunuh para dewa tidak akan bisa mengembalikan orang tuanya.


Pippalada setuju tapi dia ingin melihat orang tuanya untuk sekali saja. Demikian, akhirnya sebuah Vimana turun dari surga di mana di atas Vimana tersebut duduk rsi Dadhichi dan Lopamudra. Mereka memberkati Pippalada dan menyuruh Pippalada untuk segera menikah dan memiliki keturunan.


Dan untuk iblis yang sedang mengamuk, akhirnya iblis itu berubah menjadi sungai dan bersatu dengan sungai Gangga.




Saturday, October 19, 2019

Kisah Vriddhagoutama

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Rsi Goutama memiliki seorang anak bernama Vriddhagoutama. Vriddhagoutama juga menjadi seorang rsi seperti ayahnya. Tapi penampilan Vriddhagoutama sangatlah buruk. Dia tidak mempunyai hidung (cacat dari lahir). Dia sangat malu dengan keadaannya yang demikian (cacat) yang membuatnya tidak bisa ikut belajar Weda dan sastra bersama teman-temannya di bawah pengajaran seorang guru. Tetapi Vriddhagoutama tahu dan hafal dengan beberapa mantra dimana dia selalu merapalkannya setiap hari. Dia juga menyembah dewa Agni.

Saat dia tumbuh sedikit tua, dia melakukan perjalanan keliling dunia. Dia mengunjungi banyak tempat dan bertemu banyak orang. Karena dia cacat, dia tidak menikah. Siapa yang mau menikah dengan orang yang buruk rupa.

Dalam perjalanannya dia akhirnya sampai di sebuah gunung bernama Shitagiri. Dia menemukan gua yang indah di gunung tersebut. Dia masuk ke dalam gua dan menemukan seorang wanita tua di dalam gua tersebut. Wanita itu terlihat jelas sudah lama tinggal di dalam gua itu. Tubuhnya kurus seperti tidak terurus karena melakukan tapasya yang keras.

Vriddhagoutama kemudian bergerak untuk menyentuh kaki wanita yang terhormat itu, tetapi wanita itu menahannya. "Tolong jangan sentuh kaki saya. Anda adalah guru saya. Apakah guru pernah memberi hormat kepada muridnya?", kata wanita itu.

Vriddhagoutama sangatlah terkejut mendengar kata-kata itu. "Ini adalah pertama kalinya saya bertemu anda. Bagaimana mana mungkin saya bisa menjadi guru anda? Anda lebih tua dari saya. Selain itu saya tidak pernah belajar apapun dan anda adalah jelas seorang pertapa yang terhormat. Kata-kata anda sangat membuat saya bingung", kata Vriddhagoutama.

"Biarkan saya menceritakan sebuah cerita walaupun anda tidak mengerti. Suatu hari ada seorang pangeran yang tampan dan berani yang bernama Ritadwaja. Dia adalah putra dari Arshtishena. Ritadwaja pergi berburu ke hutan dan akhirnya sampai di gua yang dalam. Disanalah dia bertemu dengan seorang Apsara bernama Sushyama. Mereka berdua saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Tetapi akhirnya Ritadwaja harus kembali pulang dan Sushyama melahirkan anak perempuan disana. Sushyama kemudian meninggalkan anak perempuannya sendiri di dalam gua dengan perintahnya siapa pun laki-laki pertama yang masuk ke dalam gua tersebut akan menjadi suaminya. Anak perempuan itulah yang sekarang menjadi wanita tua yang ada di hadapan Vriddhagoutama. Ritadwaja memerintah selama delapan puluh ribu tahun dan putra Ritadwaja memerintah selama sepuluh ribu tahun. Berarti putri Sushyama itu telah tinggal di dalam gua itu selama sembilan puluh ribu tahun. Sekarang lihat, anda adalah suami saya. Apakah seorang suami bukan berarti seorang guru?", kata wanita tua itu.

"Apa yang kamu katakan sangatlah tidak mungkin terjadi. Saya berumur sepuluh ribu tahun. Dan anda berumur sembilan puluh ribu tahun. Bagaimana kita dapat menikah? Saya tampak seperti anakmu nantinya", kata Vriddhagoutama.

"Jika anda tidak menikahi saya, saya akan bunuh diri", kata wanita tua itu.

"Tetapi saya buruk rupa. Jika saya tampan dan terpelajar, saya pasti akan menikahimu", kata Vriddhagoutama.

"Melalui tapasya saya, saya telah disenangi oleh Dewi Saraswati, yang merupakan penguasa ilmu pengetahuan. Beliau akan membuatmu terpelajar. Dan saya juga disenangi oleh Dewa Baruna yang akan membuatmu tampan", kata wanita tua itu.

Vriddhagoutama kemudian menjadi tampan dan terpelajar. Mereka pun akhirnya menikah dan hidup bahagia di dalam gua.

Suatu hari, berbagai pertapa datang mengunjungi pasangan tersebut. Di antara mereka adalah rsi Wasista dan Wamadewa. Ada juga rsi yang masih muda, yang ilmu pengetahuannya masih belum cukup banyak. Para rsi muda tertawa melihat pasangan pria tampan Vriddhagoutama dan wanita tua itu.

"Siapa pria ini? Apakah dia anakmu apa cucumu?", tanya para rsi muda kepada wanita tua itu.

Para rsi muda itu kemudian pergi, meninggalkan rasa malu pada pasangan tersebut. Pasangan itu kemudian bertanya kepada rsi Agastya mengenai rasa malunya tersebut. Rsi Agastya menyarankan agar mereka pergi mandi di sungai Ganga Goutami. Sungai tersebut merupakan sungai yang sangat sakral sehingga dapat mengabulkan segala keinginan. Pasangan tersebut melakukan apa yang rsi Agastya sarankan dan berdoa kepada Wisnu dan Siwa. Dengan ajaib, wanita tua itu mendadak berubah menjadi muda dan cantik. Tempat di pinggir sungai tempat keajaiban itu terjadi sekarang menjadi tirtha (tempat suci) yang diberi nama Vriddhasangama.




Tuesday, October 15, 2019

Kisah Raja Harischandra

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Dalam dinasti Ikshvaku, ada seorang raja bernama Harischandra. Harischandra tidak memiliki putra. Suatu hari dua orang rsi bernama Narada dan Parwata datang mengunjungi Harischandra dan mengatakan kepadanya bahwa dia akan masuk ke neraka jika dia tidak memiliki seorang putra.


"Bagaimana saya bisa mendapatkan seorang putra?" tanya Harischandra.


"Pergilah ke tepi Gangga Goutamai. Berdoa kepada dewa Baruna di sana. Kami yakin bahwa Baruna akan memberi Anda seorang putra", jawab para rsi.


Harischandra mulai memuja Baruna dengan doanya dan meminta seorang putra.


"Anda akan memiliki putra. Tapi ada syaratnya. Anda harus secara teratur menghaturkan yajna untuk menghormati saya dan Anda harus mengorbankan putra Anda dalam yajna tersebut. Sekarang katakan jika syarat ini dapat Anda terima", kata Baruna.


"Ya", jawab Harischandra.


Pada waktunya, Harischandra memiliki seorang putra yang bernama Rohita.


Baruna mendatangi Harischandra dan bertanya, "Bagaimana dengan yajna untuk menghormatiku?"


"Tolong biarkan dia hidup sampai tumbuh giginya. Hewan akan dikorbankan sebagai gantinya", jawab Harischandra.


Baruna menunggu sampai gigi sang putra tumbuh dan kemudian kembali lagi ketika Rohita berusia tujuh tahun. "Bagaimana dengan yajna untuk menghormatiku?"


"Ini yang tumbuh hanya gigi susu. Tidak seperti binatang yang saya korbankan. Harap tunggu sampai gigi yang layak tumbuh", jawab Harischandra.


Baruna kembali lagi ketika anak itu tumbuh gigi yang layak, "Bagaimana dengan yajna untuk menghormatiku?"


"Dia adalah putra seorang ksatria (kasta kedua dari empat kelas golongan masyarakat). Namun pelatihannya dalam seni pertempuran belum dimulai. Dia tidak bisa disebut seorang ksatria apabila dia tidak tahu cara bertarung. Berarti dia adalah pria yang tidak lengkap. Apakah Anda benar-benar menginginkan pria yang tidak lengkap sebagai pengorbanan?", jawab Harischandra.


Setelah beberapa tahun berlalu, Rohita menjadi ahli dalam seni bertarung dan diangkat sebagai pewaris (yuwaraja) di kerajaan. Usianya saat itu enam belas tahun.


Baruna muncul lagi dan bertanya, "Bagaimana dengan yajna untuk menghormatiku?"


Kali ini seluruh percakapan terjadi di depan sang pangeran dan Rohita turun tangan sebelum Harischandra bisa mengatakan apa-apa. "Ayah, aku sudah memutuskan untuk melakukan yajna untuk Wisnu. Berikan saya izin untuk menyelesaikannya terlebih dahulu. Setelah itu, lakukan apa yang Anda mau".


Rohita kemudian pergi ke hutan. Sementara itu, Baruna sudah habis kesabarannya dan dia membuat Harischandra menderita sakit perut yang sangat menyakitkan. Berita tentang penyakit ayahnya ini akhirnya sampai ke Rohita yang sedang berada di hutan. Di hutan, Rohita bertemu seorang rsi bernama Ajigarata. Rsi itu sangat miskin dan bersama dengan istri dan ketiga putranya, mereka kelaparan.


"Apakah Anda akan menjual salah satu dari tiga putra Anda kepada saya? Saya membutuhkan seorang putra untuk pengorbanan", tanya Rohita.


"Anda dapat memilikinya. Namanya adalah Shunahshefa. Harganya adalah seribu sapi, seribu koin emas, seribu potong pakaian", jawab sang rsi.


Rohita pun membayar sesuai jumlah yang diminta dan membawa pulang Shunahshefa kehadapan Harischandra.


"Saya tidak bisa melakukan ini. Adalah tugas raja untuk melindungi para brahmana. Bagaimana kita bisa mengorbankan putra seorang brahmana? Lebih baik mati saja. Pergi dan kembalikan Shunahshefa kepada ayahnya", kata Harischandra.


Saat itu suara ilahi terdengar dari surga. Suara itu berkata, "Tidak perlu ada orang mati. Bawa Shunahshefa ke tepi Gangga Goutami dan lakukan yajna ke Baruna di sana. Goutami Gangga adalah sungai suci sehingga tidak ada pengorbanan manusia diperlukan jika yajna dilakukan di sana".


Akhirnya Harischandra melakukan apa yang suara ilahi itu katakan dan Baruna akhirnya menjadi senang. Sedangkan Shunahshefa, ia akhirnya diangkat anak oleh Wiswamitra sebagai putranya.





Tuesday, October 8, 2019

Kisah Dewa Kubera

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Kubera adalah putra tertua dari rsi Wishrawa. Wishrawa memiliki dua istri. Istri pertama melahirkan Kubera. Istri kedua adalah seorang wanita raksasa dan melahirkan Rahwana, Kumbakarna, dan Wibisana. Kubera dulu memerintah di Kerajaan Lanka dan hubungannya dengan sepupunya tersebut sangatlah baik. Tetapi ibu Rahwana tidak menyukai putra-putranya bergaul dengan Kubera.

Dia memanggil putra-putranya dan berkata, "Apa yang kalian pikirkan? Kenapa kalian membuatku sakit hati? Kalian adalah raksasa dan Kubera adalah dewa. Apakah pantas kalian baik dengannya? Hubungan antara dewa dan raksasa adalah permusuhan. Coba kalian lihat kekayaan Kubera yang ia tunjukkan. Apakah kalian punya sesuatu seperti itu untuk ditunjukkan? Lakukanlah sesuatu untuk meningkatkan status kalian sendiri".

Karena itu diperintahkan oleh ibu mereka, Rawana, Kumbhakarna dan wibhishana pergi ke hutan untuk melakukan tapasya. Tapasya mereka membuat Brahma senang. Mereka menginginkan anugerah agar mereka mendapatkan kerajaan Lanka, Rahwana juga memperoleh anugerah bahwa ia akan menjadi sangat kuat.

Melalui berkat dan anugerah dewa Brahma, para raksasa mulai menyerang Kubera dan mengalahkannya. Mereka mengusir Kubera dari Lanka. Kubera memiliki wimana yang indah bernama pushpaka. Wimana itu juga berhasil direbut oleh Rahwana. Rahwana juga mengumumkan bahwa siapa pun yang memberi perlindungan kepada Kubera akan dibunuh. Ini berarti bahwa tidak ada yang berani memberikan perlindungan kepada Kubera.

Kubera meminta saran kepada kakeknya yang bernama Pulastya. Pulastya menyuruhnya pergi ke tepi Gangga Goutami dan berdoa kepada Siwa di sana. Siwa muncul di hadapan Kubera dan memberkatinya. Beliau memberi anugerah bahwa Kubera akan menjadi dewa dari semua kekayaan.

Saturday, September 28, 2019

Kisah Raja Shveta

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Di zaman satya yuga dulu ada seorang raja bernama Shveta. Dia adalah raja yang baik sehingga pada masa pemerintahannya orang-orang hidup selama sepuluh ribu tahun. Tidak ada yang meninggal. Umur panjang tinggi dan tidak ada kematian bayi.

Tapi kemudian ada seorang rsi bernama Kapalagoutama. Sayangnya, putra sang rsi itu meninggal ketika masih bayi. Sang rsi kemudian membawa jenazah putranya ke Shveta dan raja memutuskan bahwa jika dia tidak bisa membawa anak sang rsi tersebut hidup kembali dalam waktu seminggu, dia akan membakar dirinya sendiri dalam api. Dengan demikian dia telah mengambil sumpah. Raja Shveta menyembah Siwa dengan seribu dan seratus bunga teratai biru. Siwa muncul di hadapan raja dan memberikan anugerah bahwa putra bayi itu mungkin dihidupkan kembali.

Raja Shveta memerintah selama seribu tahun. Dia juga membangun sebuah kuil untuk Wisnu di Purushottama kshetra. Kuil yang dibangun oleh Indradyumna dikenal sebagai kuil Jagannatha. Kuil Shveta tidak jauh dari kuil Jagannatha ini dan dikenal sebagai kuil Shvetamadhava. Gambaran tentang seperti apa di kuil ini adalah seputih bulan.


Friday, September 27, 2019

Kisah Rsi Markandeya

Purana


Brahma Purana


Kitab Suci Agama Hindu


Bertahun-tahun yang lalu, kehancuran besar (pralaya) terjadi. Bumi diselimuti kegelapan dan tidak ada yang bisa dilihat. Tidak ada matahari ataupun bulan. Petir dan guntur menghancurkan gunung dan pohon. Terdapat hujan meteor. Danau dan sungai mengering. Seluruh bumi terbakar dengan api dan nyala api tersebut mencapai ke dunia bawah. Semua makhluk hidup binasa dalam api ini, termasuk para dewa dan iblis.

Ada seorang rsi bernama Markandeya. Sementara semua pralaya ini terjadi, Markandeya sibuk bermeditasi. Karena kekuatan tapasya Markandeya, api tidak berani menyentuhnya. Tetapi sebenarnya bahwa Markandeya takut dengan api yang mengamuk di sekelilingnya. Dia menderita kelaparan dan kehausan dan melupakan semua tentang tapasya-nya. Bibir dan tenggorokannya mengering karena takut. Markandeya akhirnya pergi dan menemukan bahwa ada pohon beringin yang tidak tersentuh oleh semua kerusakan (pralaya) ini. Dia akhirnya berlindung di bawah pohon beringin ini dan mulai berdoa kepada Wisnu.

Awan berkumpul di langit. Awan tebal dan gelap menyebar ke seluruh bumi. Dan mulai turun hujan. Air ada di mana-mana dan bumi banjir. Air memadamkan api. Hujan terus menerus selama dua belas tahun. Lautan naik membanjiri pantai dan gunung-gunung. Wisnu tidur di atas air.

Markandeya tidak tahu harus berbuat apa. Ada air di mana-mana dan dia terapung di atas air. Namun dia terus berdoa kepada Wisnu.

Wisnu akhirnya berbicara kepada Markandeya," Jangan takut, Markandeya. Anda berbakti kepada saya dan saya akan melindungi Anda".

Markandeya tidak menyadari bahwa Wisnu yang berbicara, "Siapa yang berani memanggilku demikian? Akulah Markandeya yang agung, yang diberkati oleh Brahma sendiri".

Tapi Markandeya tetap tidak bisa melihat siapa pun di mana pun. Dari mana suara itu berasal? Apakah semua itu hanya ilusi? Tidak tahu harus berbuat apa, ia mulai berdoa lagi kepada Wisnu. Tiba-tiba dia melihat pohon beringin mengapung di atas air. Tempat tidur emas terdapat di cabang-cabang pohon dan di tempat tidur itu ada seorang anak lelaki kecil. Markandeya sangat terkejut melihat bocah kecil itu mengambang di tengah banjir ini. Dia sangat bingung dengan ilusinya sehingga dia tidak menyadari bahwa bocah lelaki ini tidak lain adalah Wisnu.

Bocah itu berbicara kepada Markandeya, "Kamu lelah? Anda mencari perlindungan? Masuklah ke dalam tubuhku dan istirahatlah".

Markandeya sangat bingung sehingga, sebelum dia bisa menjawab, dia memasuki tubuh bocah itu melalui mulut. Di dalam perut bocah itu Markandeya menemukan seluruh dunia tujuh wilayah dan tujuh samudera. Gunung-gunung dan kerajaan-kerajaan semuanya ada di sana. Begitu juga semua makhluk hidup.

Markandeya tidak tahu harus membuat apa dari semua ini. Dia mulai berdoa kepada Wisnu. Tidak lama setelah dia mulai, dia keluar dari mulut bocah itu. Wisnu sekarang muncul di hadapannya dan memberkatinya. Rsi itu telah menghabiskan waktu seribu tahun dengan berdoa kepada Wisnu. Wisnu kemudian bertanya, "Saya ingin memberi Anda sebuah anugerah. Apa keinginanmu?"

Saya ingin membangun sebuah kuil untuk Siwa di Purushottama kshetra, jawab Markandeya. Ini akan membuktikan kepada semua orang bahwa Wisnu dan Siwa benar-benar satu dan sama.

Wisnu memberikan anugerah dan Markandeya membangun sebuah kuil untuk Siwa yang dikenal sebagai Bhuvaneshvara (Penguasa Dunia).


Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci)

Purana Agni Purana Kitab Suci Agama Hindu Wamana Awatara (Bentuk Inkarnasi Kurcaci) Prahlada memiliki cucu yang sangat kuat bernama Vali. Sa...